Novel

Chapter 2: The First Lever

Arga menggunakan bukti manipulasi Bu Ratna untuk menahan tender renovasi dapur Wiratama. Saat pihak lelang menelepon untuk verifikasi, Arga berhasil mengunci posisi tawar dengan melibatkan Maya sebagai pemegang salinan bukti, memaksa Bu Ratna menghadapi ancaman material yang nyata di depan staf dan pihak luar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

The First Lever

Belum satu jam sejak Arga menemukan map penilaian itu, ruang rapat samping dapur rumah makan Wiratama sudah berubah menjadi tempat orang-orang belajar takut pada tanda tangan Bu Ratna sendiri.

Arga berdiri dekat meja stainless yang dingin, satu tangan menahan map cokelat di bawah lengan. Di depannya, Bu Ratna menutup pintu lebih keras dari perlu, seolah suara kayu bisa menggantikan wewenang. Dimas sudah setengah berdiri, dagunya maju, ingin memaksa ruangan kembali ke kebiasaan lama: Arga diam, keluarga bicara.

“Keluar, Arga,” kata Bu Ratna tanpa menoleh. “Ini urusan tender. Kamu tidak punya posisi di sini.”

Arga tidak membalas. Ia menatap meja rapat yang penuh map, daftar stok, dan catatan renovasi dapur. Di sudut kanan ada amplop bening berstempel merah, masih terselip di bawah buku administrasi. Ia menariknya keluar perlahan. Bukan dengan gaya menantang, melainkan seperti orang yang mengambil barang yang memang sedang ia cari.

Dimas mendecak. “Lihat, mulai lagi. Dia pikir nemu satu map lalu bisa sok tahu tender keluarga.”

Arga membuka halaman tengah map penilaian itu. Ada stempel arsip, nomor registrasi, dan paraf yang berulang di tempat yang sama. Lembar kedua memuat nilai aset dapur lama, tapi angka di situ tidak cocok dengan catatan yang baru saja dipindahkan staf administrasi ke meja. Selisihnya kecil. Cukup kecil untuk dilewatkan orang yang bicara keras, tapi cukup besar untuk menjatuhkan tender kalau dibawa ke jalur resmi.

Bu Ratna melihat gerakan mata Arga. Rahangnya mengeras.

“Kalau kamu mau bikin gaduh, lakukan di luar,” ujarnya. “Tender ini besok siang tutup. Jangan main-main dengan nama keluarga Wiratama.”

Telepon di atas meja bergetar. Layar menyala. Nama kontak tidak dikenal. Staf administrasi yang berdiri dekat sisi ruangan langsung tegang.

Bu Ratna meraih gagang telepon, tapi suara perempuan dari seberang sudah lebih dulu masuk lewat speaker.

“Selamat siang. Ini dari unit verifikasi lelang kota. Kami mendapati ketidaksesuaian pada berkas penilaian renovasi dapur Wiratama. Pemegang berkas asli wajib mengonfirmasi akses dokumen sebelum penutupan besok siang.”

Ruangan itu senyap. Dimas menatap Bu Ratna, lalu Arga, seperti baru sadar ada lubang di lantai di bawah kakinya.

“Maaf?” suara Bu Ratna tetap datar, tapi satu ujung bibirnya kaku. “Kami sudah menyerahkan semua dokumen yang diminta.”

“Bukan semua,” jawab suara di speaker. “Ada satu berkas yang hanya bisa dibuka oleh pihak yang tertera di arsip asli. Kami butuh verifikasi langsung. Jika tidak, status tender sementara ditahan.”

Arga menutup map perlahan. Ia tidak tersenyum. “Berarti mereka sudah lihat selisihnya.”

Bu Ratna memotong. “Kamu jangan sok tahu. Itu urusan administrasi.”

“Kalau administrasi, mestinya tidak sampai verifikasi kota menelepon ke sini.” Arga menggeser amplop bening itu ke sisi meja, cukup dekat dengan staf administrasi agar bisa melihat stempel dan nomor registrasinya. “Nomor salinan ini cocok dengan catatan arsip. Tapi halaman penilaian yang Ibu tanda tangani tidak cocok dengan angka penerimaan gudang. Dua angka, dua dokumen, satu tanda tangan.”

Staf administrasi yang tadi pura-pura sibuk akhirnya menelan ludah. Ia mengenali format itu. Di rumah makan lama seperti Wiratama, orang bisa bohong dengan wajah, tapi tidak dengan cap dan waktu.

Bu Ratna memejam sesaat. Bukan karena kalah bicara, melainkan karena ia tahu kini ada saksi.

Dimas melangkah ke depan, mencoba menutup celah dengan volume. “Arga, kamu jangan bikin rumor di depan staf. Kalau ada yang salah, itu pasti salah cetak.”

Arga menoleh padanya, tenang. “Kalau salah cetak, kenapa nomor registrasi pada lembar asli masuk ke berkas lelang, tapi tidak ada di salinan yang Ibu pegang?”

Maya, yang sejak tadi berdiri dekat pintu, baru bicara. Suaranya kecil, tapi ia memilih kata-kata dengan hati-hati. “Bu, biarkan Arga jawab dulu. Kalau pihak lelang menelepon begini, berarti memang ada masalah.”

Bu Ratna menoleh cepat ke anaknya. “Kamu sekarang ikut dia?”

Maya tidak mundur. “Saya ikut yang benar.”

Arga memanfaatkan hening itu. Ia membaca satu paragraf di map, lalu mengangkat matanya ke staf administrasi. “Lembar penilaian asli memuat tanggal inspeksi pukul delapan dua puluh enam. Yang diserahkan ke lelang diganti dengan tanggal sembilan lewat. Ada paraf yang dipindah, tapi stempel gudang tidak ikut. Itu yang mereka curigai.”

Pihak lelang di speaker kembali masuk, dingin dan resmi. “Kami minta pemegang dokumen asli dan pihak yang menandatangani hadir untuk klarifikasi sore ini atau mengirim salinan pendukung sebelum pukul dua belas besok. Bila tidak, proses tender sementara kami bekukan.”

Bu Ratna paham hal yang sama. Wajahnya tidak meledak; justru mengeras. Setelah detik yang sangat singkat, ia memutar tubuh ke arah kepala gudang yang baru masuk setengah langkah di ambang pintu belakang.

“Mulai sekarang, gudang arsip tidak boleh dimasuki tanpa izin saya. Kunci pindah ke meja saya.”

Bu Ratna belum selesai. “Dan bagian dapur yang biasanya dikelola menantu itu, stop pasokannya. Jangan ada bahan keluar sebelum saya periksa ulang. Saya tidak mau ada map atau lembar tambahan yang bisa dipakai main belakang.”

Perintah itu bukan ancaman kosong. Jam makan siang sebentar lagi. Kalau bahan untuk inspeksi besok terhambat, bagian renovasi akan terlambat, pekerja mandor akan menunggu, dan biaya mulai menetes dari celah yang sama.

Dimas segera menangkap ritme ibunya. “Betul. Kalau dia mau sibuk cari-cari celah, ya rasakan juga diperlakukan seperti orang luar.”

Arga menoleh ke arah pintu belakang. Di luar koridor, suara panci dan sendok dari dapur lama masih berjalan. Rumah makan leluhur itu pernah membuat keluarga Wiratama berdiri tegak di kawasan ini; sekarang, justru dapurnya dipakai untuk mengukur siapa yang masih dianggap keluarga dan siapa yang akan dipotong seperti biaya tambahan.

Bu Ratna menunjuk pintu. “Keluar, Arga. Serahkan map itu ke saya. Sekarang.”

Arga tidak bergerak. Ia tahu kalau ia menyerahkan map asli begitu saja, mereka bisa mengunci ulang narasi. Tapi kalau ia menahan terlalu lama, Bu Ratna akan memakai akses rumah dan dapur untuk memutus semua jalurnya.

Arga membuka map sedikit lebih lebar, cukup untuk memperlihatkan lembar kedua kepada Maya, bukan kepada Bu Ratna. Lembar itu adalah salinan ringkas yang ia buat dari data arsip, cap waktu, dan paraf petugas.

“Maya,” katanya pendek. “Simpan ini. Kalau gudang ditutup, bawa ke lemari belakang kantor administrasi. Jangan taruh di meja siapa pun.”

Maya terdiam. Di wajahnya ada ragu yang lama, tapi kali ini ia tidak menolak. Ia meraih lembar itu dengan ujung jari, seperti sedang mengambil benda yang bisa mengubah nasib keluarga sendiri.

“Jangan drama,” kata Dimas akhirnya, mencoba menutup retak yang sudah terbuka. “Maya, kembalikan.”

Maya memegang kertas itu lebih kuat. “Kalau memang tidak salah, kenapa takut disimpan?”

Arga mengambil ponselnya sendiri, lalu menekan nomor yang tadi masuk dari lelang. Ia menyebutkan ulang nomor registrasi, nomor aset, dan nama penandatangan yang tercantum di halaman asli. Semua data itu cocok.

“Baik,” kata suara itu. “Kalau begitu, kirimkan salinan pendukung ke alamat verifikasi sebelum tenggat besok siang. Selama itu belum masuk, tender rumah makan Wiratama kami tandai tertahan.”

Di telinga Bu Ratna, kata itu pasti terdengar seperti awal kejatuhan. Di telinga Arga, itu lebih dekat ke pintu yang terbuka beberapa senti. Ia menutup panggilan, lalu menatap Bu Ratna untuk pertama kalinya tanpa tunduk.

“Kalau tender ditahan,” katanya pelan, “berarti yang tanda tangan harus menjawab sendiri.”

Bu Ratna tidak langsung membalas. Ia memandangi map di tangan Arga, lalu tangan Maya yang menggenggam salinan, lalu staf administrasi yang pura-pura menunduk lebih rendah dari sebelumnya. Ruangan itu sudah berubah. Tidak ada teriakan yang bisa mengembalikannya ke titik semula.

Dan di sela diam itu, Arga melangkah ke samping, membiarkan semua orang luar yang mendengar melalui speaker memahami satu hal: rumah makan Wiratama tidak lagi bisa menutup masalahnya dengan nama besar. Sekarang, masalah itu punya berkas. Punya nomor. Punya tanda tangan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced