Novel

Chapter 12: Di Luar Kontrak

Aruna berhasil memojokkan notaris keluarga Adinata dengan bukti evakuasi aset, memaksa mereka melepaskan kontrak pernikahan. Setelah Bramantyo resmi mundur dari Adinata, keduanya mulai merancang perusahaan baru sebagai mitra setara. Di penghujung hari, Aruna menyadari bahwa tantangan terbesarnya kini bukan lagi melawan keluarga, melainkan memilih Bramantyo atas dasar keinginan pribadi, bukan lagi karena keterikatan kontrak.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Di Luar Kontrak

Satu jam sebelum tenggat restrukturisasi Adinata, bel pintu penthouse berbunyi—pendek, resmi, seperti ketukan seseorang yang datang untuk menutup peti mati. Aruna baru saja mengunci map audit terakhir ke dalam laci meja makan saat layar interkom menyala. Notaris keluarga Adinata berdiri di sana, diapit seorang pria berjas abu-abu yang memegang tas dokumen kulit. Mereka tidak membawa bunga atau permintaan maaf; mereka membawa kop surat, stempel, dan senyum sopan yang lebih tajam dari pisau.

Bramantyo berdiri di ujung meja sarapan. Kopi di cangkirnya sudah dingin, meninggalkan noda cokelat pekat di dasar keramik. Ia tidak bergerak, hanya memandang Aruna seolah menanti keputusan yang juga miliknya untuk ditanggung.

“Biarkan mereka naik,” ujar Aruna. Suaranya datar, tanpa getar.

“Kamu yakin?” Bramantyo menatapnya, matanya menyiratkan peringatan akan sisa-sisa api yang masih membakar keluarga Adinata.

“Keluarga Adinata selalu merasa yakin saat mereka mengira aku bisa didorong ke sudut. Malam ini, aku yang menutup pintu,” jawab Aruna. Ia merapikan lengan blusnya, mengangkat dagu, dan berdiri tegak saat pintu lift terbuka. Notaris itu melangkah masuk dengan wajah netral, namun matanya mengkhianati kegugupan saat melihat Bramantyo yang kini bukan lagi direktur Adinata, melainkan pria yang memegang kunci kejatuhan mereka.

Aruna tidak membiarkan notaris itu memulai pidato formalitasnya. Sebelum pria itu sempat membuka map, Aruna menyodorkan salinan dokumen evakuasi aset yang melibatkan Maya. “Katakan pada mereka, jika notifikasi pembatalan kontrak ini tidak sampai ke mejaku dalam sepuluh menit, dokumen ini akan sampai ke meja penyidik pajak dan bursa efek. Pilihannya ada di tangan kalian: reputasi atau kehancuran total.”

Notaris itu memucat. Ia menatap Bramantyo, mencari dukungan, namun pria itu hanya mengunci pintu keluar dengan satu gerakan tangan yang tenang. Saat mereka pergi dengan langkah terburu-buru, Aruna merasakan beban yang selama lima tahun menghimpit pundaknya perlahan terangkat. Namun, ia belum sempat bernapas lega ketika ponselnya bergetar. Berita utama bisnis hari ini sudah tersebar: Bramantyo resign, Adinata beralih ke tangan baru. Dan di bawahnya, foto mereka berdua keluar dari ruang rapat dengan judul yang lebih berbahaya: Pasangan itu akan memulai perusahaan sendiri.

Bramantyo meletakkan map tebal di depan Aruna. Bukan janji manis, melainkan proyeksi arus kas dan struktur kepemilikan perusahaan baru. “Baca dulu. Ini bukan jebakan, Aruna. Ini adalah angka-angka yang bisa kita bangun bersama.”

Aruna membuka map itu. Ia tidak mencari kata-kata romantis; ia mencari batasan. Ia menunjuk satu klausul tentang pembagian risiko. “Aku tidak akan menjadi pengikutmu, Bramantyo. Jika kita membangun ini, aku adalah pendiri dengan hak veto penuh atas setiap aset yang kita bawa dari sisa-sisa Adinata.”

Bramantyo terdiam sejenak, lalu mengangguk. Ia tidak tersinggung; ia justru tampak lega. “Aku tidak mengharapkan apa pun selain itu.”

Siang harinya, layar video call menyala. Wajah Maya muncul, pucat dan lelah. “Aku tidak mau jadi kambing hitam,” isak Maya. Aruna tidak melunak. Ia memaksa Maya memberikan keterangan tertulis tentang siapa yang memerintah evakuasi aset tersebut. Setelah Maya setuju dengan tangan gemetar, Aruna mematikan panggilan itu. Ia kini memiliki kunci yang bisa menjatuhkan sisa-sisa kekuasaan keluarga Adinata selamanya.

Menjelang malam, penthouse terasa sunyi. Aruna berdiri di depan jendela kaca besar yang membentang dari lantai ke langit-langit, menatap lampu kota Jakarta yang berpendar seperti papan sirkuit. Bramantyo mendekat, berdiri tepat di belakangnya tanpa menyentuh.

“Kontrak itu sudah berakhir, Aruna,” ucap Bramantyo pelan. “Secara hukum, kita tidak lagi terikat. Tidak ada lagi merger, tidak ada lagi tekanan keluarga.”

Aruna menoleh, menatap pria yang telah mempertaruhkan seluruh kariernya untuk melindunginya. Namun, di balik kemenangan itu, ia menyadari satu hal yang jauh lebih berat dari warisan keluarga mana pun. Tanpa kontrak yang mengikat mereka, tanpa ancaman yang memaksa mereka berdekatan, apakah Bramantyo masih akan memilihnya? Dan yang lebih penting, apakah ia sendiri mampu memilih Bramantyo tanpa rasa balas budi atau ketergantungan?

“Kita menang,” bisik Aruna.

“Ya,” jawab Bramantyo. “Tapi sekarang, kita harus memutuskan apa yang akan kita lakukan dengan kebebasan ini.”

Aruna menatap pantulan mereka di kaca—dua orang yang baru saja meruntuhkan sebuah dinasti, kini berdiri di ambang hidup yang benar-benar milik mereka sendiri. Ia menyadari bahwa yang paling sulit bukan memenangkan nama keluarga, melainkan memilih Bramantyo ketika tidak ada lagi alasan untuk tetap bersama selain keinginan mereka sendiri.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced