Novel

Chapter 8: Harga Sebuah Keberhasilan

Kaelen berhasil melewati pemeriksaan gerbang dengan memberikan informasi strategis kepada Instruktur Vane. Ia kemudian menggunakan data artefak kuno untuk memanipulasi pasar informasi melalui Sena, memicu persaingan di antara faksi elit. Di depan dewan, Kaelen berhasil menangkis tuduhan Aris dengan bukti data, namun ia kini terikat dalam audit fisik 48 jam yang mengancam stabilitas inti energinya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga Sebuah Keberhasilan

Gerbang utama Akademi Aethelgard tidak lagi terasa seperti rumah, melainkan leher botol yang siap mencekik. Kaelen berdiri di depan Instruktur Vane, yang jemarinya masih bertengger di gagang pedang. Di balik jubahnya, artefak pemetaan energi—sebuah lempengan logam kuno yang ia temukan di Zona Luar—terasa panas, berdenyut selaras dengan meridiannya yang kini tidak stabil.

"Geledah," perintah Vane. Suaranya datar, namun tatapannya membedah setiap inci kain jubah Kaelen.

Kaelen menahan napas. Jika artefak itu ditemukan, ia bukan hanya diusir, tapi akan diseret ke ruang interogasi dewan karena memiliki barang terlarang. Ia memaksakan senyum tipis, meski rasa sakit menusuk inti energinya seperti jarum panas. "Ada anomali di Sektor 9, Instruktur. Jika Anda membiarkan saya lewat, saya akan berikan koordinat titik pemicu fluktuasi itu sekarang juga. Itu lebih berharga daripada menggeledah murid peringkat 120 yang miskin."

Vane terdiam. Ia tahu fluktuasi energi di Sektor 9 adalah masalah yang menghambat operasional akademi selama sebulan terakhir. Dengan sentakan kasar, ia menarik tombaknya. "Lewatlah. Tapi namamu sudah masuk daftar audit energi lanjutan. Jangan harap bisa bersembunyi."

Kaelen tidak membuang waktu. Ia melesat menuju Sektor Bawah, tempat Sena menunggunya di balik meja kayu yang penuh dengan komponen artefak rusak.

"Kau membawa masalah besar," ujar Sena tanpa basa-basi, matanya memicing ke arah kristal data yang diletakkan Kaelen di atas meja. "Dewan mulai melacak fluktuasi energi yang kau tunjukkan kemarin. Mereka tahu artefak itu tidak mungkin ditemukan oleh murid peringkat 120 tanpa bantuan orang dalam."

"Itu bukan masalahku," potong Kaelen. "Masalahku adalah utang lima ribu koin emas yang harus lunas sebelum siklus berikutnya mengunci aksesku ke fasilitas inti. Aku butuh dana cair sekarang, atau aku mati karena inti energiku hancur."

Sena tertawa sinis, jemarinya memutar kristal tersebut. "Data ini adalah tiket emas bagi faksi elit untuk memanen energi dari Zona Luar. Jika aku menjual ini ke Aris, dia akan membayarmu sepuluh kali lipat hanya agar kau lenyap dari akademi."

"Lakukan," tantang Kaelen dingin. "Tapi kau tahu, jika Aris memilikinya, kau tidak akan punya akses lagi ke pasar informasi ini. Jadikan ini umpan. Biarkan para elit saling sikut memperebutkan data ini, sementara aku mendapatkan bagianku untuk menutupi utang."

Sena tertegun, lalu tersenyum tipis. Kaelen berbalik dan melangkah menuju ruang sidang Dewan Akademi. Di sana, Aris sudah berdiri dengan senyum meremehkan.

"Dewan yang terhormat," suara Aris menggelegar. "Kaelen bukan sekadar beruntung. Dalam dua minggu, dia melunasi utang lama dan memperoleh artefak yang bahkan elit akademi pun sulit mengaksesnya. Ini perampokan sumber daya!"

Kaelen merasakan tatapan tajam tiga anggota dewan. Dengan tenang, ia meletakkan gulungan data fluktuasi energi di atas meja perunggu. "Ini bukan perampokan, Aris. Ini adalah hasil penelitian atas pola fluktuasi energi di Zona Ujian Luar yang selama ini diabaikan oleh kurikulum akademi. Saya tidak mencuri, saya hanya membaca celah yang tidak kalian lihat."

Dewan terdiam, menatap data tersebut dengan ketertarikan yang tak mampu mereka sembunyikan. Aris memucat saat dewan mulai berbisik. Meski dewan menunda penyitaan, mereka menjatuhkan vonis audit fisik penuh terhadap Kaelen dalam 48 jam ke depan.

Kembali di asrama yang sempit, Kaelen mencengkeram tepi meja. Teknik terlarang yang ia gunakan telah mulai menggerogoti inti energinya. Ia membelanjakan sisa koinnya untuk material penstabil kelas rendah, namun ia tahu itu hanya menunda kehancuran. Di luar pintu, ia bisa merasakan tatapan mata-mata dewan yang mulai mengintainya, menunggu satu kesalahan kecil untuk menjatuhkannya selamanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced