Novel

Chapter 10: Aliansi yang Tak Terduga

Li Wei dan Mei Ling berhasil mencapai toko obat Mei Ling dan membawa bukti pengkhianatan Paman Chen ke hadapan para sesepuh di Kedai Teh Tiga Naga. Mereka berhasil membalikkan opini para sesepuh dengan mengungkap bahwa kematian orang tua Mei Ling adalah eksekusi untuk menutupi pencurian dana komunitas oleh Paman Chen. Bab berakhir dengan kemunculan Paman Chen yang mengancam akan menghancurkan seluruh Pecinan jika ia dijatuhkan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Aliansi yang Tak Terduga

Bau obat-obatan herbal yang menyengat di toko Mei Ling kini terasa seperti oksigen bagi Li Wei. Ia mengunci pintu kayu yang berderit, napasnya memburu, sementara di luar, suara langkah sepatu bot yang beradu dengan lantai batu gang Pecinan terdengar seperti detak jam yang mendekati ajal. Ia meletakkan buku besar bersampul kulit kusam itu di atas meja kayu jati yang penuh dengan tumpukan botol ramuan.

"Kunci pintunya, Mei Ling," desis Li Wei. Tangannya gemetar saat membuka halaman-halaman yang menguning. Di sana, angka-angka transaksi tahun 1998 tertulis dengan tinta hitam yang tegas—tahun di mana orang tua Mei Ling dinyatakan hilang.

Mei Ling mendekat, jemarinya menyentuh baris nama orang tuanya yang tertera dalam daftar 'utang darah'. "Ini bukan investasi," bisiknya, suaranya pecah. "Ini daftar eksekusi."

Li Wei menatap stempel naga di samping buku itu. "Ayah tidak membiarkan Chen mencuri karena dia takut. Dia membiarkannya agar Chen terus menumpuk dosa hingga mencapai titik di mana kejatuhannya tidak bisa dihindari lagi. Kita memegang asuransi yang dia siapkan selama dua puluh tahun."

*

Kedai Teh Tiga Naga adalah jantung komunitas, namun malam ini, suasananya sedingin makam. Tiga sesepuh duduk di meja bundar, menyesap teh dengan gerakan yang lamban dan terukur. Ketika Li Wei dan Mei Ling masuk, Tuan Tan bahkan tidak menoleh.

"Kami tidak menerima tamu yang membawa bau masalah dari keluarga Li," ujar Tuan Tan datar. "Paman Chen sudah memperingatkan kami tentang kedatanganmu. Pergilah sebelum penjaga pasar datang."

Li Wei tidak mundur. Ia membanting buku besar itu ke atas meja, membiarkan debu beterbangan di antara cangkir-cangkir teh. "Paman Chen tidak memberi tahu kalian bahwa dia telah mencuri dana kas komunitas selama dua dekade, bukan?"

Ia menekan stempel naga ke atas meja, simbol otoritas yang memaksa para sesepuh untuk menatapnya. "Ayahku tidak pernah menjual dana komunitas. Dia menguncinya agar Chen tidak bisa menyentuhnya. Chen memutarbalikkan fakta, membuat kalian percaya bahwa keluarga kami yang mencuri dari kalian."

Mei Ling meletakkan dokumen tambahan—catatan medis dan surat kematian yang ia temukan di brankas. "Orang tua saya tidak meninggal karena kecelakaan. Mereka meninggal karena mereka tahu di mana dana itu disembunyikan. Chen mengeksekusi mereka untuk menutupi defisit kas yang ia curi sendiri."

Salah satu sesepuh, Tuan Wang, menyipitkan mata ke arah buku besar itu. Tangannya yang keriput ragu-ragu menyentuh kertas tua tersebut. "Chen adalah pilar kita, Li Wei. Dia telah membangun—"

"Dia membangun kekuasaan di atas tulang belulang orang tua kita!" potong Li Wei tajam.

Saat para sesepuh mulai berbisik, pintu kedai terbuka lebar. Paman Chen berdiri di ambang pintu, menatap Li Wei dengan tatapan yang dingin dan mematikan. Reputasi yang ia bangun selama bertahun-tahun kini retak di depan mata. Namun, Paman Chen yang terpojok justru tersenyum tipis, sebuah ancaman terakhir yang membuat darah Li Wei membeku: jika ia jatuh, ia akan memastikan seluruh blok Pecinan ikut terbakar bersamanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced