Lelang di Balik Bayang
Bau dupa murahan dan keringat dingin menyengat indra penciuman Kaelen saat ia melangkah masuk ke Aula Lelang Zenith. Di dompetnya, hanya tersisa koin tembaga yang tak berarti—jauh dari angka 5.000 koin emas yang dituntut akademi sebagai pajak peringkat. Di barisan depan, Aris duduk dengan angkuh, dikelilingi antek-antek yang menatap Kaelen layaknya hama yang lupa dibasmi.
"Kau berani datang ke sini dengan kantong kosong?" ejek Aris saat juru lelang mengangkat botol kristal berisi Pil Peningkat Energi Murni. "Pil itu untuk kultivator kelas atas. Kau hanya pecundang yang utangnya lebih tinggi dari peringkatnya."
Kaelen tidak membalas. Matanya terkunci pada pil tersebut. Jika ia bisa memenangkannya, ia bisa memicu lonjakan energi yang cukup untuk melewati audit dewan besok—atau setidaknya, itulah yang dijanjikan Sena. Aris menaikkan tawaran ke 3.000 koin, harga yang tidak masuk akal untuk pil tersebut, sengaja untuk menguras modal lawan. Kaelen melirik Sena yang berdiri di balkon atas, memberikan isyarat kecil. Kaelen maju satu langkah, suaranya tenang namun tajam. "Tiga ribu satu ratus koin. Dan perlu diingat, Aris, pil itu dari Batch 402. Aku mendengar dari pedagang pasar gelap bahwa segel di Batch 402 memiliki cacat mikro yang bisa meledakkan inti energi jika diserap dalam kondisi tidak stabil."
Aris terdiam, keraguan melintas di wajahnya. Dalam dunia kultivasi, risiko meledaknya inti energi adalah harga mati. Aris menarik tawarannya dengan dengusan kasar. Kaelen memenangkan pil tersebut, namun saat ia berbalik, ia melihat seringai tipis di wajah Aris. Aris tahu ia telah diperdaya, dan dendam di matanya adalah ancaman yang nyata.
Kaelen segera menuju Pasar Gelap Akademi, namun suasana di sana terasa mencekik. Di kios Zale, Kaelen mencoba menjual sisa artefak penyedot energi yang sudah dimodifikasi. Zale meludah ke lantai, matanya melirik segel logam hitam yang tertanam di bingkai pintu kiosnya. "Aris sudah lewat, Kaelen. Dia memberi tahu semua orang bahwa artefak darimu adalah barang curian. Siapa pun yang bertransaksi akan kehilangan lisensi."
Kaelen mencondongkan tubuh, suaranya rendah. "Aris hanya takut artefak ini mengungkap pola manipulasi ujiannya." Ia mengeluarkan kepingan logam retak, membiarkan auranya merembes hingga logam itu bergetar. Zale tertegun melihat efisiensi artefak tersebut. Kaelen mendapatkan dana yang ia butuhkan, namun sebagai gantinya, ia harus menandatangani kontrak utang baru yang jauh lebih berbahaya dengan pihak pasar gelap.
Kemenangan itu berumur pendek. Pagi harinya, di depan pintu perunggu Aula Latihan Tingkat Dua, penjaga aula menolak akses Kaelen. "Laporan dari Dewan menyatakan fasilitas ini sedang dalam pemeliharaan darurat akibat fluktuasi energi dari artefak ilegal milikmu," ujar penjaga itu dengan lencana Aris di kerahnya. Saat Kaelen mencoba memaksa masuk, kaki tangan Aris menyergapnya di lorong. Dalam keributan singkat itu, artefak cadangan Kaelen dihancurkan hingga menjadi debu.
Tanpa artefak, pil yang ia beli menjadi bom waktu. Kaelen kembali ke kamarnya, menatap pil pucat di atas meja. Lonceng audit berbunyi. Tanpa pilihan, ia menelan pil tersebut mentah-mentah. Sensasi terbakar meledak di tenggorokannya. Energi itu tidak mengalir; ia merobek jalur kultivasinya seperti banjir bandang yang menghancurkan tanggul. Kaelen jatuh berlutut, inti energinya berdenyut tidak beraturan, memekik di bawah beban kekuatan yang tidak bisa ia kendalikan. Saat ia mencoba menstabilkan diri, ia merasakan retakan tajam yang menjalar di inti energinya. Teknik terlarang ini mulai menggerogoti jiwanya dari dalam, tepat saat pintu ruang audit terbuka.