Menguji Loyalitas
Pagi di balai komunitas terasa lebih dingin dari biasanya. Sisa-sisa rapat semalam—kertas yang berserakan, kursi yang bergeser, dan aroma kopi basi—masih menggantung di udara. Maya berdiri di balik meja administrasi, menatap tumpukan dokumen yang kini menjadi beban hidupnya. Di bawah lengannya, map cokelat berisi bukti remitansi ilegal ke perusahaan luar kota terasa seperti bom waktu.
Ia sengaja meletakkan satu lembar fotokopi di atas buku absensi donasi. Nama perusahaan, nominal yang janggal, dan nomor rekening yang tidak tercatat di papan pengumuman warga. Sinta dan Jojo, dua sukarelawan yang biasanya gesit, membeku saat melihat kertas itu. Maya tidak bicara. Ia membiarkan keheningan itu menekan mereka.
Lina Suryani masuk dengan langkah tegas, namun matanya langsung tertuju pada kertas itu. Ia berhenti, napasnya tertahan sejenak.
“Kamu sengaja memancing di air keruh, Maya?” tanya Lina, suaranya rendah namun tajam.
“Aku hanya ingin tahu siapa yang akan merasa terganggu,” jawab Maya tenang. Ia menatap mata Lina, mencari retakan. “Ruang donasi bukan tempat untuk nomor rekening siluman.”
Lina mendekat, menurunkan suara hingga hampir berbisik. “Kalau kamu mencari pengkhianat, jangan taburkan semua bukti di depan tim. Kamu bisa menghancurkan orang yang tidak bersalah.”
“Kalau tim masih memilih diam, mereka bukan lagi tim. Mereka adalah pelindung skandal,” balas Maya. Ia mengeluarkan ponsel dan memutar rekaman suara Rafiq. Suara serak kurir itu mengisi ruangan, menyebutkan detail pengalihan data warga dan aliran uang yang melenceng. Sinta menunduk dalam, sementara Jojo tampak gelisah, matanya melirik ke pintu samping.
Maya menangkap gerak-gerik itu. “Sinta, siapa yang terakhir memegang map kiriman donasi?”
“Aku… aku hanya menyortir amplop, Maya,” jawab Sinta dengan suara bergetar.
“Dan siapa yang mengambil daftar penerima?”
Sinta ragu. “Pak Hendra.”
Lina menegang. “Hendra hanya pengurus keuangan. Dia tidak mungkin terlibat sejauh itu.”
“Manusia bisa dibeli, Lina. Apalagi jika mereka sudah lama merasa tidak dihargai,” sahut Maya. Ia menatap Jojo yang mencoba melangkah mundur. “Kalau ada yang mau keluar sekarang, aku akan ingat wajahnya.”
Jojo terpaku. Tak ada yang bergerak. Maya tahu, kebocoran itu bukan dari Awi yang kini terisolasi, melainkan dari dalam lingkaran kepercayaan Lina sendiri.
Maya membawa Lina dan Pak Hadi ke ruang arsip yang pengap. Di atas meja lipat, ia membentangkan buku kas komunitas yang ia ambil dari brankas keluarga. Halaman-halamannya penuh dengan coretan angka yang berulang—pola yang sengaja disamarkan.
“Lihat referensi ini,” Maya menunjuk angka di ujung baris. “Tiga kali transfer ke akun berbeda, tapi ekor belakangnya selalu sama. Orang yang mencatat ini terlalu percaya diri.”
Pak Hadi, yang biasanya tenang, tampak pucat. Ia memeriksa daftar transfer dengan tangan gemetar. “Aku tidak pernah melihat kode ini sebelumnya.”
“Karena ini bukan jalur resmi,” tegas Maya. “Ini jalur ke pihak ketiga di luar Chinatown. Seseorang di sini telah menjual akses kita.”
Lina menatap Pak Hadi dengan curiga. “Hadi, katakan yang sebenarnya.”
Pak Hadi menelan ludah, matanya berkaca-kaca. “Aku hanya diminta memindahkan map. Orang itu… dia dekat denganmu, Lina.”
Lina terdiam, wajahnya mengeras. Maya merasakan ketegangan yang mencekam. Ia tahu, jika nama itu keluar, seluruh fondasi solidaritas yang dibangun Lina akan runtuh. Namun, Maya tidak bisa mundur. Ia sudah menandatangani jaminan hukum atas utang ini; ia adalah tumbal yang kini memegang kendali.
Saat Maya hendak mendesak jawaban, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nama yang baru saja ia curigai. Satu kalimat pendek yang mengonfirmasi bahwa orang itu masih bekerja untuk Awi dari balik layar, memantau setiap langkah Maya.
Maya menatap Lina, lalu ke arah pintu. Ia kini tahu siapa musuh di dalam selimutnya. Pilihan terakhir ada di tangannya: memutus jaringan ini dan menghancurkan sisa-sisa kuasa keluarga yang baru ia genggam, atau membiarkannya tetap hidup dengan risiko yang lebih besar.
Ia menutup map itu. Keputusan harus diambil, dan waktu tidak lagi berpihak padanya.