Novel

Chapter 9: Bayang-bayang di Atas

Arga berhasil membalikkan keadaan di ruang rapat dengan bukti audit, namun kemenangan itu mengungkap ancaman baru: investor bayangan bernama 'Saklar Putra Kapital' yang mengincar restoran pusaka sebagai agunan utang. Arga memaksa Dimas untuk berbalik menjadi sekutu sebelum tenggat waktu audit forensik besok pagi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bayang-bayang di Atas

Pukul 08.11. Ruang rapat di atas restoran pusaka masih menyisakan aroma kaldu sisa sidang semalam—bau rempah yang kini terasa seperti ancaman. Arga Wiraatmaja melangkah masuk, bukan sebagai ahli waris yang dibuang, melainkan sebagai pengawas operasional yang memegang kunci audit. Di ujung meja, map pengusiran terbuka, menunggu tanda tangan yang akan menyegel nasibnya.

Bima Kuncoro mengetukkan pena ke dokumen. "Prosedur sudah jelas. Jika tidak ada keberatan, kita tutup hari ini."

Arga meletakkan map audit tebal di atas meja. Bunyi dentingnya memotong keheningan. "Keberatan formal ada. Saya minta daftar penerima dana operasional delapan bulan terakhir dan mutasi utang restoran. Lengkap."

Ratna, yang duduk dengan harga diri yang retak, menatap Arga tajam. "Kamu tidak punya dasar."

Arga mendorong lembar audit ke tengah meja. "Dasarnya ada di sini. Transfer fiktif tiga miliar bukan berdiri sendiri. Ada pihak ketiga yang menunggu keluarga ini jatuh cukup dalam untuk masuk melalui utang."

Ruangan itu berubah. Bima dan Dimas mencondongkan tubuh, membaca data yang sama: ancaman bukan lagi soal reputasi, tapi soal siapa yang memegang leher utang keluarga. Tiba-tiba, notaris keluarga yang gemetar menyelipkan kartu emas dengan inisial 'B' di bawah berkas. Arga menangkap gerakan itu. Ia mengambil kartu tersebut—di baliknya tertera nomor internasional dan jam temu: 19.30. Vonis yang sopan: Kalian sudah telat satu malam.

"Siapa orang ini?" tanya Ratna, suaranya kini bergetar.

"Bukan nama yang perlu kalian kejar dulu," jawab Arga dingin. "Keluarga ini bukan lagi target utama. Kita hanya bidak."

*

Sembilan belas menit sebelum dokumen pengusiran ditandatangani, Arga menerima panggilan di lorong servis restoran. Suara di seberang terdengar mahal, tenang, dan tahu persis kelemahan keluarga Wiraatmaja.

"Anda terlambat tiga bulan membaca struktur utang Anda sendiri," ujar suara itu.

Arga menatap rak kaldu yang masih mengepul. "Sebutkan identitas legal Anda."

"Saya tidak perlu menunggu lemari dibuka untuk tahu isinya. Saya sudah melihat aliran dananya sejak pos itu masih disamarkan sebagai biaya bahan baku."

Arga teringat inisial 'L.S.' pada dokumen notaris. "Laras Sihombing? Anda sudah lama mengelilingi warisan ini dari luar pagar."

Hening sejenak. "Saya menunggu keluarga ini berhenti berbohong pada neraca. Anda punya satu malam: restoran ini tetap beroperasi di bawah pengawasan Anda, atau seluruh utang jatuh tempo sekaligus besok pagi."

Sambungan terputus. Arga menatap layar yang padam. Ia tahu, kemenangan atas Ratna hanyalah lapisan pertama. Di bawahnya, ada entitas yang lebih besar yang sudah menaruh tangan di atas aset keluarga.

*

Arga mengunci pintu kantor privat. Dimas masuk dengan wajah pucat. Arga menyodorkan bukti stempel bank investasi yang ia temukan di arsip.

"Saklar Putra Kapital," bisik Dimas, menyebut nama entitas itu. "Mereka punya hak preferen atas utang restoran. Kalau jatuh tempo dipercepat, mereka bisa mengeksekusi jaminan sebelum bank utama sempat bernapas."

Arga menatap jam. 08.24. "Besok audit dimulai, malam ini tenggat bergerak. Kamu punya pilihan, Dimas: tetap jadi kaki tangan yang akan dikorbankan, atau jadi saksi yang memotong jalur mereka sebelum restoran ini hilang."

Dimas menatap map merah di tangan Arga. Tidak ada jalan keluar lain. Arga telah memegang kendali, namun di atas sana, investor bayangan itu sudah menunggu untuk menutup pintu terakhir.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced