Negosiasi di Ujung Pisau
Bau rempah dapur restoran Wiraatmaja—campuran kaldu sapi, serai, dan bawang tumis—selalu menjadi simbol martabat keluarga. Namun malam ini, aroma itu terasa seperti bau bangkai yang sedang dikerumuni lalat. Di ruang makan depan, Arga Wiraatmaja berdiri tegak, menatap meja panjang yang kini didominasi oleh perwakilan Saklar Putra Kapital. Pria berjas abu-abu di seberang meja itu tidak memandang makanan; ia memandang restoran ini sebagai angka yang harus dihapus.
"Waktu kalian habis, Arga," ujar pria itu, suaranya datar, tanpa emosi. "Utang jatuh tempo besok pagi. Jika restoran ini tidak dialihkan penuh sebagai agunan, kami akan membekukan seluruh aset operasional. Nama Wiraatmaja akan tercatat sebagai gagal bayar di bursa. Kalian akan kehilangan segalanya."
Dimas, yang berdiri di belakang Arga, tampak gemetar. Ia bukan lagi sepupu yang angkuh; ia adalah pion yang tahu bahwa jika Arga jatuh, ia akan menjadi orang pertama yang diseret ke penjara karena keterlibatannya dalam penggelapan dana tiga miliar rupiah.
Arga tidak membalas dengan kemarahan. Ia melangkah maju, meletakkan tangannya di atas map hitam yang disodorkan investor tersebut. "Kalian lupa satu halaman, Tuan," ucap Arga tenang. "Klausul agunan ini merujuk pada akta pendirian lama. Ada syarat audit internal yang belum kalian penuhi. Tanpa itu, eksekusi ini ilegal."
Investor itu terdiam. Senyum tipisnya memudar. "Kami tidak pernah lupa."
"Kalau begitu, kalian sengaja menyembunyikannya," potong Arga. Ia menatap tajam ke arah Bima Kuncoro, tangan kanan investor tersebut. "Tanpa lampiran hasil audit, kalian tidak bisa memaksa penyerahan penuh malam ini. Dan saya tahu, kalian tidak punya hasil audit itu karena kalian sendiri yang memanipulasi buku besar."
Ruangan itu mendadak sunyi. Arga menggeser tabletnya ke tengah meja, menampilkan grafik arus kas yang ia susun sendiri. "Kalian ingin restoran ini? Silakan. Tapi jika kalian menutup dapur malam ini, nilai agunan kalian akan anjlok. Saya punya data reservasi, proyeksi pendapatan, dan kontrak katering tiga bulan ke depan. Jika kalian memaksakan eksekusi, kalian merusak aset yang seharusnya kalian ambil."
Laras, notaris keluarga yang biasanya memihak Ratna, mulai mencondongkan tubuh ke arah layar tablet Arga. Ia melihat angka-angka yang tidak bisa dibantah. Arga tidak sedang memohon; ia sedang menawarkan struktur kemitraan yang lebih menguntungkan bagi investor daripada sekadar menyita aset yang sudah mati.
"Kemitraan terbatas?" tanya Laras, suaranya bergetar. "Apa maksudmu?"
"Kalian masuk sebagai mitra pengawas, bukan pemilik paksa," jelas Arga. "Kalian dapat akses laporan, bagian dari pertumbuhan, dan kepastian utang dibayar. Tapi operasional tetap di tangan saya. Jika kalian menolak, saya akan merilis bukti transfer fiktif yang melibatkan Dimas dan Ratna ke otoritas pasar modal besok pagi. Bersama hasil audit forensik yang sudah dipicu, kalian akan terseret dalam skandal ini."
Ancaman itu dingin dan presisi. Arga tidak berteriak; ia hanya menyodorkan kenyataan. Investor itu menatap Arga, mencoba mencari celah ketakutan di mata pemuda itu, namun ia hanya menemukan dinding baja.
"Kau yakin dewan akan membiarkanmu menahan aset ini?" tanya investor itu.
"Dewan sudah tidak punya kuasa sejak pengakuan Dimas," jawab Arga, melirik sepupunya yang tertunduk lesu. "Audit forensik sudah berjalan. Kalian punya dua pilihan: ambil kemitraan ini dan selamatkan uang kalian, atau paksa eksekusi dan hancurkan diri kalian sendiri bersama kami."
Investor itu terdiam cukup lama. Ia tahu Arga tidak menggertak. Di balik kaca dapur, para koki tua memperhatikan dengan napas tertahan. Arga telah mengubah posisi mereka dari korban menjadi pemegang kendali.
"Saya akan pertimbangkan," ujar investor itu akhirnya, meski matanya masih menyimpan kebencian. "Tapi ingat, ini syarat terakhir. Restoran pusaka, atau seluruh utang jatuh tempo sekaligus. Tidak ada ruang abu-abu."
Saat rombongan investor itu pergi, Arga tetap berdiri di sana. Ia tahu ini belum berakhir. Ponselnya bergetar—sebuah pesan singkat masuk: pengesahan eksekusi final akan dibawa sebelum subuh. Arga menatap Dimas dan Laras yang masih terpaku di meja.
"Perang ini belum selesai," bisik Arga. "Malam ini, kita bukan lagi keluarga yang sedang berperang. Kita adalah orang-orang yang harus memutuskan siapa yang akan memegang hak suara terakhir sebelum matahari terbit."