Novel

Chapter 4: Bayang-Bayang di Balik Etalase

Aris terjebak di gudang saat kaki tangan Mei Ling menggeledah toko. Ia menemukan bukti dalam buku kas merah bahwa toko keluarganya adalah pusat logistik komunitas. Mei Ling muncul dan mengonfrontasi Aris, mengancam akan membongkar masa lalunya jika ia tidak menyerahkan buku kas tersebut.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bayang-Bayang di Balik Etalase

Debu beterbangan setiap kali Aris menggeser kotak kayu di sudut gudang. Di luar, suara hantaman keras merobohkan susunan keramik di toko utama. Itu bukan suara pelanggan yang menawar harga; itu suara penggeledahan sistematis. Aris menahan napas, dadanya sesak oleh aroma kayu lapuk yang bercampur dengan sisa wangi dupa cendana yang menyengat.

"Cari sampai ketemu. Mei Ling tidak mau tahu alasan, dia hanya mau buku itu sekarang," teriak suara kasar dari balik pintu gudang yang tipis. Langkah kaki berat mendekat, disusul bunyi gesekan logam yang menyeret lantai. Mereka tidak sedang mencari barang antik; mereka sedang berburu bukti yang bisa memutus akar kehidupan seluruh blok ini. Aris mencengkeram buku kas bersampul kulit merah di balik jaketnya. Berat buku itu terasa tidak wajar, seolah-olah setiap halaman di dalamnya menuntut tanggung jawab yang tidak pernah ia minta.

Ia melirik celah di balik rak kayu yang berderit. Dulu, kakeknya menyebut gudang ini sebagai 'ruang napas' keluarga, tempat rahasia ekonomi Pecinan disimpan rapat dari jangkauan tangan serakah. Sekarang, ruang itu menjadi satu-satunya tempat persembunyiannya.

"Dia tidak mungkin keluar lewat pintu depan, periksa lorong belakang!" perintah suara itu lagi. Pintu gudang bergetar hebat saat seseorang menendangnya sekali. Aris mematung. Dengan cahaya ponsel yang redup, ia membuka buku kas merah itu. Nama-nama tetangganya tertulis rapi, diikuti deretan angka yang bukan sekadar nominal utang, melainkan jaminan tanah, toko, bahkan reputasi keluarga. Di baris paling bawah sebuah transaksi tahun 1998, ia menemukan nama toko kelontong milik Koh A-Hok, diikuti catatan pengiriman barang yang tidak masuk akal: Logistik cadangan, rute utara.

Jantungnya berdegup kencang. Toko keluarganya bukan sekadar kedai; ini adalah pusat saraf logistik bagi seluruh komunitas. Jika ia menyerahkan buku ini, ia bukan hanya kehilangan properti, ia menghancurkan perlindungan hukum informal yang menjaga blok ini tetap berdiri.

Aris mencoba merayap menuju pintu belakang, namun tepat saat tangannya menyentuh gerendel besi yang berkarat, pintu itu terbuka paksa. Cahaya temaram dari lampu gantung toko menyusup masuk, menyinari siluet dua orang yang berdiri tegak di ambang pintu. Mei Ling berdiri di sana, mengenakan setelan jas sutra yang tampak terlalu mewah untuk lorong belakang yang kumuh. Di sampingnya, seorang pria berjas gelap dengan potongan rambut kaku berdiri seperti patung, matanya yang tajam memindai setiap sudut ruangan dengan dingin.

"Aku tahu kau masih di sini, Aris," suara Mei Ling tenang, namun mengandung racun. Ia tidak lagi menatap Aris dengan senyum palsu yang ia pasang di pertemuan keluarga sebelumnya. Kini, tatapannya adalah tatapan seorang predator.

"Kau pikir kau bisa mengelola warisan ini sendirian?" lanjut Mei Ling, melangkah masuk hingga aroma parfum mahalnya mendominasi udara yang pengap. "Aku tahu apa yang kau lakukan di luar negeri, Aris. Aku tahu kenapa kau benar-benar pulang. Jangan berlagak menjadi pahlawan untuk orang-orang yang bahkan tidak mengenal siapa kau sebenarnya."

Aris mencengkeram buku kas itu semakin erat. Ancaman Mei Ling bukan sekadar gertakan; ia tahu rahasia yang bisa menghancurkan reputasi Aris di luar sana. Namun, saat ia melihat bayangan pria berjas itu bergerak memblokir satu-satunya jalan keluar, Aris menyadari bahwa pilihannya bukan lagi tentang lari atau bertahan. Ia harus memilih antara identitasnya yang bersih di luar sana atau kehancuran komunitas yang kini bergantung pada tangannya.

"Buku itu bukan milikmu untuk disembunyikan," desis Mei Ling, tangannya terulur, menuntut. Pria berjas di belakangnya mulai melangkah maju, tangannya masuk ke dalam saku jas—sebuah gerakan yang tidak menyiratkan negosiasi. Aris terpojok di dinding gudang yang berdebu, menyadari bahwa ia tidak bisa lagi pergi tanpa menyerahkan buku kas atau menghadapi konsekuensi yang jauh lebih mematikan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced