Tier yang Lebih Tinggi
Debu sisa duel di Arena Zenith belum sepenuhnya mengendap saat suara sepatu bot logam menghantam lantai batu dengan ritme yang mengancam. Kaelen, yang napasnya masih tersengal pasca-kemenangan atas Aris, mendongak. Di hadapannya berdiri tiga orang dengan jubah abu-abu—para penagih utang resmi akademi.
"Kaelen, peringkat 120," ujar pria di depan, suaranya sedatar bilah pedang. "Berdasarkan audit fisik yang dipercepat, utangmu tercatat sebesar 5.000 koin emas. Karena asetmu tidak mencukupi, kami diperintahkan menyita artefak pemetaan energi yang kau gunakan di lapangan."
Kaelen mencengkeram artefak itu di balik jubahnya. Jika benda ini disita sekarang, aksesnya terhadap pola fluktuasi energi akademi akan lenyap, dan audit fisik yang dilakukan dewan dalam hitungan menit akan menjadi surat kematiannya. Ia tidak bisa membiarkan bukti korupsi akademi yang dipetakan artefak ini jatuh ke tangan mereka.
"Segel otoritas dewan yang disita Instruktur Vane dari Aris," Kaelen memotong, suaranya tenang meski jantungnya berdegup kencang. Ia mengeluarkan segel yang ia curi dengan cekatan saat kekacauan pasca-duel terjadi. "Segel ini memberi hak kepada pemegangnya untuk menangguhkan proses audit selama satu jam demi verifikasi administratif."
Para penagih utang itu terdiam. Mata mereka terpaku pada segel di tangan Kaelen—bukti fisik otoritas yang seharusnya tidak berada di tangan seorang pecundang peringkat 120. Kaelen memutar balik tubuhnya, meninggalkan mereka yang masih terpaku dalam kebingungan administratif, dan berlari menuju sayap administrasi.
Lonceng menara Akademi Zenith berdentang sekali, memecah kesunyian malam dengan nada rendah yang mengancam. Di sakunya, segel otoritas tersebut terasa dingin dan berat, tiket masuk menuju pusat saraf yang selama ini menghisap energi para murid. Kaelen menyelinap ke Ruang Arsip Terlarang. Begitu pintu batu bergeser terbuka, ia menempelkan segel curian tersebut ke panel kontrol utama. Akses Diterima.
Sistem keamanan akademi mulai memindai setiap inci ruangan. Kaelen bergerak cepat, menavigasi barisan rak kristal memori. Ia tidak mencari teknik bela diri; ia mencari jawaban mengapa setiap murid di akademi ini seolah ditekan untuk mencapai batas maksimal hanya untuk kemudian layu. Jari Kaelen menyentuh sebuah kristal yang bergetar hebat. Saat ia menarik datanya, layar proyeksi menampilkan visualisasi yang mengerikan: akademi bukanlah tempat pendidikan, melainkan sebuah jaring raksasa. Energi yang diserap dari fluktuasi kultivasi para murid dialirkan melalui pipa-pipa kristal langsung menuju menara para tetua. Ia telah menemukan bukti bahwa akademi adalah penjara bagi kultivator berbakat.
Ia mengunduh data tersebut ke dalam artefak kunonya. Kini, alat pemetaan itu bukan lagi sekadar alat ukur, melainkan bukti kejahatan sekte yang bisa meruntuhkan reputasi dewan.
Saat keluar dari arsip, Kaelen dicegat oleh Aris dan dewan pengawas. "Serahkan artefak itu, Kaelen," Aris memecah keheningan dengan suara bergetar. "Dewan sudah siap melakukan audit fisik sekarang juga. Kau akan didepak dari akademi malam ini!"
Kaelen tersenyum tipis, meski tangannya menggenggam erat artefak yang kini berisi data terlarang. "Audit fisik? Kalian ingin mengaudit energi di tubuhku, atau kalian takut aku akan memaparkan ke mana larinya aliran energi dari Ruang Arsip yang baru saja kumasuki?"
Ruangan itu mendadak sunyi. Salah satu anggota Dewan mencondongkan tubuh ke depan, matanya menyipit penuh ancaman. Namun, sebelum mereka sempat bertindak, suara dentang logam yang memekakkan telinga menggema ke seluruh penjuru akademi. Lonceng ujian tingkat nasional telah berbunyi lebih awal. Itu bukan tanda dimulainya kompetisi, melainkan protokol pembersihan total.
"Mereka tidak akan membiarkanmu keluar dengan data itu," bisik Sena yang tiba-tiba muncul di balik bayang-bayang pilar gerbang. "Lonceng itu adalah hukuman mati bagi siapa pun yang tahu rahasia di balik sistem ini. Mereka telah mengunci gerbang."
Kaelen menatap gerbang perunggu yang mulai membeku oleh segel isolasi. Ia harus memilih: menyerahkan diri untuk diaudit dan mati sebagai pion, atau menembus gerbang dan menjadi buronan di dunia luar. Dengan satu tarikan napas, ia memacu energinya, bersiap untuk mendobrak batasan yang selama ini menahannya.