Pembalikan di Depan Notaris
Pintu mahoni ruang rapat Wiraatmaja berderit, memecah keheningan yang menyesakkan. Arga melangkah masuk tepat saat Bima Kuncoro, notaris keluarga, mengangkat pena perak di atas tumpukan dokumen segel. Bau sisa kaldu dari dapur restoran leluhur yang masih menempel di jaket Arga terasa seperti anomali kasar di tengah aroma parfum mahal yang mendominasi ruangan.
Ratna Wiraatmaja duduk tegak, tangannya menekan map kulit hitam di atas meja dengan sengaja, menutupi ruang kosong yang seharusnya menjadi tempat tanda tangan Arga. "Kamu tidak punya hak untuk kembali ke sini, Arga. Keamanan sudah diperintahkan untuk—"
"Keamanan lebih tahu mana yang membayar gaji mereka daripada siapa yang menandatangani cek palsu," potong Arga dingin. Ia tidak berteriak. Ia meletakkan buku besar restoran leluhur yang sudah tidak lengkap ke atas meja marmer. Suara gedebuknya memutus napas semua orang di ruangan itu. "Halaman-halaman yang hilang memang sudah dicabut, Dimas. Tapi pola pengeluaran fiktif untuk entitas luar di bulan Agustus tetap terbaca jelas di sini. Jika notaris menandatangani pengusiran ini sekarang, dia secara otomatis ikut melegalkan audit yang cacat hukum."
Dimas berdiri, wajahnya memerah. "Itu sampah kertas! Data mentah yang tidak terverifikasi!"
Arga tidak membalas teriakan itu. Ia justru menyodorkan folder abu-abu berisi salinan laporan resmi yang sudah ia kirimkan ke otoritas pengawas pasar modal sepuluh menit lalu. "Bukan sampah. Ini adalah bukti pendukung untuk nomor registrasi audit yang diwajibkan Pasal 11 akta pendirian. Pak Bima, silakan periksa. Apakah Anda berani membubuhkan stempel di atas dokumen yang secara hukum belum diaudit?"
Bima Kuncoro gemetar. Ia menarik dokumen itu, matanya memindai angka-angka yang ditunjuk Arga. Keheningan di ruangan itu berubah menjadi ketakutan yang nyata. Ratna mencoba memotong, "Arga, kamu mencoba menghambat proses legal dengan intimidasi!"
"Saya tidak mengintimidasi, Ratna. Saya hanya memastikan bahwa saat audit eksternal datang minggu depan, nama Anda ada di baris pertama daftar tersangka penggelapan aset," jawab Arga datar. Ia menatap notaris yang kini memucat. "Pilihannya sederhana: hentikan proses ini, atau biarkan otoritas yang membuka laci-laci rahasia di dapur bawah itu."
Dewan direksi mulai berbisik. Dimas kehilangan kendali atas ruang rapat. Arga tidak lagi dipandang sebagai anak buangan yang memohon belas kasihan, melainkan sebagai orang yang memegang kunci pintu keluar. Di bawah tekanan audit eksternal, dewan terpaksa mengambil jalan tengah yang pahit bagi Ratna: menunda pengusiran dan menetapkan Arga sebagai pengawas operasional sementara.
Begitu status itu diumumkan, Arga merasakan atmosfer ruangan bergeser. Dimas kehilangan hak bicara atas dapur. Di sudut ruangan, seorang kepala operasional lama yang selama ini diam, menunduk memberi hormat pada Arga—sebuah pengakuan loyalitas yang diam-diam berpindah pihak. Arga tahu ini baru permulaan, namun untuk pertama kalinya, ia tidak lagi berdiri di luar pintu; ia kini memegang kendali atas kunci yang akan membongkar seluruh kebusukan keluarga Wiraatmaja.