Pajak Elit
Bau tinta tajam dan logam dingin menyengat hidung Kaelen saat ia melangkah masuk ke Kantor Administrasi Pusat Akademi Zenith. Di atas meja jati yang tebal, selembar segel resmi menantinya. Angka '120'—peringkat barunya setelah menumbangkan Aris—terpampang dengan tinta emas yang angkuh. Namun, di bawahnya, angka merah yang jauh lebih mencolok berdenyut: 5.000 koin emas.
“Pajak pemeliharaan fasilitas untuk kenaikan peringkat menengah,” ujar birokrat akademi itu tanpa menoleh. Pria paruh baya dengan kacamata berlensa kristal itu membalik halaman buku besar dengan suara gesekan kertas yang kering. “Kau masuk ke tier yang membutuhkan aliran energi murni setiap jam. Fasilitas ini bukan amal. Jika kau tidak mampu membayar dalam 14 hari, akses kultivasimu akan dibekukan permanen. Kau akan kembali ke peringkat terbawah, atau keluar dari gerbang depan dengan membawa utang yang akan mengejarmu hingga ke luar akademi.”
Kaelen mencengkeram tepian meja. “Ini tidak masuk akal. Biaya ini melonjak tiga kali lipat hanya karena saya naik tiga puluh peringkat. Apakah ada kesalahan dalam perhitungan?”
Birokrat itu mendongak, matanya sedingin es. “Akademi tidak melakukan kesalahan. Kami melakukan penyesuaian. Kau menggunakan ruang latihan utama, kau memicu sensor energi yang lebih intens, dan kau menarik perhatian dewan. Semua itu ada harganya, Kaelen.”
Keluar dari kantor tersebut, Kaelen merasakan beban 5.000 koin emas menekan bahunya lebih berat daripada latihan fisik mana pun. Ia tidak punya waktu untuk meratapi nasib. Ia langsung melangkah ke lorong gelap pasar pinggiran akademi, tempat Sena menunggunya di balik meja yang dipenuhi rongsokan artefak.
“Kau menang melawan Aris, tapi kau baru saja membeli tiket masuk ke penggilingan daging,” Sena menyeringai saat Kaelen meletakkan artefak penyedot energi miliknya yang telah dimodifikasi dengan kabel perak halus. “Pajak elit tidak mengenal belas kasihan.”
Kaelen menatap artefak itu. “Aku butuh aliran koin, cepat dan stabil. Alat ini bisa menyedot energi dari pilar latihan tanpa terdeteksi oleh sistem audit dasar. Modifikasiku memungkinkannya bekerja pada frekuensi rendah.”
Sena memutar artefak itu di bawah cahaya redup. “Ini jenius, tapi kau tahu risikonya. Mengalihkan energi secara paksa akan mengikis inti artefak ini. Dalam sepuluh kali penggunaan, ia akan hancur menjadi debu. Ini bukan aset jangka panjang, ini adalah bom waktu.”
“Cukup untuk menyewakannya pada murid-murid kelas bawah yang putus asa demi kenaikan peringkat,” balas Kaelen tajam. Ia tidak butuh kemewahan; ia butuh likuiditas.
Saat ia kembali ke asrama, suasana sunyi yang ganjil menyambutnya. Pintu kayu tua itu berderit, menyingkap pemandangan yang membuat napasnya tertahan: lemarinya terbuka paksa, gulungan teknik dan kristal energi sisa berserakan di lantai. Di ambang pintu, Aris bersandar dengan senyum meremehkan, memutar sisa-sisa artefak penyedot energi milik Kaelen yang kini telah hancur berkeping-keping.
“Peringkat 120 hanyalah angka, Kaelen. Kau tetap sampah yang tidak tahu tempat,” ujar Aris. “Aku sudah memastikan dewan mendengar tentang ‘keganjilan’ alat-alatmu. Besok, mereka akan datang untuk audit fisik. Aku ingin melihat bagaimana kau menutupi utang itu saat kau bahkan tidak punya artefak untuk menipu sistem.”
Kaelen mengepalkan tangan, namun matanya menangkap sesuatu yang lebih menarik di saku Aris: sebuah segel logam hitam dengan lambang pedagang pasar gelap yang sering bertransaksi dengan Sena. Aris tidak bekerja sendiri. Ia telah menjual akses informasi akademi kepada pihak luar demi menjatuhkan Kaelen.
Kaelen menyadari bahwa permainan ini telah berubah. Bukan hanya tentang peringkat, tapi tentang siapa yang menguasai aliran sumber daya. Saat Aris melenggang pergi, Kaelen memungut serpihan artefaknya, menyadari bahwa minat pedagang pasar gelap terhadap metodenya justru menjadi celah baru untuk melunasi utang—dan membalas dendam.