Koridor Berbau Kematian dan Saham
Bau melati yang menyengat di koridor VVIP Rumah Sakit Medika Utama terasa lebih menyesakkan daripada bau antiseptik yang mendominasi ruangan. Aris berdiri di depan pintu kaca ganda, menatap bayangannya sendiri di pantulan kaca: setelan jas yang sedikit kusut, kontras dengan kerumunan orang di dalam yang mengenakan jahitan bespoke Italia. Di dalam, dewan direksi keluarga sedang mengadakan rapat darurat. Mereka tidak sedang membahas kesembuhan sang ayah yang sekarat, melainkan membagi porsi saham sebelum napas terakhir lelaki itu habis.
Aris melangkah masuk. Keheningan seketika menyambutnya.
“Siapa yang mengizinkan orang buangan masuk ke ruang steril ini?” suara Bram membelah ruangan. Ia duduk di kursi utama, memutar pena mahalnya dengan jemari yang gelisah. Di sampingnya, Maya, kepala audit internal, menunduk dalam, menghindari kontak mata.
“Ayah masih bernapas, Bram,” jawab Aris tenang. Suaranya datar, tidak menunjukkan sedikit pun intimidasi meski tatapan para kerabat di sekeliling meja seolah ingin menelannya hidup-hidup. “Dan secara hukum, aku masih pemegang hak suara sah atas aset operasional sampai audit 2019 disahkan.”
Bram tertawa, sebuah suara sumbang yang dipaksakan. “Audit? Kau bicara tentang kertas-kertas usang yang sudah kami bakar tahun lalu? Aris, sadarlah. Kau bukan lagi bagian dari trah ini. Tanda tangan di dokumen pengusiranmu sudah diverifikasi oleh notaris.”
Aris tidak bergeming. Langkah kakinya tenang, ritmis, dan tidak menunjukkan tanda-tanda kecemasan saat ia menyusuri meja rapat menuju ujung ruangan. Pintu kaca kedap suara itu bergetar saat Aris mendorongnya lebih lebar. Di dalam, suasana di ruang rapat darurat lantai sepuluh rumah sakit terasa lebih dingin daripada unit perawatan intensif di bawah. Sepuluh anggota dewan direksi duduk membatu dengan ekspresi gelisah. Bram berdiri di ujung meja kayu mahoni yang panjang, membelakangi jendela besar yang memperlihatkan lampu kota Jakarta yang gemerlap.
“Aris, ini bukan tempat untuk pengemis,” suara Bram memecah keheningan, tajam dan penuh penekanan. “Keamanan akan menyeretmu keluar dalam hitungan detik.”
Aris tidak mengindahkan ancaman itu. Tatapannya tertuju langsung pada Maya yang duduk mematung dengan jemari gemetar di atas tabletnya. Wajah Maya pucat pasi—tanda jelas bahwa ia telah dipaksa menandatangani laporan keuangan yang telah dimanipulasi oleh tim Bram.
“Aku tidak datang untuk meminta warisan,” jawab Aris datar. Ia berhenti tepat di samping kursi kosong yang seharusnya menjadi miliknya. “Aku datang untuk memastikan bahwa dana operasional kuartal ketiga tidak cair ke rekening cangkang yang kau buat di Singapura, Bram.”
Ruangan itu mendadak sunyi. Beberapa anggota dewan saling berpandangan, keresahan mulai merayap di wajah mereka. Bram tertawa kecil, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi kepanikan yang mulai muncul di balik matanya yang liar.
“Kamu gila,” desis Bram, wajahnya memerah karena amarah yang tertahan. “Kamu sudah tidak punya posisi. Kamu bukan siapa-siapa di perusahaan ini.”
Aris tidak lagi menanggapi ocehan Bram. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang tampak usang namun menyimpan bom waktu di dalamnya. Ia meletakkan amplop itu tepat di tengah meja mahoni, di bawah lampu gantung kristal yang menyorot tajam ke arah dokumen tersebut.
“Di dalam sini ada klausul yang membuktikan penggelapan dana operasional yang kamu lakukan selama dua tahun terakhir,” ujar Aris dengan nada dingin. “Begitu notifikasi audit ini terkirim ke otoritas bursa, seluruh akses perbankanmu akan dibekukan secara otomatis. Kamu tidak akan bisa mencairkan satu rupiah pun untuk biaya pemakaman ayah, apalagi untuk menguasai perusahaan ini.”
Bram terbelalak, tangannya terulur hendak merampas amplop itu, namun Aris menahannya dengan tatapan tajam yang membuat Bram terpaku. Di kejauhan, suara monitor detak jantung dari ruang ICU mulai melambat, menjadi garis lurus yang panjang dan monoton.
Aris membiarkan amplop itu tetap di meja, sebuah bukti tak terbantahkan yang akan menghancurkan supremasi Bram. Ia berbalik, meninggalkan ruangan yang kini tercekik oleh ketakutan dan ambisi yang runtuh, tepat sebelum ayahnya mengembuskan napas terakhir.