Novel

Chapter 7: Pengkhianatan di Dalam Lingkaran

Arga memojokkan Dimas dengan bukti penggelapan dana tiga miliar rupiah dan menuntut kesaksian melawan Ratna. Dimas, yang menyadari dirinya dijadikan tumbal, mulai goyah di bawah ancaman audit eksternal. Arga kini bersiap membawa Dimas ke ruang rapat untuk menjatuhkan Ratna.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pengkhianatan di Dalam Lingkaran

Sembilan belas menit. Waktu yang tersisa sebelum dokumen pengusiran Arga Wiraatmaja disahkan oleh dewan direksi. Di ruang VIP restoran cabang yang terletak di pinggiran kota, Dimas Wiraatmaja duduk mematung. Bau kaldu sapi dan rempah dari dapur di bawah ruangan ini merembes masuk, kontras dengan kemeja sutra Dimas yang kini tampak kusut.

Arga meletakkan map tipis di atas meja kayu. Tidak ada teriakan, tidak ada ancaman fisik. Hanya keheningan yang menekan.

“Baca,” perintah Arga singkat.

Dimas menarik map itu. Di dalamnya, Arga telah menyusun bukti yang tak terbantahkan: log otorisasi sistem pukul 01.14 pagi, catatan manual Laras yang menautkan aliran dana ke pengeluaran fiktif, dan jejak transfer tiga miliar rupiah yang diparkir di akun penampung sebelum dialirkan ke rekening pribadi Ratna. Angka-angka itu terlalu rapi untuk sebuah kebetulan.

“Ini bisa dipelintir,” gumam Dimas, meski suaranya bergetar. “Aku cuma menekan tombol otorisasi.”

“Kau menekan tombol itu dengan perangkat pribadimu, di jam yang tidak seharusnya ada orang di kantor, dan kau menyusun jalurnya agar terlihat seperti biaya bahan baku,” potong Arga dingin. “Di depan notaris dan auditor, ini bukan lagi kesalahan administratif. Ini penggelapan terencana.”

Dimas terdiam. Ia menatap Arga, mencari celah kelemahan, namun yang ia temukan hanyalah dinding ketenangan yang kokoh. Arga bukan lagi sepupu yang dulu ia injak-injak di ruang arsip. Arga adalah pengawas operasional yang memegang leher finansial keluarga.

“Apa maumu?” tanya Dimas, suaranya nyaris hilang.

“Kesaksian,” jawab Arga. “Kau bersaksi melawan Ratna di depan dewan direksi. Kau ungkap siapa yang memerintahkan penarikan malam dan siapa yang membiarkanmu menjadi tumbal saat audit datang. Jika kau melakukannya, aku akan menahan laporan ini dari pihak kreditur.”

Dimas menatap foto buku besar yang tercabik. Ia tahu, jika ia menolak, Arga akan menyerahkan paket bukti ini kepada pihak luar yang memegang utang keluarga. Bagi kreditur, Dimas adalah target yang paling mudah untuk dikorbankan demi menjaga aset tetap likuid.

“Ratna akan menghabisiku,” bisik Dimas.

“Kalau kau diam, pihak luar yang akan menghabisimu lebih dulu,” balas Arga. Ia berdiri, meninggalkan kartu nama pengawas operasional di meja. “Dua puluh empat jam. Setelah itu, keputusanmu bukan lagi milikmu.”

Arga melangkah keluar. Di lorong, ia menerima pesan singkat dari Laras: seseorang telah membongkar laci arsip sebelum Arga tiba, dan halaman krusial buku besar telah hilang. Arga tidak terkejut. Ia tahu Ratna sedang berjuang menutup jejak, namun ia juga tahu bahwa Dimas adalah kunci yang tersisa.

Di balik kaca ruang rapat, bayangan para direktur bergerak gelisah. Bima Kuncoro masih menahan pengesahan, menuntut verifikasi atas transfer malam. Arga menatap pintu ruang VIP tempat Dimas masih duduk sendirian. Ia tahu, saat sidang luar biasa dimulai nanti, kesaksian Dimas akan menjadi palu yang menghancurkan kursi matriark Ratna.

Sidang akan segera dimulai, dan Arga siap untuk mengambil alih kendali.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced