Sisa Kaldu di Ruang Rapat
Notaris meletakkan map krem itu di atas meja marmer hitam dengan dentuman yang terasa seperti palu hakim. Di ruang rapat lantai dua gedung Wiraatmaja, udara dingin dari pendingin ruangan membekukan sisa aroma kaldu dari restoran leluhur di lantai dasar—bau rempah pekat yang seharusnya menjadi simbol kejayaan keluarga, kini hanya terasa seperti bangkai bisnis yang sedang membusuk.
Arga Wiraatmaja duduk di kursi paling ujung. Posisinya bukan sebagai pewaris, melainkan sebagai objek yang sedang dikosongkan. Di seberang meja, Dimas Wiraatmaja menyandarkan punggung dengan santai, kemeja putihnya tanpa satu pun lipatan, jam tangan mahalnya berkilau di bawah lampu sorot—sebuah tanda bahwa ia sudah lebih dulu memenangkan posisi ini. Ia melirik Arga, lalu beralih ke para pemegang saham yang hadir bukan sebagai sekutu, melainkan sebagai penonton eksekusi.
“Supaya jelas,” suara Dimas memecah keheningan, dingin dan tajam. “Kita tidak sedang membahas konflik keluarga. Kita hanya sedang menertibkan aset. Arga adalah anak yang dibuang, yang terlalu lama memegang akses tanpa kontribusi nyata.”
Beberapa pemegang saham menunduk, menghindari kontak mata. Ratna Wiraatmaja, sang matriark, duduk tegak di kepala meja. Tangan kanannya menekan map berstempel merah yang sudah terbuka. Di dalamnya, surat pelepasan hak waris dan penarikan otorisasi telah siap. Arga tidak menyentuh map itu. Ia justru menatap layar presentasi di belakang Ratna, di mana grafik penurunan omzet restoran leluhur ditampilkan dengan warna merah yang mencolok.
“Tiga bulan,” Arga memulai, suaranya tenang namun cukup bertenaga untuk menghentikan desas-desus di ruangan. “Omzet anjlok dua puluh persen. Bukan karena pasar sedang lesu, tapi karena ada lubang di rantai pasok bahan baku. Kalian memotong kualitas untuk menutupi defisit kas operasional yang salah urus.”
Ruangan mendadak sunyi. Dimas mengetuk pena ke meja, matanya menyipit. “Kalau kau sudah selesai dengan drama itu, Arga, tanda tangani saja. Waktu direksi tidak dibayar untuk mendengar anak yang dibuang mengajari keluarga sendiri cara menghitung.”
Ratna mengangkat tangan, memberi isyarat agar notaris kembali mendorong map ke depan Arga. “Cukup. Agenda hari ini hanya dua: pengesahan pelepasan hak dan restrukturisasi operasional. Tanda tangani, maka kau bisa pergi dengan sisa martabatmu.”
Arga tidak bergerak. Ia justru membuka berkas tipis yang ia bawa sendiri. Bima Kuncoro, kepala auditor internal, menatap Arga dengan rasa ingin tahu yang tertahan. Arga tidak sedang melawan dengan teriakan; ia melawan dengan data yang tidak ada di agenda rapat.
“Kalian lupa satu hal,” ujar Arga. Ia berdiri perlahan, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan. “Restoran leluhur bukan sekadar properti. Ia adalah jantung hukum perusahaan ini. Ada klausul audit dalam akta pendirian yang mewajibkan setiap perubahan struktur operasional diawasi oleh auditor independen—bukan oleh kalian yang justru memiliki konflik kepentingan dalam penurunan omzet ini.”
Ratna tertegun. Wajahnya yang biasanya dingin kini menunjukkan retakan pertama. Dimas bangkit berdiri, wajahnya memerah karena amarah yang tertahan. “Itu klausul mati! Sudah tidak relevan selama sepuluh tahun!”
“Klausul itu tidak pernah dicabut,” potong Arga, matanya menatap tajam ke notaris. “Dan selama audit itu belum dijalankan, setiap tanda tangan di map ini secara hukum ilegal. Jika kalian memaksa, saya akan memastikan seluruh transaksi keluarga ini dibekukan oleh otoritas pasar modal dalam waktu kurang dari satu jam.”
Saat notaris ragu-ragu dan menarik kembali map pelepasan hak tersebut, Arga menyebutkan satu nomor registrasi audit yang tidak tercantum dalam agenda resmi. Wajah Ratna langsung berubah pucat pasi. Ruang rapat yang tadi penuh dengan intimidasi kini berubah menjadi arena ketakutan. Arga tahu, ini hanyalah awal. Di ruang arsip restoran yang bau kaldu tua dan kertas lembap, bukti yang lebih besar menantinya—namun waktu Arga untuk mencapainya semakin sempit sebelum mereka menyadari bahwa ia telah memegang kendali.