Ruang Rapat yang Membara
Bau antiseptik di koridor VIP rumah sakit tidak lagi sekadar aroma obat-obatan; itu adalah bau kekalahan yang mulai membusuk. Di dalam ruang rapat darurat, Aris berdiri di ujung meja mahoni, membiarkan keheningan menekan dada setiap direktur yang hadir. Di depannya, sebuah amplop cokelat berisi audit internal 2019 tergeletak seperti ranjau darat yang siap meledak.
Bram, yang biasanya tampil dengan setelan jas yang disetrika sempurna dan senyum karismatik, kini tampak berantakan. Keringat dingin membasahi pelipisnya. "Ini sampah, Aris. Dokumen palsu untuk menutupi kegagalanmu sendiri," suara Bram parau, berusaha mempertahankan sisa-sisa otoritasnya di depan dewan yang mulai gelisah.
Aris tidak bergeming. Ia tidak membalas dengan teriakan. Ia hanya melirik jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya, lalu menatap Bram dengan dingin. "Teriakanmu tidak akan menambal lubang dua belas persen dalam neraca operasional kita, Bram. Halaman empat belas. Lihat tanda tangan Maya di sana. Dia tidak hanya mencatat; dia memalsukan alokasi dana untuk rekening luar negeri yang kau kendalikan."
Suasana berubah drastis. Pak Surya, direktur senior yang selama ini menjadi pendukung utama Bram, meraih amplop itu. Tangannya gemetar saat membalik halaman demi halaman. Keheningan di ruangan itu begitu pekat hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti ancaman.
"Keamanan!" teriak Bram, matanya memerah karena panik. "Usir dia sekarang juga!"
Namun, tidak ada yang bergerak. Pak Surya meletakkan dokumen itu dengan kasar ke meja. "Duduk, Bram. Jika apa yang Aris katakan benar, kita semua sedang duduk di atas bom waktu yang kau pasang."
Aris melangkah maju, menunjuk pasal 14-C dalam perjanjian pemegang saham. "Pasal ini jelas. Deviasi audit di atas lima persen secara otomatis membekukan akses pencairan dana operasional. Bram, kau sudah melampaui batas itu sejak kuartal kedua tahun lalu. Mulai detik ini, akses perbankan perusahaan untuk direktur operasional terkunci."
Bram menoleh ke arah Maya, Kepala Audit Internal yang berdiri mematung di sudut ruangan. "Maya! Katakan pada mereka ini bohong!"
Maya tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca, menatap Aris yang memegang kendali penuh atas likuiditas perusahaan. Di saat yang sama, sebuah notifikasi masuk ke ponsel para direktur: akses dana operasional telah dibekukan oleh sistem pusat. Kepanikan pecah. Bram bukan lagi pemimpin; dia adalah beban yang harus segera dibuang.
Di tengah kekacauan itu, kabar duka datang. Ayah mereka telah tiada. Bram mencoba menggunakan momen itu untuk menyerang Aris, namun Aris memotongnya dengan suara yang lebih tajam dari pisau. "Ayah meninggal bukan karena takdir, Bram. Beliau meninggal karena tekanan jantung akibat audit yang kau sembunyikan selama dua tahun terakhir. Kau membunuh beliau untuk menutupi keserakahanmu."
Bram terisolasi. Dewan mulai menjaga jarak, meninggalkan Bram sendirian di kursi kepemimpinan yang kini tak lagi memiliki kuasa. Aris berbalik, meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.
Di lantai parkir bawah tanah yang dingin, Maya menyusulnya dengan napas tersengal. "Aris, kau tidak tahu apa yang kau lakukan. Bram tidak akan membiarkanmu keluar dari gedung ini dengan bukti itu," bisik Maya di sudut yang gelap.
Aris berhenti, memutar tubuhnya, dan menatap Maya dengan ketenangan yang mengintimidasi. "Bram tidak akan bisa melakukan apa pun jika akses perbankannya terkunci. Dan kau, Maya, kau tahu ini adalah kehancuran sistemik yang sudah aku susun sejak dua tahun lalu. Berikan kuncinya."
Maya gemetar, namun ia merogoh tasnya dan menyerahkan kunci akses sistem pusat kepada Aris. Dengan kunci itu di tangannya, Aris tahu ia baru saja memulai perang yang jauh lebih besar.