Novel

Chapter 11: Rebut Kembali Identitas

Aruna menggunakan bukti evakuasi aset untuk memojokkan keluarga Adinata dalam rapat darurat, memaksa mereka menyerahkan kendali. Bramantyo berdiri teguh di sisi Aruna, mengonfirmasi kemitraan mereka di luar struktur keluarga, sementara Aruna mulai mempertanyakan masa depan hubungan mereka di luar tekanan konflik.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Rebut Kembali Identitas

Penthouse itu hening, namun udara di dalamnya terasa berat oleh sisa-sisa badai semalam. Di meja makan marmer yang dingin, koran bisnis terhampar dengan tajuk utama yang tak lagi bisa disembunyikan: “Kejatuhan Adinata: Bramantyo Melepas Posisi Demi Skandal Waris.” Aruna menatap foto dirinya sendiri yang tertangkap kamera keluar dari ruang rapat—wajahnya tetap tenang, kontras dengan kekacauan narasi media yang mencoba mendramatisasi kejatuhan keluarga itu.

Ponselnya bergetar tanpa henti di atas piring porselen. Permintaan klarifikasi aset, ancaman audit balik, hingga panggilan dari sekretariat dewan yang kini terdengar seperti lolongan kepanikan. Aruna membiarkannya. Ia tidak memberi mereka kepuasan melihatnya panik. Di depannya, map cokelat tebal—laporan audit dan daftar aset cadangan yang menjadi senjata mereka—tergeletak terbuka. Bramantyo berdiri di dekat jendela, bayangannya memanjang di lantai. Ia tidak lagi mengenakan jas direktur Adinata, namun auranya tetap tajam, sisa-sisa otoritas yang kini ia arahkan sepenuhnya untuk melindungi Aruna.

“Mereka akan menyerang dari tiga arah,” suara Bramantyo memecah keheningan, datar namun tegas. “Media, tekanan keluarga, dan gugatan legal atas hak waris yang kamu pegang. Mereka mengira dengan menekanmu, aku akan kembali ke meja negosiasi.”

“Mereka salah,” sahut Aruna. Ia meraih map itu, jemarinya menyentuh dokumen transfer aset sistematis yang melibatkan Maya. “Mereka tidak sadar bahwa bukan aku yang butuh mereka, tapi mereka yang butuh aku untuk menutupi lubang besar yang dibuat Maya.”

Ketukan pintu yang formal dan tajam memutus percakapan mereka. Tanpa menunggu jawaban, seorang pria berjas abu-abu—penghubung hukum keluarga—melangkah masuk bersama dua staf keamanan. Ia meletakkan amplop berlogo Adinata di atas meja, tepat di samping cangkir kopi yang sudah mendingin.

“Agenda rapat keluarga dimajukan,” ujar pria itu tanpa basa-basi. “Mereka menuntut penutupan administratif. Semua dokumen audit yang Nona pegang harus diserahkan untuk ‘ditinjau ulang’ demi kepentingan reputasi keluarga.”

Aruna tidak menyentuh amplop itu. Ia justru membuka map di tangannya, memamerkan salinan jejak tanda tangan digital Maya dan bukti pemindahan dana ke rekening luar negeri yang sistematis. “Katakan pada mereka, audit ini tidak akan ditinjau ulang. Audit ini akan menjadi dasar laporan ke pihak berwajib jika dalam satu jam ke depan, kursi direksi tidak dikosongkan untuk restrukturisasi total.”

Si penghubung tertegun. Bramantyo melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Aruna. Kehadirannya bukan lagi sebagai pengawas kontrak, melainkan perisai yang nyata. Ia menatap pria itu dengan dingin yang membuat suhu ruangan seolah anjlok. “Kalian punya waktu enam puluh menit sebelum bukti ini sampai ke meja regulator pasar modal. Pilihan ada di tangan kalian: menyerahkan kendali secara sukarela, atau melihat nama Adinata hancur di tangan kalian sendiri.”

Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Pria itu menatap bukti yang dipaparkan Aruna, lalu beralih ke Bramantyo. Ia menyadari bahwa ancaman keluarga tidak lagi memiliki taring. Aruna bukan lagi gadis yang dibuang; ia adalah pemegang kunci kehancuran mereka.

Saat mereka pergi dengan tergesa-gesa, Aruna akhirnya menghela napas. Bramantyo meletakkan tangannya di bahu Aruna, sebuah sentuhan yang terasa lebih berat dan lebih tulus daripada kontrak pernikahan mana pun. “Kamu baru saja membakar jembatan mereka,” bisik Bramantyo.

“Aku membangun jalan baru,” jawab Aruna, matanya menatap tajam ke arah gedung Adinata di kejauhan. “Dan kali ini, mereka tidak akan bisa mengikutiku.”

Namun, di balik kemenangan itu, Aruna menyadari sesuatu yang lebih menakutkan. Dengan bukti yang dibuka bertahap, ia telah memaksa rapat keluarga berubah menjadi pembongkaran resmi. Tidak ada lagi sopan santun yang mampu menutupi aib keluarga Adinata. Perang waris ini akan berakhir hari ini, namun ia mendapati bahwa yang paling sulit bukan memenangkan nama keluarga, melainkan memutuskan apakah pria yang berdiri di sampingnya ini masih layak dipilih jika semua tekanan ini lenyap.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced