Novel

Chapter 1: The Public Slight

Arga Pratama menghadapi penghinaan publik saat keluarga mencoba menyingkirkannya dari tender renovasi dapur. Arga membuktikan ketelitiannya dengan mengungkap ketidaksiapan berkas keluarga, lalu menemukan map penilaian aset yang sengaja disembunyikan Bu Ratna. Bab berakhir dengan panggilan dari pihak lelang yang menuntut verifikasi dokumen, menempatkan Bu Ratna dalam posisi terancam.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

The Public Slight

Ruang rapat di lantai dua Rumah Makan Wiratama terasa sesak, bukan karena ukurannya, melainkan karena tekanan udara yang sengaja diciptakan. Arga Pratama berdiri di sudut, memegang map cokelat tipis. Di meja utama, Bu Ratna duduk dengan punggung tegak, tangannya menekan dokumen tender renovasi seolah itu adalah benteng terakhir keluarga.

Di seberang meja, Dimas—adik ipar Arga—mengetuk-ngetukkan ujung pulpen ke permukaan meja kayu jati. Suaranya ritmis, mengganggu, dan dirancang untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali.

"Biar jelas saja," ujar Dimas, matanya melirik Arga dengan seringai tipis. "Untuk tender renovasi dapur ini, hanya keluarga inti yang berhak membubuhkan tanda tangan. Menantu yang hanya numpang makan tidak punya posisi tawar di sini."

Staf administrasi yang duduk di dekat laptop menunduk dalam, menghindari kontak mata. Tidak ada yang berani membela Arga. Di rumah ini, martabat Arga adalah komoditas yang bisa diperdagangkan demi kenyamanan.

Maya, istri Arga, berdiri di dekat rak arsip. Wajahnya pucat, tangannya meremas ujung blus. Ia tahu ini bukan sekadar hinaan; ini adalah upaya sistematis untuk menghapus peran Arga dari papan keputusan sebelum tender kota ditutup besok siang.

"Arga sudah cukup membantu di belakang," sahut Bu Ratna tanpa menoleh. "Jangan dibebani urusan yang bukan porsinya. Kalau ada selisih harga atau masalah administrasi, orang luar akan menganggap rumah makan ini tidak profesional."

Arga tidak membantah. Ia tidak membanting map. Ia hanya melangkah maju, meletakkan map cokelatnya tepat di depan Bu Ratna. Gerakannya tenang, presisi, dan tidak menunjukkan emosi yang diharapkan Dimas.

"Kalau begitu, Bu Ratna pasti sudah memeriksa lembar pengantar," suara Arga datar. "Penerima resmi di dokumen itu bukan keluarga inti. Dan tanggal pengiriman mundur dua hari dari notulen rapat minggu lalu."

Ruangan mendadak sunyi. Dimas berhenti mengetuk pulpen. Bu Ratna menatap Arga, matanya menyipit. Arga bukan sekadar menantu yang diam; ia adalah orang yang membaca berkas sampai ke catatan kaki yang paling tidak penting.

"Dari mana kamu tahu itu?" tanya Maya, suaranya bergetar.

"Karena jika dokumen ini masuk ke pihak lelang dengan data yang tidak sinkron, mereka akan menunda tender. Atau lebih buruk: membatalkannya," jawab Arga.

Bu Ratna memukul meja pelan. "Cukup. Kamu terlalu banyak ikut campur. Turun ke dapur. Ambil air panas untuk tamu. Urusan tender adalah urusan mereka yang paham bisnis."

Itu adalah perintah pengusiran yang telak. Arga mengangguk, mengambil termos kosong, dan turun ke dapur. Aroma kaldu tulang dan minyak panas menyambutnya—bau yang dulu membangun kejayaan keluarga, kini menjadi saksi bisu penghinaannya.

Di dapur, Arga tidak langsung bekerja. Ia memperhatikan meja kerja lipat di dekat pintu. Map penilaian aset yang dibawa Pak Hendra Suroto tadi pagi—dokumen yang menentukan nilai renovasi—telah hilang. Tidak ada di meja rapat, tidak ada di ruang arsip utama.

Arga menyelinap ke lorong belakang yang sempit. Di balik tumpukan kotak nota lelang, ia menemukan map itu terselip. Ia membukanya sedikit. Di halaman terakhir, ada tanda tangan Bu Ratna yang menempel pada catatan nilai aset. Itu adalah bukti bahwa Bu Ratna secara sadar menyetujui manipulasi data.

Saat ia hendak menutup map, suara langkah kaki mendekat. Maya muncul di ambang lorong, wajahnya penuh kecemasan.

"Dimas mendapat telepon dari Pak Hendra semalam," bisik Maya. "Ibu menyembunyikan map itu agar tidak ada yang tahu harga aslinya."

Arga menatap Maya, lalu menatap map di tangannya. "Dengan tanda tangan ini, Ibu bisa digugat jika terjadi sengketa tender. Ini bukan lagi urusan keluarga, Maya. Ini urusan hukum."

Sebelum Maya sempat menjawab, ponsel di meja arsip berdering nyaring. Pak Hendra, yang entah sejak kapan sudah berada di ruang belakang bersama Dimas dan Bu Ratna, mengangkat telepon tersebut. Wajahnya berubah drastis saat mendengar suara di seberang sana.

"Ya, betul… kami dari pihak lelang," suara Pak Hendra terdengar dingin. "Ada dokumen yang hanya bisa dibuka oleh pihak yang tertera di berkas asli."

Bu Ratna membeku. Arga berdiri di balik bayang-bayang lorong, memegang map yang akan mengubah segalanya. Permainan baru saja dimulai.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced