Novel

Chapter 1: Warisan di Balik Pintu Terkunci

Aris menerima surat panggilan warisan yang mengikatnya pada utang mendiang ayahnya. Saat ia mencoba menolak di toko keluarga di Pecinan, ia dipaksa menghadapi Koko Hendra, kreditur yang menunjukkan kontrak utang dengan nama Aris yang tertera di dalamnya, menjebaknya dalam kewajiban yang tidak bisa dihindari.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Warisan di Balik Pintu Terkunci

Kantor Aris di pusat bisnis—dunia yang berjarak belasan kilometer dari aroma dupa dan debu jalanan Pecinan—terasa lebih dingin dari biasanya. Aris sedang menatap layar monitor, membedah laporan kuartal, saat seorang kurir berseragam abu-abu meletakkan amplop cokelat tebal di atas mejanya. Tanpa sepatah kata, kurir itu pergi, meninggalkan stempel hukum firma keluarga yang mencolok di atas kertas putih. Aris tidak menyentuhnya. Ia sudah memutus akses ke masa lalunya sejak ayahnya wafat lima tahun lalu. Baginya, nama keluarga hanyalah beban yang harus ia hapus agar bisa berdiri tegak di dunia profesional.

Namun, kurir itu berbalik di ambang pintu. "Ada batas waktu tujuh hari, Pak Aris. Jika tidak ada tanggapan, semua aset yang tersisa di blok tersebut akan disita oleh kreditur utama. Anda adalah satu-satunya yang tersisa di daftar ahli waris. Jika Anda menolak, hukum menganggap Anda telah melepaskan hak, namun kewajiban utang tetap melekat pada garis keturunan."

Aris mendengus, mencoba menjaga suaranya tetap stabil. "Saya tidak punya urusan lagi dengan properti di sana. Itu sudah menjadi tanggung jawab kerabat saya yang lain."

"Kreditur sudah mengunci semua nama yang tertera di akta waris," kurir itu membalas dengan nada datar yang mengancam. "Anda tidak bisa lari dari apa yang tertulis di atas kertas legal, Pak."

Satu jam kemudian, Aris sudah berada di ambang pintu toko kain milik keluarganya di Pecinan. Bau apak kayu tua dan sisa dupa yang terbakar menyambutnya. Di luar, blok ini tetap sama—deretan toko papan yang catnya mengelupas, lampu neon berkedip di siang hari, dan mata-mata penduduk lokal yang seolah bisa menembus kulitnya untuk mencari sisa-sisa ayahnya. Tante Mei berdiri di balik meja kasir kayu, tangannya sibuk merapikan gulungan kain sutra yang sudah pudar warnanya. Di sudut ruangan, sebuah mesin jahit tua berkarat tampak seperti bangkai yang menunggu untuk dibuang.

"Aku tidak akan membayar sepeser pun, Tante," ujar Aris tanpa basa-basi. Suaranya terdengar asing di ruangan yang penuh dengan memori masa kecilnya. "Pengacara itu mengirimkan surat panggilan. Katanya ada utang yang harus diselesaikan atas nama Ayah. Ini pasti kesalahan. Ayah sudah lama tidak ada, dan dia tidak meninggalkan apa-apa selain tumpukan kain usang ini."

Tante Mei meletakkan gunting kainnya dengan denting yang tajam. Ia berbalik, menatap Aris dengan mata yang menyipit, menyimpan lelah dan ketakutan yang tertahan. "Kau pikir dunia ini berputar hanya berdasarkan surat panggilan, Aris? Di sini, utang bukan sekadar angka di atas kertas. Ini soal janji yang diikat dengan darah dan kepercayaan komunitas. Ayahmu tidak hanya menjual kain; dia menjual akses ke jaringan yang tidak pernah kau pahami."

Bel pintu berdentang nyaring, memotong ucapan Tante Mei. Koko Hendra melangkah masuk, memblokir jalan keluar dengan tubuhnya yang besar. Ia tidak sekadar berdiri; ia membawa aura dominasi yang membuat udara di ruangan itu mendadak tipis. Tangan Hendra yang kasar, dengan kuku yang menguning karena nikotin, menepuk sebuah map kulit hitam di atas meja kasir yang penuh debu.

"Ayahmu bukan hanya menjual barang, Aris. Dia menjual kepercayaan," suara Hendra berat, menggema di ruang yang sempit. "Dan kepercayaan adalah mata uang yang paling sulit untuk dilunasi."

Aris mencoba menstabilkan napasnya, meskipun tangannya mulai gemetar. "Saya datang untuk memastikan warisan ini ditolak secara hukum. Saya tidak ada hubungannya dengan utang-utang lama itu. Saya sudah keluar dari lingkaran ini sepuluh tahun lalu."

Hendra tertawa pendek, suara yang terdengar seperti gesekan amplas. Dia membuka map hitam itu, membalik halaman dengan gerakan lambat yang disengaja. Setiap lembar kertas di sana tampak rapuh, menguning dimakan waktu, namun tinta di halaman terakhir terlihat sangat mencolok. Hendra menggeser dokumen itu ke arah Aris. Di sana, di bawah klausul yang seharusnya sudah hangus satu dekade lalu, tertulis nama Aris dengan tinta yang tampak masih basah, seolah baru saja ditandatangani hari ini.

Aris membeku. Namanya tertulis dengan jelas, sebuah kontrak yang mengikatnya pada utang yang tak mampu ia bayar, baik secara finansial maupun identitas. Tiba-tiba, suara retakan terdengar dari dinding di belakang meja kasir. Dinding palsu di toko ayahnya mulai bergeser, memperlihatkan sebuah brankas kosong dengan satu kunci yang hilang—sebuah misteri fisik yang kini menjadi satu-satunya jalan keluar dari jeratan nama yang tertulis di kontrak itu.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced