Novel

Chapter 4: Panggung yang Bergeser

Arga mengambil alih kendali operasional restoran dengan memangkas rantai korupsi harga bahan baku. Ia berhasil memenangkan loyalitas karyawan senior, memojokkan Dimas, dan mengamankan pasokan lewat pemasok baru, namun kemenangannya memicu ancaman baru dari pihak eksternal yang mulai mengincar utang keluarga.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Panggung yang Bergeser

Aroma kaldu sapi yang pekat dan rempah kayu manis menyambut Arga saat ia melangkah masuk ke dapur utama restoran Wiraatmaja. Di sini, setiap desis penggorengan adalah detak jantung bisnis keluarga. Namun, pagi ini, detak itu terasa sumbang. Dimas berdiri di depan meja kas, jemarinya mengetuk-ngetuk marmer dengan ritme yang tidak sabar. Di sampingnya, Laras, kepala kasir yang telah mengabdi tiga dekade, tampak gelisah memegang tumpukan faktur yang belum terbayar.

"Aku sudah bilang, Arga, kau hanya pengawas sementara di atas kertas. Jangan harap kau bisa merombak sistem yang sudah berjalan bertahun-tahun," ujar Dimas tanpa menoleh, suaranya sarat dengan nada merendahkan.

Arga tidak membalas dengan kemarahan. Ia berjalan melewati Dimas, berhenti tepat di depan rak bahan baku yang mulai menipis. Ia membuka buku catatan kecilnya, membandingkan harga pasar yang ia catat dengan faktur di tangan Laras. "Tepung terigu kualitas premium, enam puluh ribu per sak? Dimas, harga pasar saat ini maksimal empat puluh dua ribu. Kita membuang hampir empat puluh persen margin keuntungan hanya untuk pemasok yang sama sekali tidak kredibel."

Laras membelalak, ia segera membandingkan angka itu dengan catatan di komputernya. "Benar, Pak Arga. Sejak bulan lalu, harga dari pemasok PT Sinar Utama memang naik drastis, tapi kami diperintahkan untuk tidak mempertanyakan faktur tersebut."

"Mulai hari ini, semua pembelian bahan harus melalui persetujuanku," potong Arga dingin. Ia menatap mata Dimas yang kini memerah karena amarah yang tertahan. "Dan jika aku menemukan markup harga lagi dalam catatan kas, aku tidak akan hanya memanggil notaris, tapi juga pihak berwajib."

Dimas mencoba membalas, namun Arga sudah memutar tumitnya menuju gudang. Sabotase itu datang lebih cepat dari dugaan. Pukul enam pagi, gudang dalam keadaan kosong melompong. Pemasok utama membatalkan pengiriman daging wagyu dan ikan kerapu dengan alasan administratif yang dibuat-buat, menunggu tanda tangan Dimas yang tak kunjung diberikan.

"Kosong, Pak Arga," suara Pak Jaka, mandor gudang, bergetar. "Mereka bilang gudang tertutup untuk kita tanpa persetujuan Mas Dimas."

Arga tidak membuang energi untuk memohon. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka daftar pemasok cadangan yang ia simpan sejak lama—pemasok yang pernah ditolak Ratna karena tidak mau memberikan komisi bawah tangan. Dalam dua puluh menit, Arga mengunci kontrak dengan pemasok baru yang menawarkan harga lebih rendah dengan kualitas lebih tinggi. Ia tidak hanya mengisi gudang, ia memangkas rantai korupsi yang selama ini menjadi napas bisnis Dimas.

Ketegangan memuncak saat Arga kembali ke area dapur. Dimas berdiri di sana, mencoba memprovokasi karyawan senior untuk mogok kerja. Namun, Arga membawa bukti nyata: daftar penghematan yang mencapai dua puluh tiga persen dalam hitungan jam. Ia meletakkan catatan itu di atas meja potong, tepat di depan tangan kanan Dimas.

"Pilih, tetap setia pada manajemen yang menggerogoti kas kita, atau ikut aku membangun kembali nama Wiraatmaja dengan angka yang masuk akal," ujar Arga.

Laras Sihombing menjadi yang pertama melangkah maju, meletakkan clipboard-nya di sisi Arga. Karyawan lain mengikuti. Dimas terpojok, sendirian di tengah dapur yang kini patuh pada Arga. Saat restoran mulai dipenuhi pelanggan yang kembali karena aroma masakan yang membaik, Arga menerima pesan singkat. Laba yang naik itu ternyata memicu perhatian lain; seseorang di luar keluarga mulai membeli utang-utang mereka di pasar gelap. Perang baru saja dimulai, dan kali ini, taruhannya bukan lagi sekadar dapur, melainkan eksistensi seluruh aset keluarga.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced