Novel

Chapter 5: Perang Harga dan Gengsi

Arga menangkis upaya Ratna membeli kritik kuliner dengan membuka suap itu secara publik, lalu membalik reputasi restoran lewat media sosial dan strategi ruang yang membuat restoran kembali penuh. Saat kemenangan kecil tercapai, Bima Kuncoro menemukan selisih kas yang mengarah pada penyembunyian dana oleh jalur Ratna, dan pesan anonim mengungkap bahwa pihak luar mulai membeli utang keluarga. Chapter berakhir dengan ancaman audit mendadak yang bisa memojokkan Ratna lebih jauh dan membuka perang ke level likuiditas.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Perang Harga dan Gengsi

Nama Wiraatmaja baru saja dipasang ulang di papan depan dengan huruf emas yang bersih, tetapi dari ambang dapur Arga masih menerima satu bentuk penghinaan yang lebih mahal daripada kata-kata: ia diminta tetap di belakang. Kepala pelayan menyampaikannya tanpa mengangkat suara, seolah tugas itu wajar. Seolah lelaki yang memegang izin operasional restoran ini hanya pantas berdiri di sisi pintu, bukan di ruang depan tempat nama keluarganya dijual kembali pada mata publik.

Arga tidak menjawab. Ia menaruh telapak di atas buku reservasi, membuka halaman yang penuh coretan pembatalan, lalu melihat angkanya perlahan menyusut. Tiga meja kosong tadi pagi kini terisi. Dua tamu VIP bahkan meminta kursi dekat kaca. Bukan karena promosi. Karena restoran yang sempat dianggap goyah kini kembali memancarkan satu hal yang paling cepat mengundang uang: kepastian.

Di sisi kanannya, Pak Jaya menunggu instruksi dengan apron masih bersih. Arga menunjuk dua meja di dekat jendela.

“Pindahkan ke kanan. Longgarkan jarak meja tengah. Jangan padatkan kursi seperti warung event,” katanya singkat.

Pak Jaya mengangguk sekali. Tidak ada tepuk dada, tidak ada pujian. Arga memang tidak sedang membangun suasana; ia sedang menata sinyal. Orang kelas atas jarang membeli makanan semata. Mereka membeli rasa aman, ruang napas, dan kesan bahwa mereka datang ke tempat yang masih punya kelas.

Ketika seorang pramusaji muda hendak menumpuk kursi cadangan terlalu dekat pintu, Arga menahannya dengan satu gerakan jari. “Biarkan lorongnya lebar. Tamu yang masuk harus merasa restoran ini teratur, bukan lapar.”

Pramusaji itu buru-buru mundur. Ketaatan kecil semacam itu sudah cukup untuk menunjukkan sesuatu yang lebih besar: dapur kini mendengar satu suara.

Pesan dari Ratna datang ke ponsel kepala pelayan sebelum Arga sempat menutup buku reservasi.

Arga tetap di belakang. Jangan biarkan dia muncul di ruang depan. Cukup nama keluarga yang terlihat.

Kepala pelayan menelan ludah, lalu menyampaikan isi pesan itu dengan wajah sengaja datar, seakan ia hanya memindahkan amplop tagihan. Arga menerima kabar itu tanpa perubahan ekspresi.

“Kalau mereka mau menyuruh saya bersembunyi di rumah sendiri, setidaknya mereka harus tahu siapa yang masih mengendalikan kas,” ujarnya.

Ia menarik daftar pelanggan tiga bulan terakhir dari front desk dan meminta staf mencatat siapa yang datang karena rekomendasi, siapa yang datang karena hubungan, dan siapa yang datang hanya setelah melihat keramaian. Itu bukan permintaan kosong. Di papan keputusan bisnis, Arga sedang memisahkan uang yang murni dari uang yang ikut arus.

Beberapa menit kemudian pintu kaca bergeser. Raka Pradana masuk dengan langkah tenang orang yang terbiasa dinilai orang lain. Di belakangnya, seorang asisten membawa amplop krem tanpa nama, terlalu rapi untuk disebut hadiah, terlalu cepat untuk disebut sopan santun. Arga melihat pergerakan tangan itu dari jarak tiga meter. Ia tidak perlu menebak isi amplopnya.

Ia keluar dari ambang dapur dan memotong jalur asisten itu tepat saat amplop mulai berpindah.

“Cukup,” ucapnya.

Lorong di antara meja depan dan bar mendadak sunyi. Arga menoleh ke staf yang memegang ponsel di dekat rak gelas.

“Rekam,” katanya.

Kepala pelayan tergagap. “Tuan Arga, ini—”

“Rekam.” Suaranya tetap rendah, tetapi tidak memberi ruang untuk tawar-menawar. “Kalau keluarga ini mau bermain harga di dalam restoran, kita buka harga mereka di depan publik.”

Asisten itu menegang. Raka sendiri berhenti satu langkah sebelum meja depan, tatapannya bergerak dari amplop ke wajah Arga, lalu turun ke ponsel yang sudah menyala.

“Ini cara Anda menyambut kritikus?” tanya Raka.

“Ini cara saya mencegah opini dibeli sebelum piring datang,” balas Arga.

Arga menggeser kursi paling depan, bukan kursi VIP. Itu penghinaan yang terlalu rapi untuk disebut kasar. Raka diperlakukan sebagai tamu biasa. Di tempat semacam ini, itu sama saja dengan mengatakan: opini Anda tidak lebih mahal dari pelanggan yang membayar penuh.

Asisten Ratna mencoba menutup amplop itu kembali, tetapi Arga sudah melihat cukup. Ia mengangkat dagunya ke staf depan.

“Kalau ada yang mau bicara soal restoran ini, pastikan mereka lihat dapurnya dulu. Bukan meja yang disiapkan untuk dibeli.”

Raka tidak langsung duduk. Ia memandang Arga beberapa detik, lalu menjatuhkan amplop di atas meja tanpa membukanya.

“Menarik,” katanya pelan. “Biasanya keluarga Anda lebih suka menyapaku sebelum makanan datang.”

“Hari ini, Anda akan menilai restoran ini dari kerja dapur,” jawab Arga. “Bukan dari siapa yang membayar kursi Anda.”

Raka akhirnya duduk. Arga tidak memberi sambutan. Ia berjalan kembali ke dapur, mengambil komposisi menu asli yang sudah disederhanakan, lalu memeriksa satu per satu piring yang keluar. Tidak ada drama. Hanya dapur yang bergerak lebih cepat dari rumor.

Dalam beberapa menit, potongan video amplop itu sudah naik di akun resmi restoran. Keterangan yang menyertainya pendek dan dingin:

Penilaian kuliner harus berdiri di atas kualitas, bukan intervensi. Setiap upaya memengaruhi penilaian akan dicatat.

Komentar publik mulai bergeser. Bukan berubah jadi pujian langsung, melainkan menjadi sesuatu yang lebih berguna: rasa ingin tahu.

Di kantor kecil dekat kasir, Ratna dan Dimas menatap layar ponsel mereka dengan wajah yang kehilangan warna. Arga tidak melihatnya langsung, tetapi kabar itu bergerak cepat melalui staf. Ratna mencoba menekan dari luar; Arga justru mengubah tekanan itu menjadi bukti.

Bima Kuncoro tiba sekitar dua puluh menit kemudian, membawa map abu-abu dan setelan yang tidak mencolok. Ia adalah auditor yang dikirim oleh pemegang saham minoritas—orang yang tidak hadir untuk memuji, melainkan untuk menghitung celah. Ia berdiri di dekat meja kasir, membaca arus transaksi seperti orang membaca nadi.

“Kalau reputasi naik cepat begini,” katanya pada Arga, “orang biasanya mulai panik menutup jejak.”

Arga tidak menoleh ke arah kantor Ratna. Ia hanya menggeser ponsel ke atas meja kasir.

“Biarkan jejaknya kelihatan.”

Bima membuka mapnya, menaruh beberapa lembar rekonsiliasi di bawah lampu. “Ada selisih yang tidak masuk akal dalam tiga minggu terakhir. Tidak besar di satu hari, tapi cukup untuk menggerogoti likuiditas kalau digabung. Kalau ini berlanjut, keluarga ini tidak cuma kehilangan muka. Mereka bisa kehilangan napas.”

Kalimat itu masuk ke ruangan dengan berat yang berbeda. Bukan ancaman kosong, melainkan penilaian kerja.

Arga menatap angka-angka di kertas itu, lalu ke dapur yang masih penuh gerak. Ia sudah memangkas biaya operasional 23 persen dalam satu hari. Kini ia melihat tempat lain di mana uang keluar tanpa suara.

“Siapa yang pegang kas harian minggu lalu?” tanyanya.

“Masih jalur lama,” jawab Bima. “Tapi ada transaksi yang ditarik lewat pos biaya pemasaran dan pengadaan tamu khusus. Terlalu bersih untuk kelihatan jujur, terlalu berantakan untuk disebut rapi.”

Arga langsung tahu nama di belakangnya, meski Bima belum menyebutnya. Ratna suka menutupi tangan dengan istilah administrasi.

