Novel

Chapter 8: Bayang-bayang Masa Lalu

Aris menghentikan upaya Bibi Lian membakar bukti sejarah keluarga. Ia menemukan buku harian kakeknya yang membuktikan bahwa kematian kakeknya adalah eksekusi terencana oleh jaringan holding. Aris kini memegang bukti kunci, dan para pemilik toko di Chinatown mulai berbalik mendukungnya dengan menyerahkan kunci akses rahasia mereka.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bayang-bayang Masa Lalu

Aroma kertas terbakar menyengat hidung Aris begitu ia menginjakkan kaki di ruang belakang toko. Di sudut ruangan, di atas lantai kayu yang berderit, Bibi Lian berlutut dengan tangan gemetar. Ia memegang korek api, menatap tumpukan dokumen yang mulai menghitam di dalam perapian darurat. Salah satu sudut buku tua yang terselip di sana mulai melengkung, dimakan lidah api yang lapar.

"Bibi, berhenti!" Aris tidak menunggu. Ia menerjang maju, sepatu kulitnya menginjak abu yang berserakan. Ia menyambar kotak besi yang tergeletak di dekat kaki bibinya sebelum tangan wanita itu sempat meraihnya kembali. Bibi Lian menjerit tertahan, suaranya parau oleh keputusasaan. "Aris, lepaskan! Kau tidak tahu apa yang kau lakukan. Itu hanya sampah masa lalu yang akan mengubur kita semua!"

Aris tidak melepaskan kotak itu. Ia mematikan api di ujung buku yang hampir terbakar dengan telapak tangannya sendiri. Rasa panas yang tajam menjalar di kulit, tapi ia tidak peduli. Ia menatap Bibi Lian yang kini jatuh terduduk, bahunya merosot, wajahnya pucat pasi di bawah cahaya lampu neon yang berkedip-kedip. "Ini bukan sampah," desis Aris, suaranya dingin namun bergetar. "Ini alasan kenapa Kakek tidak pernah bisa pulang ke rumahnya sendiri."

Ia membuka paksa kait kotak besi yang berkarat. Di dalamnya, terselip sebuah kunci kuningan kecil yang terikat erat pada pita pengukur kuning. Angka delapan disulam berulang kali di ujung pita itu—sebuah kode yang kini Aris sadari bukan sekadar koordinat, melainkan penanda waktu eksekusi kakeknya.

Aris menggeser meja potong yang berat di sudut toko. Debu beterbangan, menari di udara seperti abu kenangan. Dengan ujung obeng, ia mencungkil papan lantai yang terasa longgar. Kayu itu mengerang, mengeluarkan aroma apak yang khas dari kayu jati tua. Di bawahnya, sebuah brankas besi kecil terkubur dalam kegelapan. Ia memasukkan kunci kuningan tersebut. Mekanismenya terasa kaku, menolak untuk membuka rahasia yang telah terkunci selama tiga puluh tahun. Dengan satu putaran tegas, bunyi klik yang nyaring memecah keheningan. Di dalamnya, ia menemukan tumpukan buku harian bersampul kulit.

Aris membuka buku paling atas. Tulisan tangan kakeknya, Tan Wei Long, tampak jelas dengan tinta yang memudar menjadi kecokelatan. ‘Mereka datang bukan untuk menagih bunga, tapi untuk mencabut nyawa,’ tulis kakeknya. ‘Toko ini bukan lagi milikku sejak hari aku menandatangani kontrak atas nama bayangan. Mereka butuh pintu masuk untuk pencucian uang, dan aku hanyalah kunci yang mereka pegang di leher.’

Aris menahan napas. Ia membaca baris demi baris, memindai detail eksekusi sistematis yang disamarkan sebagai kecelakaan kerja. Kakeknya tidak terjatuh dari tangga; kakeknya didorong oleh seseorang yang mengenakan cincin dengan lambang yang sama dengan yang dipakai Enforcer tempo hari. Itu bukan kecelakaan. Itu adalah eksekusi. Aris menutup buku itu dengan kasar, dadanya naik turun. Kebenaran ini bukan lagi beban yang bisa ia simpan sendiri; ini adalah senjata.

Saat Aris beranjak keluar, ia mendapati beberapa pemilik toko di Chinatown telah berkumpul di depan pintu tokonya. Mereka tidak datang untuk menagih, melainkan untuk memberikan pengakuan. Di bawah lampu jalan yang temaram, Pak Sen, pria tua pemilik toko kelontong di sudut jalan, melangkah maju. Ia meletakkan sebuah kunci kuningan tua di atas telapak tangan Aris yang terbuka.

"Kami tahu kau sudah menemukannya, Aris," ujar Pak Sen, suaranya parau namun tegas. "Kunci dari gudang bawah tanah kami masing-masing. Selama bertahun-tahun, kami dipaksa menyerahkan catatan transaksi kami ke perusahaan holding atas nama hutang darah. Sekarang, kuncinya ada padamu."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced