Novel

Chapter 10: Duel Puncak Zenith

Kaelen memenangkan duel peringkat melawan Aris dengan taktik arbitrase energi, namun kemenangan tersebut mengungkap bahwa Aris hanyalah pion dalam sistem yang lebih besar. Instruktur Vane menyita bukti keterlibatan dewan, sementara Kaelen menyadari bahwa akademi adalah penjara bagi kultivator berbakat.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Duel Puncak Zenith

Bau ozon dan keringat dingin memenuhi lorong bawah tanah menuju Arena Utama Zenith. Kaelen berjalan dengan langkah yang disengaja, meski di balik jubahnya, inti energinya berdenyut tidak stabil—sebuah konsekuensi dari penggunaan artefak penyedot energi yang dipaksa bekerja melampaui batas. Setiap detak jantungnya terasa seperti gesekan logam kasar, pengingat bahwa jika ia tidak memenangkan duel ini, keruntuhan kultivasi bukanlah sekadar ancaman, melainkan vonis.

Langkah Kaelen terhenti. Dua pria berseragam abu-abu dengan segel Dewan Akademi menghalangi jalannya. Salah satunya, seorang pria paruh baya dengan mata yang sedingin es, mengulurkan tangan terbuka. "Kaelen, serahkan artefak pemetaan energi yang kau gunakan di Sektor 9," perintah pria itu tanpa basa-basi. "Dewan telah menetapkan bahwa itu adalah aset akademi yang dicuri. Sebagai jaminan atas utang 5.000 koin emasmu, kami menyitanya sekarang. Tidak ada negosiasi sebelum duel."

Kaelen merasakan tekanan udara di lorong itu menipis. Ini bukan sekadar penagihan utang; ini adalah upaya sistematis untuk melucuti senjatanya sebelum ia berhadapan dengan Aris. Kaelen tidak mundur. Ia justru maju satu langkah, menatap mata utusan itu dengan ketenangan yang dibuat-buat. "Kalian ingin jaminan?" suaranya rendah. "Saya memiliki data fluktuasi Sektor 9 yang belum sempat saya serahkan ke Instruktur Vane. Jika artefak ini disita sekarang, data itu akan terhapus otomatis karena terkunci pada detak jantung pemiliknya. Apakah Dewan siap menanggung kerugian hilangnya pemetaan energi akademi karena ketidaksabaran kalian?"

Utusan itu tertegun. Kaelen melenggang melewatinya, meski ia tahu waktu audit fisik yang dipercepat menjadi 'segera' kini benar-benar mencekiknya.

Lonceng perunggu di Arena Utama Zenith berdentang sekali. Di hadapan ribuan pasang mata, Kaelen berdiri dengan inti energi yang berdenyut tidak stabil. Di depannya, Aris berdiri angkuh, memamerkan aura biru yang kental—hasil dari puluhan pil penstabil kelas atas. "Kau pikir artefak rusak itu cukup untuk menutupi hutangmu, Kaelen?" Aris menyeringai, menciptakan distorsi udara akibat tekanan energi murni. "Dewan sudah menunggu di luar arena untuk menyita segalanya."

Aris melesat maju, sebuah serangan telapak tangan yang masif, teknik tradisional Zenith yang kaku namun mematikan. Udara di sekitar arena berderak. Kaelen membiarkan pertahanannya terbuka lebar, sebuah umpan yang berbahaya. Saat serangan Aris hampir menghantam dadanya, Kaelen mengaktifkan artefak penyedot energi di pergelangan tangannya. Alih-alih menangkis, Kaelen menarik energi Aris ke dalam pusaran artefaknya, memutarbalikkan aliran energi lawan yang kaku menjadi momentum untuk serangan balik. Dengan satu sentakan presisi, Kaelen menghantam titik meridian Aris yang terbuka. Aris terlempar, energinya tersedot habis ke dalam artefak Kaelen, meninggalkan sang elit terkapar tak berdaya di lantai arena.

Debu arena masih menggantung saat Kaelen berdiri tegak. Hening menyelimuti akademi. Instruktur Vane melangkah masuk ke tengah arena, matanya dingin. "Peringkat 120," gumam Vane. "Kau telah menumbangkan pion, Kaelen. Tapi ingat, papan caturnya bukan milikmu."

Saat Aris terhuyung bangkit, sebuah benda kecil terjatuh dari lipatan jubahnya—sebuah segel logam hitam dengan ukiran otoritas tingkat tinggi. Sebelum Aris sempat meraihnya, Vane menginjak segel itu, menyembunyikannya dari publik. Namun, Kaelen melihatnya. Itu adalah kunci akses pengawas dewan. Vane mendekat, berbisik dingin, "Serahkan artefak pemetaan itu, Kaelen. Utangmu adalah rantai, dan kau baru saja menariknya lebih kencang."

Kaelen menatap tangga peringkat yang kini tampak lebih curam. Ia menang, namun Aris hanyalah bidak yang dikorbankan. Saat ia menatap segel yang tersembunyi di bawah sepatu Vane, Kaelen menyadari satu hal: akademi ini bukan sekadar sekolah, melainkan penjara yang dirancang untuk menguras bakat terbaik. Dan kini, ia memegang kunci untuk membukanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced