Warisan yang Sesungguhnya
Bau dupa yang biasanya menenangkan kini terasa mencekik di ruang belakang kedai teh. Aris berdiri di depan meja kayu jati tua, saksi bisu puluhan tahun transaksi di bawah meja. Di hadapannya, Koh Aheng tampak lebih kecil, bahunya merosot, namun matanya masih memancarkan sisa-sisa kedengkian yang tajam.
"Kamu tidak tahu apa yang kamu buka, Aris," suara Aheng serak, nyaris berbisik. Ia menyodorkan amplop cokelat usang. "Ini daftar pengembang yang sudah membayar deposit untuk tanah Pecinan. Jika kamu tidak melanjutkan kesepakatan ini, merek
Preview ends here. Subscribe to continue.