Malam itu restoran penuh kembali. Meja depan terisi, pesanan mengalir, dan karyawan yang kemarin masih ragu kini bergerak lebih cepat karena mereka melihat sendiri hasil kerja Arga. Tidak ada orang yang perlu diyakinkan ketika uang mulai datang lebih lancar dari biasanya.

Namun satu jam setelah peak service, ponsel Arga bergetar lagi.

Nomor tak dikenal.

Isi pesannya hanya satu kalimat:

Laba yang naik membuat orang di luar keluarga mulai membeli utang kalian.

Arga membaca kalimat itu dua kali. Ruangan di sekelilingnya tetap ramai, tetapi kepalanya menjadi lebih dingin daripada udara dari ruang pendingin. Itu bukan gertakan. Itu sinyal bahwa ada pihak luar yang menunggu keluarga ini goyah cukup lama untuk masuk lewat pasar gelap.

Bima, yang masih berdiri di dekat kasir, membuka lembar berikutnya. Kali ini wajahnya benar-benar berubah.

“Arga,” katanya, menahan nada agar tidak terdengar di meja tamu. “Ada selisih lain. Bukan di dapur. Di buku kas internal.” Ia menunjuk satu kolom. “Nominalnya ditarik berkala lewat jalur yang seolah-olah untuk biaya penunjang acara, tapi tidak pernah sampai ke vendor yang terdaftar. Kalau aku cocokkan dengan laporan awal yang kau kirim ke otoritas pasar modal, celah ini akan terlihat seperti sengaja disembunyikan.”

Arga membeku sepersekian detik. Di luar, gelas beradu pelan, suara sendok menyentuh piring, dan aroma kaldu dari dapur menahan ruangan agar tetap terasa hidup. Di atas kertas, justru di situlah masalahnya: likuiditas keluarga sedang bocor, dan bocor itu memakai nama yang terlalu rapi untuk diumumkan.

Ratna akhirnya keluar dari kantornya. Ia tidak mendekat seperti orang marah. Ia berjalan dengan langkah pendek yang ditahan, baju kerjanya tetap sempurna, wajahnya tidak memberi ruang untuk membaca panik. Di belakangnya, Dimas berdiri di ambang pintu kantor, tidak ikut ke depan, seperti seseorang yang sudah terlalu sering terlambat untuk masih terlihat penting.

Ratna menatap Arga, lalu ponsel Bima, lalu kasir.

“Siapa yang memberi Anda wewenang membuka itu di sini?” tanyanya.

Arga meletakkan ponselnya di atas meja kasir, layar masih menyala dengan pesan anonim.

“Klausul audit yang Anda semua lupa cabut,” jawabnya.

Ratna diam sejenak. Bukan karena tak punya jawaban, melainkan karena jawaban yang tersedia tidak akan menguntungkannya. Di depan staf, di depan auditor, di depan tamu yang setengah mendengar, ia tidak bisa menekan Arga tanpa memperbesar lubang yang baru saja terbuka.

Bima memindahkan satu lembar lagi ke arah Arga. “Kalau ini benar, Arga, keluarga ini punya problem yang lebih besar daripada reputasi restoran. Ada aliran dana yang keluar tanpa dasar operasional. Dan kalau pihak luar sudah mulai membeli utang mereka, malam ini bisa jadi awal pengambilalihan yang lebih luas.”

Arga membaca angka itu, lalu menatap ke ruang depan yang kini penuh. Nama Wiraatmaja memang kembali terpajang, tetapi lampu yang menyala di bawahnya tidak lagi tampak seperti kemenangan. Lebih seperti target.

Ia mengembalikan lembar kertas itu ke atas map.

“Teruskan auditnya,” katanya kepada Bima. “Jangan tunggu pagi.”

Lalu ia mengangkat ponsel, membuka pesan masuk lain yang baru muncul dua detik lalu. Isinya tidak panjang, dan justru karena itu terasa lebih berat:

Buku kas yang hilang bukan satu-satunya yang dicari. Ada halaman dari buku besar asli yang sudah dibuka orang sebelum kamu tiba di arsip.

Arga tidak mengubah wajah. Tetapi dari caranya memegang ponsel, Bima tahu pesan itu mengenai sesuatu yang lebih lama dan lebih berbahaya daripada sekadar penjualan utang.

Di balik sorot lampu restoran yang kembali penuh, perang baru saja bergeser dari gengsi ke pembukuan. Dan malam itu belum selesai.

Kalau celah kas ini benar milik Ratna, siapa yang sudah lebih dulu mengutak-atik buku besar asli di ruang arsip?

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced