Novel

Chapter 11: Konfrontasi Akhir

Li Wei memaparkan bukti pengkhianatan Paman Chen di depan para sesepuh, memicu perlawanan komunitas. Paman Chen yang terpojok mengancam akan membakar Pecinan, namun ia justru terjebak oleh massa yang marah. Li Wei akhirnya menerima perannya sebagai penjaga rahasia keluarga.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Konfrontasi Akhir

Udara di Kedai Teh Tiga Naga terasa berat, sarat dengan aroma dupa cendana yang terbakar habis dan napas tertahan dari para sesepuh. Li Wei meletakkan buku besar bersampul kulit itu di atas meja kayu jati. Suaranya tidak bergetar saat ia membuka halaman yang ditandai dengan stempel lilin merah—sebuah tanda yang selama ini dianggap sebagai simbol perlindungan, namun kini terungkap sebagai segel utang darah.

"Paman Chen tidak hanya mencuri dana komunitas," ujar Li Wei, menatap tajam ke arah pria yang berdiri di ambang pintu. "Dia menggunakan nyawa orang tua Mei Ling sebagai tumbal untuk menutupi defisit yang ia ciptakan sendiri. Buku ini mencatat setiap sen yang hilang dan setiap nama yang ia paksa untuk tunduk di bawah ancaman."

Keheningan pecah. Para sesepuh, yang selama ini memandang Paman Chen sebagai pilar stabilitas, mulai saling berbisik. Wajah mereka yang tadinya kaku kini menunjukkan retakan keraguan yang nyata. Paman Chen melangkah masuk, langkahnya mantap namun matanya menyiratkan keputusasaan yang liar. Ia tidak lagi mencoba tersenyum.

"Kalian semua lupa siapa yang menjaga blok ini tetap berdiri saat kalian lemah," desis Paman Chen. Ia menatap Li Wei dengan kebencian yang murni. "Jika aku jatuh, aku tidak akan jatuh sendirian. Aku telah menyiramkan minyak di setiap sudut gudang penyimpanan. Satu korek api, dan seluruh sejarah yang kalian banggakan akan menjadi abu. Li Wei, kau pikir kau pahlawan? Kau hanya menghancurkan tempat yang seharusnya menjadi rumahmu."

Ancaman itu nyata. Paman Chen bukan lagi sekadar politisi Pecinan; ia adalah predator yang siap menghancurkan sarangnya sendiri demi menghindari kehancuran reputasi. Li Wei merasakan denyut nadi di pelipisnya. Ia menyadari bahwa ayahnya telah merancang jebakan ini bukan untuk memenangkan argumen, melainkan untuk memaksa Li Wei memilih: membiarkan Pecinan terbakar atau mengambil alih beban sebagai penjaga rahasia yang baru.

"Kau tidak akan membakar apa pun," potong Li Wei, suaranya rendah namun bergema di ruangan yang sunyi. Ia memberi isyarat kepada Mei Ling. "Karena warga di luar sana sudah tahu siapa yang sebenarnya mengkhianati mereka. Mereka tidak menunggu perintahmu lagi, Paman. Mereka menunggu keadilan."

Di luar, suara kerumunan mulai terdengar—bukan lagi bisikan, melainkan gemuruh tuntutan. Paman Chen menoleh ke arah jendela, wajahnya pucat saat melihat massa yang mulai mengepung kedai. Ia mencoba mundur, namun jalan keluar telah tertutup oleh warga yang selama ini ia tindas. Li Wei tidak mengejarnya; ia tahu Paman Chen sudah kalah oleh hukum sosial yang ia ciptakan sendiri.

Saat kekacauan meletus di luar, Li Wei berbalik dan melangkah keluar dari kedai, meninggalkan buku besar itu di tangan para sesepuh sebagai bukti permanen. Ia berjalan menuju rumah keluarganya. Sesampainya di sana, ia tidak lagi merasa seperti orang asing. Ia duduk di kursi kayu jati milik ayahnya. Di tangannya, stempel naga terasa dingin dan berat—sebuah beban yang kini resmi menjadi miliknya. Ia bukan lagi pelarian; ia adalah penjaga yang tersisa.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced