Novel

Chapter 2: Audit yang Terkubur

Arga menyusup ke restoran leluhur untuk mengamankan buku besar asli, namun mendapati arsip telah dibersihkan oleh orang suruhan Ratna. Meski sebagian bukti telah dicabut, Arga berhasil mendapatkan buku besar yang mengungkap pola transaksi fiktif. Ia berhasil meloloskan diri dari kejaran Dimas dan notaris dengan menggunakan pengetahuan tata letak restoran, dan kini bersiap kembali ke ruang rapat dengan bukti yang mampu menghentikan proses pengusiran dirinya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Audit yang Terkubur

Dua belas menit setelah rapat direksi ditunda, Arga Wiraatmaja berdiri di pintu servis restoran leluhur. Di dalam, jam makan malam sedang mencapai puncaknya. Gelas beradu, sendok berdenting, dan dari dapur terdengar benturan wajan yang ritmis—sebuah simfoni kesibukan yang dulu menjadi detak jantung kekuasaan keluarganya. Sekarang, ia adalah orang asing di rumahnya sendiri.

Laras Sihombing, kepala administrasi yang wajahnya pucat pasi, muncul dari balik meja potong. Ia memegang map tipis, tangannya sedikit gemetar. Begitu melihat Arga, ia berhenti. Tidak ada sapaan, hanya ketakutan yang kentara.

“Mas Arga,” suaranya tertahan. “Bapak dan Ibu sudah memberi instruksi tegas. Anda tidak boleh masuk ke area operasional.”

Arga menatap Laras, lalu menyapu pandangan ke sekeliling dapur. Rak panci yang miring, noda minyak di dinding, dan petugas keamanan yang berdiri kaku di dekat pintu freezer—semuanya adalah bukti nyata dari kemerosotan yang disengaja. “Kalau area ini masih hidup, berarti masih ada yang mencoba menutup jejak. Siapa yang memerintahkan pembersihan arsip?”

Laras menelan ludah. Matanya melirik ke arah lorong menuju ruang pendingin. Gerakan itu cukup. Arga tidak menunggu jawaban. Ia melangkah maju, memotong jarak dengan dingin. “Laras, kau tahu aku memegang nomor registrasi audit yang tidak ada di buku direksi. Jika namamu ada dalam log pemindahan berkas, kau yang pertama kali diseret ke depan otoritas pasar modal. Ratna tidak akan melindungimu.”

Nama itu membuat suasana dapur membeku. Laras memejamkan mata, napasnya pendek. “Beliau memerintahkan pembersihan sebelum tengah malam. Katanya, buku besar asli itu adalah bom waktu. Saya hanya disuruh memastikan laci samping di ruang arsip dikosongkan.”

Arga tidak membuang waktu. Ia melewati Laras, masuk ke jalur sempit di balik rak bumbu yang hanya diketahui oleh keluarga inti. Bau kaldu tua dan kertas lembap menyambutnya di ruang arsip. Begitu ia mencapai rak belakang, ia tahu ia terlambat. Debu di gagang laci tidak rata, dan lantai memiliki bekas seretan sepatu yang masih baru.

Seseorang sudah mendahului dia.

Arga menekan panel kayu di balik ventilasi. Laci tersembunyi itu terbuka. Kosong setengah. Hanya satu buku besar bersampul hitam yang tersisa. Ia menariknya keluar, membuka halaman-halamannya dengan cepat. Tanda silang, kolom pengeluaran yang dimanipulasi, dan transaksi fiktif yang dialirkan ke entitas luar. Namun, beberapa lembar krusial telah dicabut dengan rapi.

Suara langkah kaki berat terdengar dari lorong. Dimas Wiraatmaja muncul di ambang pintu, diikuti oleh notaris keluarga yang membawa koper kulit.

“Masih suka bermain di tempat yang bukan milikmu?” suara Dimas tajam, penuh kebencian yang tertahan. “Serahkan dokumen itu, Arga. Itu aset internal yang dilindungi.”

Arga tidak bergeming. Ia meletakkan fotokopi nomor registrasi audit di atas rak, tepat di depan mata notaris. “Nomor ini aktif dan klausul audit dalam akta pendirian belum dicabut. Jika kalian menyentuh buku ini sekarang, kalian resmi melakukan penghilangan bukti di depan notaris.”

Notaris itu terdiam, matanya terpaku pada angka di kertas tersebut. Ia tampak ragu, risiko profesional mulai mengalahkan loyalitas pada Dimas. Arga memanfaatkan keraguan itu. Ia mundur ke celah lorong servis, menekan kait rahasia, dan menghilang ke balik dinding sebelum pengawal Dimas sempat bereaksi.

Ia keluar di area parkir servis, masuk ke mobil pengantar bahan yang mesinnya masih menyala. Di dalam mobil, Arga membuka kembali buku hitam itu di bawah cahaya lampu dasbor. Data di dalamnya bukan sekadar manipulasi laporan; itu adalah bukti restrukturisasi aset yang melibatkan nama-nama besar di luar keluarga.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk: Rapat direksi disiapkan ulang. Tanda tangan lanjutan dimulai dalam 19 menit.

Arga menatap buku besar di pangkuannya. Ia tidak lagi hanya mencari keadilan; ia memegang senjata yang bisa meruntuhkan seluruh struktur kekuasaan yang dibangun Ratna dan Dimas. Sebelum tanda tangan terakhir kering, ia harus kembali ke ruang rapat itu. Kali ini, ia tidak akan meminta kursi. Ia akan mengambil alih papan direksi.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced