Harga Sebuah Nama
Lampu neon di atas papan nama toko penjahit berkedip, memancarkan cahaya pucat yang memantul di genangan air sisa hujan. Aris berdiri di ambang pintu, menghalangi akses masuk. Di hadapannya, Enforcer—pria dengan cincin naga yang kini terasa seperti cap kepemilikan atas hidup Aris sendiri—mengepulkan asap rokok tipis ke udara yang lembap.
"Fajar adalah batas waktunya, Aris," suara Enforcer berat, nyaris tanpa emosi. "Serahkan ledger itu, atau kau akan melihat tempat ini rata dengan tanah sebelum matahari muncul. Jangan berpikir kau bisa bersembunyi di balik nama keluarga yang sudah lama bangkrut."
Aris tidak bergeming. Tangannya yang dingin merogoh saku jaket, menggenggam drive USB yang berisi salinan data perusahaan holding yang ia ambil dari arsip kota. Inilah kartu asnya. Selama ini, ia mengira toko ini adalah warisan yang harus dijaga, namun arsip itu mengungkap fakta pahit: toko ini hanyalah instrumen dalam jaringan hutang darah yang lebih besar, dan kakeknya, Tan Wei Long, bukanlah pemilik, melainkan pion yang terjebak di posisi paling rentan.
"Toko ini bukan milikmu untuk dihancurkan, dan bukan milik keluarga kami untuk diserahkan begitu saja," jawab Aris, suaranya stabil meski jantungnya berpacu. "Aku sudah tahu siapa pemilik sebenarnya dari perusahaan holding ini. Jika kau melangkah lebih jauh, data ini akan sampai ke tangan yang tepat."
Enforcer menatapnya lama, lalu mematikan rokoknya di tumit sepatu. "Bicaralah di restoran sudut blok. Kita lihat seberapa besar nyalimu saat tahu siapa yang sebenarnya kau lawan."
Di restoran tua yang berbau apek kayu dan melati, Enforcer melepaskan jaket kulitnya, memamerkan cincin naga yang sama dengan milik mendiang ayah Aris. Di atas meja kayu retak, cangkir porselen menjadi saksi bisu.
"Waktumu tersisa enam jam," ujar Enforcer.
Aris tidak membuang waktu. Ia menggeser ponselnya, menampilkan data digital yang ia curi. "Aku tahu Grand Horizon memegang hutang darah seluruh blok ini. Kakekku hanyalah pion yang mereka ikat dengan identitas palsu. Aku bukan lagi pewaris yang buta, aku adalah ancaman bagi operasi kalian."
Enforcer terdiam, memutar cincinnya—sebuah gerakan gugup yang nyaris tidak tertangkap. "Data itu tidak menyelamatkanmu, Aris. Itu justru mempercepat kehancuranmu. Kau pikir kau bisa memeras mereka? Kau hanya pion yang sedang menggali kuburan sendiri. Aku pun terikat hutang darah yang lebih dalam pada mereka. Jika aku gagal mengamankan aset ini, kepalaku yang akan menjadi taruhannya."
Aris menyadari kebenaran yang mengerikan: Enforcer bukanlah dalang, melainkan budak dari sistem yang sama. Namun, ia tidak punya waktu untuk simpati. Ia harus kembali ke toko.
Sesampainya di sana, ia menemukan Bibi Lian di ruang belakang, jemarinya yang gemetar melemparkan lembaran arsip tua ke dalam api. "Berhenti!" Aris menyambar tumpukan kertas dari tangan Bibi.
"Kau tidak tahu apa yang kau lakukan, Aris!" desis Bibi Lian, suaranya parau. "Setiap lembar yang kau simpan adalah paku di peti matimu sendiri. Biarkan masa lalu terkubur!"
Aris tidak melepaskan cengkeramannya. Ia menatap tumpukan yang terselamatkan: sebuah buku harian bersampul kulit kusam dengan inisial T.W.L. Ia mengenali inisial itu. Itu adalah Tan Wei Long, nama seorang pendatang yang identitasnya dipinjam untuk menutupi jejak jaringan hutang darah.
"Kakek bukan penjahit, Bibi. Dia adalah pion yang disiapkan untuk mati bagi perusahaan holding ini," Aris membuka buku harian itu. Di halaman terakhir, tertulis sebuah catatan tangan yang gemetar: 'Mereka tidak akan membiarkan saksi hidup. Hari ini, mereka datang untuk menagih nyawa, bukan lagi hutang.'
Aris membeku. Kematian kakeknya bukan kecelakaan. Itu adalah eksekusi yang tertunda, dan kini, ia adalah target berikutnya yang berdiri di urutan terakhir daftar hutang darah tersebut.