Risiko Investasi Tubuh
Udara di ruang bawah tanah Akademi Zenith terasa seperti logam cair yang membeku di paru-paru Kaelen. Di dalam meridiannya, pil peningkat energi yang ia menangkan dengan mempertaruhkan sisa harga dirinya kini berubah menjadi predator. Tanpa artefak penstabil yang dihancurkan Aris, energi pil itu tidak mengalir; ia merobek. Setiap denyut jantung terasa seperti tusukan jarum panas yang merambat dari inti energi menuju saraf-saraf periferal.
Kaelen menggertakkan gigi hingga rahangnya nyeri. Ia tidak bisa membiarkan energi ini meledak. Dengan tangan gemetar, ia memungut serpihan logam hitam—sisa artefak penyedot energi yang hancur. Ia menekan ujung tajam logam itu ke titik meridian di telapak tangannya. Rasa sakit yang tajam menyentak kesadarannya, memaksa aliran energi liar itu mengalir melalui konduktor darurat yang kasar. Ia berhasil menekan gejolak itu ke titik minimal, namun hawa dingin yang menusuk tulang kini merambat, meninggalkan rasa rapuh yang mengerikan di setiap inci tubuhnya.
Sena muncul dari balik bayangan, wajahnya datar namun matanya menatap tajam ke arah detak nadi Kaelen yang tak beraturan. "Aris baru saja keluar dari ruang dewan," ucapnya dingin. "Dia membayar biaya tambahan untuk mempercepat jadwal audit fisikmu menjadi besok pagi. Mereka tahu kau sedang rapuh, Kaelen. Aris ingin kau hancur di depan umum, bukan di lorong gelap ini."
Kaelen menyeka keringat dingin yang membasahi pelipisnya. "Dia ingin aku gagal di depan dewan agar status peringkatku dicabut permanen. Berapa harga data fluktuasi ruang audit itu?"
Sena melemparkan gulungan segel informasi ke lantai. "Data itu berisiko, dan harganya adalah ketergantungan penuhmu pada pasar gelap. Jika kau memaksakan diri besok, kau tidak akan sekadar kehilangan peringkat. Kau akan mengalami keruntuhan inti permanen. Berhenti sekarang, atau kau akan menjadi mayat hidup."
Kaelen tidak menjawab. Ia mengambil data tersebut, tahu bahwa setiap detik yang ia beli adalah jeratan utang yang lebih dalam.
Keesokan harinya, Aula Ujian Utama dipenuhi aroma ozon yang menyengat. Kaelen berdiri di atas lempengan batu, di hadapan pilar kristal setinggi tiga meter yang akan membedah stabilitas kultivasinya. Aris berdiri di barisan depan, bersedekap dengan seringai kemenangan. Ia yakin Kaelen akan gagal memancarkan energi yang stabil.
Kaelen memejamkan mata, memanggil memori pola fluktuasi yang diberikan Sena. Ia tidak melawan arus energi yang kacau itu; ia mengarahkannya. Dengan napas tertahan, ia menyalurkan sisa energi pil melalui titik akupunktur yang rusak di lengan kirinya—sebuah jalur yang seharusnya mematikan, namun menjadi satu-satunya celah untuk menipu sensor pilar. Pilar itu berpendar, menunjukkan angka '120'. Ia lolos, namun sarafnya menjerit saat energi terlarang itu mulai menggerogoti intinya dari dalam.
Setelah audit selesai, Kaelen segera melangkah menjauh menuju zona luar yang terbengkalai. Peringkatnya dipertahankan, namun utang 5.000 koin emas tetap menggantung di lehernya. Saat melintasi reruntuhan gudang tua, kakinya tersandung sesuatu yang keras. Sebuah artefak kuno tertimbun di bawah puing, memancarkan denyut frekuensi rendah yang asing namun familiar. Kaelen memungutnya; benda itu berdenyut dengan energi yang mampu mengubah nilai pasar seluruh akademi. Namun, saat ia menggenggamnya, rasa sakit di intinya meledak kembali. Teknik terlarang itu kini telah menyatu dengan inti energinya, menciptakan ancaman keruntuhan yang lebih nyata daripada sebelumnya.