Manipulasi Peringkat
Layar kristal di Aula Bursa Akademi Zenith berkedip merah—tanda bahaya yang jarang terlihat bagi faksi dominan. Kaelen berdiri di sudut bayang-bayang, memperhatikan angka-angka yang meluncur jatuh. Saham dukungan untuk Aris, komoditas paling stabil di akademi, anjlok tiga puluh persen dalam hitungan menit setelah data fluktuasi energi Sektor 9 yang ia curi dari artefak kuno disebarkan melalui jaringan Sena.
"Data itu menghancurkan kredibilitasnya," bisik Sena. "Aris mengklaim kegagalannya dalam ujian lapangan adalah sabotase pihak luar. Tapi data yang kau sebarkan membuktikan itu adalah kesalahan fatal manajemen energinya sendiri." Di papan peringkat, nama Aris kini menunjukkan tanda peringatan audit. Para investor senior mulai menarik aset mereka secara masif, takut akan stigma kegagalan yang kini menempel pada faksi Aris.
Kaelen kembali ke asramanya dengan sisa koin yang tipis. Sensasi perih di inti energinya akibat penggunaan teknik terlarang terasa lebih berat daripada beban utang 5.000 koin emas yang melilit lehernya. Sebelum ia sempat meneguk pil penstabil, ketukan keras memenuhi pintu kayu asramanya.
"Kaelen, buka. Audit fisik dewan dipercepat. Kami tidak akan menunggu empat puluh delapan jam," suara bariton dingin dari balik pintu membuat napas Kaelen tertahan. Itu adalah perwakilan Dewan Disiplin. Dengan tangan gemetar, ia menyembunyikan artefak kuno zona luar di balik kompartemen rahasia lantai asrama, lalu menaburkan material penstabil kelas rendah ke permukaan meja untuk mengaburkan pembacaan energi sisa. Saat tiga orang berjubah perak masuk tanpa permisi, mata mereka memindai ruangan dengan kecurigaan yang tajam. Kaelen harus menahan napas, menjaga agar inti energinya yang retak tidak memancarkan fluktuasi yang bisa terdeteksi oleh sensor para pemeriksa.
Setelah para pemeriksa pergi dengan ancaman terselubung, Kaelen tidak membuang waktu. Di tengah aula utama yang bising oleh spekulasi pasar, ia berdiri tegak, memegang gulungan tantangan yang dibelinya dengan sisa koin terakhir. Aris terlihat pucat, reputasinya hancur.
"Peringkat 120 menantang peringkat 1," ucap Kaelen lantang. Suaranya memotong riuh rendah percakapan. "Sesuai aturan Pasal Tujuh, aku menuntut duel peringkat sekarang. Jika kau menolak, kau mengakui ketidakmampuanmu di depan dewan." Aris mengepalkan tangan, buku jarinya memutih. Jika dia menang, dia hanya mengalahkan pecundang yang sedang bangkrut. Jika dia kalah, posisinya di puncak akademi musnah. "Kau tikus yang beruntung, Kaelen. Kau pikir dengan memanipulasi pasar, kau bisa menyembunyikan fakta bahwa inti energimu sedang retak?" bisik Aris. Kaelen hanya membalas dengan menekan segel energi ke gulungan tantangan, mengubahnya menjadi cahaya biru yang mengunci Arena Ujian Utama.
Saat Kaelen melangkah keluar dari arena, ia menyadari hawa dingin yang lebih tajam dari embusan angin koridor. Sena muncul dari balik pilar batu, menyodorkan gulungan informasi kecil. "Dewan tidak hanya mengaudit Aris. Mereka kini membedah setiap transaksi yang kau lakukan dalam empat puluh delapan jam terakhir. Mereka tidak peduli pada kebenaran; mereka peduli pada stabilitas sistem yang kau ganggu. Kau bukan lagi pecundang yang terlilit utang—kau adalah parasit yang harus dibersihkan."
Kaelen menatap angka-angka di gulungan itu; utang 5.000 koin emasnya kini menjadi alat bagi dewan untuk menyita paksa artefak pemetaan energinya sebagai jaminan. Ia telah meruntuhkan saham Aris, namun di saat yang sama, ia baru saja menempatkan dirinya sebagai target utama bagi para elit yang ingin menjaga tatanan pasar tetap di tangan mereka. Tangga akademi kini terasa jauh lebih curam, dan ia berdiri sendirian di bawah sorotan tajam sistem yang mulai bergerak untuk menghancurkannya.