Pilihan Terakhir
Penthouse Adinata pagi itu terasa seperti ruang eksekusi yang dibungkus linen putih. Aruna duduk di ujung meja, jemarinya yang lentik memegang pinggiran cangkir porselen dengan ketenangan yang sengaja ia pelihara. Di seberangnya, Bramantyo menatap layar tablet dengan rahang mengeras. Di sisi lain meja, para tetua keluarga Adinata duduk berjejer seperti hakim yang siap menjatuhkan vonis.
"Ini bukan saran, Bram," suara Pak Surya memecah keheningan. "Dewan direksi sudah mencapai batas kesabaran. Skandal evakuasi aset yang kau biarkan terbongkar oleh gadis ini telah merusak reputasi kita di mata investor. Pilihannya sederhana: singkirkan Aruna dari posisi audit dan batalkan revisi kontrak itu, atau kau sendiri yang akan kehilangan kursi direktur sebelum matahari terbenam."
Aruna merasakan detak jantungnya yang teratur—sebuah kontras tajam dengan gejolak di ruangan itu. Ia bukan lagi gadis yang bisa diusir dengan ancaman kosong. Ia memegang bukti keterlibatan Maya dalam penggelapan aset yang bisa meruntuhkan silsilah keluarga Adinata. Namun, ia tetap diam, membiarkan Bramantyo memegang kendali atas panggung ini. Bramantyo meletakkan tabletnya ke meja dengan bunyi denting yang nyaring, memicu ketegangan yang merambat ke setiap sudut ruang makan.
Beberapa jam kemudian, di ruang direksi Adinata, udara terasa lebih tipis. Meja panjang itu menjadi saksi bisu ultimatum terakhir. Ketua dewan menatap lurus ke Bramantyo. “Sebelum kita masuk ke agenda pengawasan audit, ada satu hal yang harus dibereskan,” katanya sambil menggeser selembar kertas ke tengah meja. “Pernyataan pelepasan perlindungan formal perusahaan terhadap Saudari Aruna. Ditandatangani hari ini. Dengan itu, seluruh hubungan strategis yang melibatkan nama keluarga Adinata bisa dilanjutkan tanpa gangguan.”
Aruna membaca satu baris pertama dan memahami bentuk ancamannya: pengusiran yang dibungkus sopan santun. Jika ia tak lagi dilindungi perusahaan, statusnya sebagai mitra setara akan dipreteli—akses aset, hak veto, hingga legitimasi hukumnya sebagai pengawas audit. Aruna melirik Bramantyo. Pria itu tampak tenang, namun jam tangan logam di pergelangan kirinya berkilat saat ia menaruh tangan di atas meja—terbuka, tenang, tetapi cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia tidak datang sebagai penonton.
“Bramantyo,” suara berat Komisaris Utama memecah keheningan. “Pilihannya sederhana. Keluarkan wanita itu dari lingkaran perusahaan hari ini juga, atau dewan akan mencabut posisi direkturmu secara paksa. Kami tidak bisa membiarkan stabilitas Adinata dikompromikan oleh seseorang yang bahkan tidak memiliki silsilah sah.”
Aruna merasakan tatapan tajam dari para anggota dewan. Mereka memandangnya seolah ia adalah debu yang harus disapu dari karpet mahal ini. Namun, Aruna tidak bergeming. Ia tahu posisi tawarnya bukan lagi sebagai pengantin pengganti yang tak berdaya, melainkan sebagai pemegang kunci rahasia yang bisa meruntuhkan reputasi keluarga besar ini dalam satu kali tekan tombol.
Bramantyo berdiri perlahan. Suara gesekan kursi kulitnya terdengar seperti pernyataan perang. Ia tidak menatap para komisaris; pandangannya tertuju lurus pada Aruna, seolah hanya ada mereka berdua di ruangan itu. “Kalian berbicara tentang stabilitas,” ujar Bramantyo dengan nada dingin yang menggetarkan. “Tapi kalian lupa bahwa stabilitas yang saya bangun bukan berdiri di atas kebohongan keluarga, melainkan di atas aset yang sah.”
Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop cadangan yang selama ini disimpan sebagai kartu as. “Saya tidak akan menandatangani pelepasan ini. Sebaliknya, saya melepaskan posisi direktur saya di Adinata. Aset cadangan yang saya kelola secara pribadi cukup untuk memulai ulang segalanya, tanpa beban nama keluarga yang busuk dari dalam.”
Ruangan itu mendadak senyap. Wajah para komisaris pucat pasi, menyadari bahwa Bramantyo tidak menggertak. Ia telah memilih, dan pilihannya bukan lagi kursi kekuasaan, melainkan masa depan yang ia bangun bersama Aruna. Bramantyo mengulurkan tangannya kepada Aruna. Aruna menyambutnya, berdiri dengan anggun di tengah ruang rapat yang kini runtuh reputasinya. Mereka melangkah keluar bersama, meninggalkan para direktur yang terperangah, sementara Aruna menatap map bukti di tangannya—tahu bahwa rapat keluarga berikutnya tak bisa lagi diselesaikan dengan sopan santun.