Tangga Ujian yang Terbuka
Dewan Akademi Zenith tidak menyukai anomali. Di ruang sidang yang dingin oleh marmer dan aroma dupa penekan energi, Kaelen berdiri di titik tengah, merasakan tatapan menghakimi dari para tetua. Di hadapannya, Aris berdiri dengan dagu terangkat, matanya berkilat penuh kemenangan semu.
"Data ini tidak masuk akal!" Aris menggebrak meja, suaranya memantul di dinding aula. "Seorang murid peringkat 150 tidak mungkin mencapai efisiensi penyerapan 98 persen dalam semalam. Ini pasti manipulasi artefak terlarang!"
Kaelen tetap tenang, meski detak jantungnya berpacu di balik tulang rusuknya. Ia melemparkan kristal memori ke meja dewan. "Jika efisiensi adalah bukti kecurangan, maka kurikulum akademi ini memang sudah usang, Tuan Aris."
Saat grafik fluktuasi energi emas terproyeksi di udara, membuktikan stabilitas kultivasi Kaelen yang presisi, keheningan menyapu ruangan. Aris tertegun, cengkeramannya pada kursi mengeras hingga buku jarinya memutih. Kaelen lolos dari tuduhan, namun harga yang harus dibayar instan. Sang Ketua Dewan menatapnya dengan dingin. "Kau bebas dari pengusiran, Kaelen. Namun, biaya audit administratif dan kompensasi sensor yang kau picu... hutangmu kini berlipat sepuluh kali lipat. Lunasi sebelum siklus berikutnya, atau kau akan dibuang dari akademi secara permanen."
Kaelen keluar dari aula dengan beban hutang yang mencekik. Ia segera menyusup ke lorong kumuh Pasar Gelap. Bau logam berkarat menyambutnya di kedalaman kios Sena. Artefak penyedot energi di saku jubahnya berdenyut, seolah lapar akan sisa-sisa energi di sekitarnya.
"Kau menang di depan dewan, tapi kau membakar seluruh cadangan energimu," ujar Sena tanpa basa-basi, menyodorkan kantong bubuk kristal penstabil. "Ini harga untuk menstabilkan artefakmu. Tapi ingat, setiap kali kau menggunakannya, kau meninggalkan jejak energi yang semakin mudah dilacak. Aris tidak akan diam saja."
Kaelen menatap kristal itu. Ini adalah modal satu-satunya. Ia memodifikasi artefaknya, mengorbankan sebagian fungsi penyedotnya agar terlihat seperti rongsokan biasa, mengorbankan durabilitas demi kerahasiaan. Ia kini memiliki stabilitas, namun ia diawasi oleh kolektor pasar gelap yang mencium nilai dari artefak modifikasinya.
Keesokan harinya, lonceng perunggu Menara Zenith berdentang, menandai siklus peringkat baru. Di Arena Tengah, Aris sudah menunggu. "Peringkat 150 bukan tempatmu, pecundang!" seru Aris di depan kerumunan murid. "Hari ini, aku akan mengembalikanmu ke dasar."
Saat wasit memberi tanda mulai, Aris menerjang dengan kecepatan yang mematikan. Kaelen tidak menyerang balik. Ia membiarkan Aris menghujani perisainya dengan serangan yang menguras energi. Di balik pertahanan yang tampak rapuh, Kaelen mengaktifkan artefak penyedotnya. Setiap pukulan Aris yang menghantam perisai justru diserap dan dikonversi menjadi aliran energi murni ke dalam meridian Kaelen. Ketika Aris mulai terengah-engah karena kehabisan stamina, Kaelen membalikkan aliran energi tersebut dalam satu serangan balik yang presisi. Aris terpelanting, jatuh ke lantai arena di depan ratusan pasang mata yang terbelalak.
Kaelen menang. Peringkatnya naik. Namun, ia tidak merasakan euforia. Tubuhnya terkuras habis.
Ia berjalan tertatih menuju Aula Latihan Tingkat Dua, gerbang yang selama ini menjadi impiannya. Pintu perak itu berdiri megah di depannya. Ia menempelkan lencana peringkatnya, membayangkan kepadatan energi spiritual yang bisa memperkuat kultivasinya secara permanen. Namun, pilar pemindai memancarkan cahaya merah kasar.
Akses ditolak. Saldo kredit tidak mencukupi untuk biaya pemeliharaan fasilitas.
Kaelen terpaku saat layar proyeksi menampilkan angka merah menyala: 5.000 koin emas. Kenaikan peringkatnya tidak memberinya akses, melainkan hanya mempertegas rantai hutangnya. Pintu itu tetap terkunci, dan di balik bayang-bayang lorong, ia menyadari bahwa pedagang pasar gelap mulai membuntutinya, mengincar artefak yang baru saja ia gunakan di arena.