Ujian Lapangan yang Mematikan
Lonceng perunggu di gerbang Zona Ujian Luar berdentang satu kali—suara nyaring yang menandai dimulainya siklus perburuan bagi murid peringkat bawah. Kaelen berdiri di tepi hutan kabut, napasnya terasa seperti menelan serpihan kaca. Inti energinya berdenyut tidak beraturan, efek samping dari teknik terlarang yang kini menjadi satu-satunya mesin penggeraknya. Di saku jubahnya, sisa pil peningkat energi sudah habis, menyisakan utang pasar gelap sebesar 5.000 koin emas yang terus membayangi setiap langkahnya.
"Peringkat 120 tidak memberimu kekebalan, Kaelen. Di sini, kau hanyalah mangsa," bisik sebuah suara dari balik semak. Tiga bayangan muncul—pengikut Aris. Mereka tidak membawa pedang, melainkan segel penekan energi yang memancarkan aura biru redup. Kaelen tahu rute ujiannya telah disabotase; Aris ingin memaksanya ke zona berbahaya agar teknik terlarang di dalam tubuhnya meledak tanpa artefak penstabil.
Begitu segel itu diaktifkan, aliran energi di sekitar mereka menjadi kacau. Kaelen merasakan intinya tersentak. Teknik terlarang dalam tubuhnya bereaksi liar terhadap interferensi segel, mencoba menyedot energi dari lingkungan sekitar untuk menstabilkan diri. Ia tidak membuang waktu. Dengan satu gerakan presisi, Kaelen melepaskan ledakan energi terkonsentrasi yang tidak ditujukan pada musuhnya, melainkan pada titik simpul energi di tanah yang menopang segel mereka. Tanah bergetar, formasi itu pecah, dan Kaelen melesat masuk lebih dalam ke reruntuhan Sektor 7, meninggalkan para pengikut Aris yang terperangkap dalam arus balik energi mereka sendiri.
Di balik pilar batu yang runtuh, Kaelen jatuh terduduk. Napasnya tersengal. Di dalam rongga dadanya, inti energinya berdenyut menyakitkan, seperti mesin tua yang dipaksa berakselerasi melebihi kapasitas. Teknik terlarang itu kini menjadi parasit yang menggerogoti stabilitas tubuhnya sendiri. Ia merogoh saku, mengeluarkan lempengan logam gelap—artefak kuno yang ia temukan saat melarikan diri tadi. Saat Kaelen memaksakan sisa energinya mengalir ke dalam artefak itu, rasa sakit seperti jarum panas menusuk meridiannya. Namun, saat artefak itu menyerap energi tidak stabil dari tubuhnya, sebuah mekanisme halus di dalamnya bergeser. Lempengan itu mengeluarkan cahaya redup yang memetakan aliran energi di sekitarnya. Ini bukan sekadar alat kultivasi; ini adalah kunci enkripsi pasar yang mampu memanipulasi distribusi energi di area ujian. Dengan integrasi ini, tanda-tanda teknik terlarang dalam tubuhnya kini tersamar dari sensor akademi.
Gerbang perunggu Zona Ujian berderit menutup tepat saat Kaelen melangkah keluar, napasnya memburu namun matanya setajam belati. Belum sempat ia mengatur detak jantung, tangan bersarung sutra mencengkeram bahunya. "Berhenti di sana, sampah!" suara Aris melengking di tengah lapangan akademi. Aris menunjuk otot lengan Kaelen yang tampak lebih padat dan aura qi yang berdenyut tidak wajar. "Dia kembali dengan kondisi fisik yang mustahil! Dia pasti memakai stimulan ilegal!"
Para penguji menoleh. Kaelen tidak gentar. Ia merogoh saku, mengeluarkan artefak perekam yang berpendar redup. "Curang?" Kaelen mendengus, suaranya dingin. "Aku hanya merekam fluktuasi energi yang kalian abaikan selama ini."
Dewan akademi mulai berbisik, menatap artefak itu dengan ketertarikan yang rakus. Aris terbelalak, wajahnya pucat pasi. Kaelen memutar artefak itu di antara jemarinya, membiarkan cahaya biru pucat menyapu wajah anggota dewan yang mulai condong ke depan. "Ini bukan kecurangan, Aris. Ini adalah pemetaan efisiensi energi yang gagal dicapai akademi selama satu dekade." Ketua Dewan berdiri, matanya terpaku pada pola fluktuasi yang terpancar dari artefak di tangan Kaelen, sementara kecurigaan baru mulai tumbuh di mata mereka mengenai asal-usul kekayaan Kaelen yang tiba-tiba.