Novel

Chapter 9: Bayang-Bayang yang Tersisa

Maya menemukan bahwa pengkhianatan Awi hanyalah bagian dari jaringan remitansi ilegal yang lebih besar yang melibatkan pihak luar. Ia mengamankan bukti di brankas keluarga dan menyadari bahwa pengkhianat telah menyusup ke lingkaran dalam Lina Suryani.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bayang-Bayang yang Tersisa

Udara di balai komunitas masih terasa berat, sisa dari rapat semalam yang menyisakan abu di tenggorokan. Maya Tan berdiri di balik meja registrasi, jemarinya memutih saat menggenggam ponsel milik seorang ibu tua. Di layar, sebuah pesan suara baru saja diputar—suara laki-laki yang serak, dingin, dan penuh otoritas dalam campuran Hokkien dan Indonesia pasar.

“Titip dulu saja. Nama lama tetap jalan. Jangan lewat Maya. Lewat jalur biasa.”

Maya merasakan perutnya mual. Awi sudah kehilangan kursinya, namun jaringan itu tidak butuh wajah untuk tetap bernapas. Rafiq muncul dari balik pintu belakang, napasnya tersengal, matanya liar memindai ruangan. “Itu baru masuk sepuluh menit lalu, diteruskan dari nomor luar,” bisiknya, suaranya nyaris tenggelam oleh gumaman warga yang mulai curiga. Maya menyimpan salinan jejak itu. Awi hanyalah pion; ada tangan lain yang memegang tali kendali dari luar Chinatown.

Beberapa jam kemudian, Maya menemui Rafiq di lorong sempit belakang toko keluarga. Rafiq menyerahkan amplop remitansi dengan cap merah yang pudar. “Jangan panggil aku ke depan,” katanya, suaranya bergetar. “Kalau kau mau tahu siapa yang menerima uang ini di luar Chinatown, lihat cap ini. Ini bukan rekening Awi. Ini milik pihak ketiga.”

Maya membuka lipatan kertas itu. Nama perantara muncul di sana—sebuah nama yang seharusnya tidak memiliki kaitan dengan keluarga Tan. Rafiq ketakutan, ia tahu rantai perlindungannya telah putus. Maya keluar dari lorong itu dengan satu nama samar dan keyakinan baru: brankas di bawah lantai toko keluarganya menyimpan jawaban yang jauh lebih berdarah daripada sekadar utang.

Di ruang administrasi, Lina Suryani sudah menunggu dengan map kuning. Dua warga kunci—Pak Seng dan Tante Mei—berdiri di dekat lemari arsip. Lina mendorong daftar bantuan ke depan Maya. “Tiga jalur: dapur, pengobatan, jaminan hukum. Periksa setiap angka. Kalau salah, kita selesaikan sekarang.”

Maya menatap dokumen jaminan di depannya. Tanda tangannya di sana adalah janji yang bisa menghancurkannya secara hukum. “Kalau aku tanda tangan lagi, aku ikut tanggung jawab penuh,” tegas Maya. Ruangan mendadak hening. Lina tidak membantah; ia justru mengangguk, sebuah bentuk kepercayaan yang berat. Maya membagi tugas, memberi Lina peran untuk memverifikasi jalur dana, sementara ia menahan satu bukti kunci untuk dirinya sendiri. Solidaritas mulai terbentuk, tapi hanya di atas fondasi akuntabilitas yang brutal.

Malamnya, di tengah kesunyian toko yang telah ditinggalkan pelanggan, Maya bersama Nenek Lim membuka brankas bawah lantai. Nenek Lim menyerahkan kunci tua yang terbungkus kain merah. “Jangan buka kalau belum siap dengar nama,” bisiknya. Saat papan kayu di lantai disingkap, Maya menemukan tumpukan catatan remitansi yang mengonfirmasi bahwa aliran dana komunitas telah mengalir ke perusahaan luar kota selama bertahun-tahun.

Di sana, di antara debu dan kertas tua, Maya menemukan satu nama yang tak terduga—seorang pengkhianat yang selama ini berdiri di lingkaran dalam Lina. Maya terdiam, menatap nama itu dengan ngeri. Pengkhianatan ini tidak berhenti di satu rumah; ia telah menyusup ke jantung komunitas. Ia sadar, untuk membersihkan jaringan ini, ia harus menguji loyalitas orang-orang terdekat Lina. Namun, saat ia memegang bukti itu, ia tahu satu hal: perang ini baru saja dimulai, dan tidak ada lagi jalan untuk kembali menjadi orang luar.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced