Sidang Luar Biasa
Ruang rapat utama Wiraatmaja tidak pernah terasa sedingin ini. Di ujung meja mahoni, Ratna duduk dengan punggung tegak, jemarinya mengetuk permukaan kayu dengan ritme yang menuntut kepatuhan. Di hadapannya, tumpukan dokumen pengusiran Arga Wiraatmaja sudah siap, hanya menunggu tanda tangan dari sisa direksi yang tersisa.
Arga melangkah masuk tepat saat jam dinding menunjukkan pukul 09.00. Ia tidak membawa amarah, hanya sebuah map kulit berisi bukti yang telah ia susun selama tujuh hari terakhir. Di belakangnya, Dimas mengekor dengan wajah pucat pasi, matanya menghindari tatapan Ratna.
"Sidang luar biasa ini diadakan untuk mengakhiri gangguan yang menghambat operasional," suara Ratna memecah kesunyian, tajam dan tanpa emosi. "Arga, letakkan surat pengunduran dirimu dan tinggalkan ruangan ini selamanya."
Arga tidak bergerak. Ia justru menarik kursi di sisi berlawanan, tepat di hadapan Ratna. "Sebelum tanda tangan itu dibubuhkan, ada satu hal yang harus dicatat dalam notulensi rapat," suaranya tenang, namun cukup keras untuk membuat para komisaris menoleh. "Tentang aliran dana tiga miliar rupiah dari kas cadangan operasional ke rekening pribadi yang disamarkan sebagai biaya restrukturisasi."
Ratna tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Tuduhan basi. Dimas, jelaskan pada mereka bahwa Arga sedang berhalusinasi."
Semua mata beralih ke Dimas. Arga menatap sepupunya itu, memberikan isyarat tipis melalui tatapan mata yang mengingatkan pada bukti transfer yang kini tersimpan di saku dalam jasnya. Dimas menelan ludah, tenggorokannya bergerak naik-turun. Ia tahu, jika ia berbohong sekarang, Arga akan melepaskan bukti itu ke otoritas pasar modal dalam hitungan menit.
"Saya..." Dimas memulai, suaranya parau. Ia menatap Ratna yang kini menatapnya dengan ancaman tersirat. "Saya hanya menjalankan instruksi. Semua otorisasi restrukturisasi itu... Ibu yang memerintahkannya secara langsung."
Ruangan itu meledak dalam bisik-bisik. Ratna tersentak, wajahnya kehilangan warna. "Dimas, jaga bicaramu!"
"Ini catatannya," Arga memotong, membuka mapnya dan menyebarkan salinan log otorisasi di atas meja. "Bukan hanya tiga miliar. Ada pola pengalihan aset yang sistematis selama enam bulan terakhir. Jika kita tidak melakukan audit forensik sekarang, dewan direksi akan terseret dalam tuntutan hukum atas kelalaian pengawasan."
Notaris keluarga yang duduk di sudut ruangan mulai mencatat dengan cepat. Ratna mencoba meraih dokumen di depannya, namun Arga menahan ujung map tersebut dengan telapak tangannya. "Kursi matriark bukan milik Anda jika Anda menggunakannya untuk menguras darah perusahaan, Ratna."
Ratna menatap Arga, kebencian di matanya kini bercampur dengan ketakutan yang nyata. Ia sadar, posisi kepemimpinannya baru saja runtuh di depan orang-orang yang selama ini ia kendalikan. Arga tidak lagi terlihat seperti ahli waris yang dibuang; ia adalah predator yang baru saja mengunci mangsanya.
"Sidang ditunda," seorang komisaris senior berdiri, wajahnya merah padam karena marah. "Ratna, Anda harus memberikan penjelasan tertulis sebelum rapat dilanjutkan besok pagi."
Arga berdiri, merapikan jasnya. Ia telah memenangkan pertempuran hari ini, namun saat ia melirik dokumen terakhir di mapnya, ia melihat sebuah nama yang tidak asing: entitas investasi luar yang selama ini menyuntikkan dana fiktif ke dalam sistem keluarga Wiraatmaja. Kemenangan atas Ratna hanyalah permulaan. Di balik tirai kekuasaan keluarga ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang kini mulai mengarahkan pandangannya kepada Arga.