Harga Sebuah Nama
Pintu ruang VIP tertutup dengan dentuman pelan yang terasa seperti vonis mati. Di luar sana, gumam para sosialita dan kilat lampu kamera masih menyisakan dengung di telinga Elara, namun di dalam ruangan ini, udara terasa jauh lebih tipis.
"Lepaskan tanganmu, Adrian," desis Elara. Ia menarik pergelangan tangannya dari cengkeraman pria itu. Adrian tidak segera melepasnya; ia justru membiarkan jemarinya menahan kulit Elara sesaat lebih lama, sebuah demonstrasi kepemilikan yang tidak perlu diucapkan.
"Tadi itu sebuah pertunjukan yang luar biasa," ujar Adrian, suaranya sedingin es batu dalam gelas kristal. Ia berjalan menuju meja mahoni, mengambil map kulit hitam yang tergeletak di sana. "Kau baru saja menyelamatkan reputasimu dari pengusiran sekolah, Elara. Seharusnya kau berterima kasih, bukan malah gemetar karena marah."
Elara menatap pria itu dengan kebencian yang murni. "Berterima kasih karena kau menjadikan anakku sebagai pion dalam skandal korporasimu? Kau tidak sedang menyelamatkanku. Kau sedang mengamankan citra publikmu agar saham perusahaanmu tidak terjun bebas besok pagi."
Adrian tertawa, suara yang tidak mencapai matanya yang tajam dan tak terbaca. Ia melempar map tersebut ke atas meja. "Saham adalah urusan kecil. Yang lebih menarik adalah bagaimana kau berani menyembunyikan identitas anak itu dari orang-orang yang seharusnya tahu."
Elara tertegun, namun sebelum ia sempat membalas, Adrian sudah berbalik dan berjalan keluar menuju area bar VIP, memaksanya untuk mengikuti. Di sana, seorang investor properti bernama Gunawan mendekat dengan napas yang berbau alkohol. Matanya yang menyipit menatap Elara dengan tatapan merendahkan.
"Elara, ya?" Gunawan terkekeh, menyentuh tepi meja dengan jari-jari gemuknya. "Aku dengar desas-desus tentang sekolah elit itu. Seorang ibu tunggal dengan sejarah... abu-abu, tiba-tiba menjadi tunangan Adrian? Apakah kontraknya mencakup biaya sekolah atau sekadar menutupi rumor anak tanpa ayah itu?"
Elara merasakan sensasi dingin menjalar di tengkuknya. Martabatnya adalah satu-satunya benteng yang tersisa, namun serangan verbal Gunawan mengenai titik nadirnya. Sebelum Elara sempat merespons, sebuah tangan terulur dengan tenang, menyingkirkan gelas Gunawan dari jangkauan dengan gerakan yang presisi dan mengintimidasi. Adrian berdiri tepat di belakang Elara, memposisikan tubuhnya sebagai perisai yang tidak bisa ditembus. Wajahnya tetap datar, namun matanya menatap Gunawan dengan tatapan yang membuat pria itu mundur selangkah.
"Elara adalah tanggung jawabku sekarang, Gunawan," suara Adrian rendah, nyaris berbisik namun penuh ancaman. "Jika kau ingin membahas urusan sekolah atau kehidupan pribadinya, pastikan kau siap menghadapi konsekuensi hukum yang akan kuhadirkan di meja direksimu besok pagi."
Gunawan terdiam, wajahnya memucat, dan ia segera berbalik pergi. Elara merasakan tarikan ketertarikan yang berbahaya di tengah rasa benci karena Adrian memperlakukannya seperti objek yang harus dijaga.
Kembali ke ruang kerja pribadi, suasana berubah menjadi lebih mencekam. Adrian mengunci pintu rapat-rapat. Di atas meja, ia meletakkan dokumen hukum yang bukan sekadar kontrak pertunangan, melainkan surat pernyataan hak asuh yang sudah dia amankan.
"Pilihanmu sederhana, Elara. Tanda tangani, dan besok pagi sekolah itu akan mengumumkan bahwa ada kesalahan administrasi. Anakmu tetap aman di sana, dengan perlindungan hukum yang bahkan tidak bisa disentuh oleh para ibu sosialita itu."
Elara menatap dokumen itu dengan tangan gemetar. Saat ia meraih pena, sebuah map lain terjatuh dari tumpukan dokumen. Selembar foto lama meluncur keluar, mendarat tepat di kaki Elara. Itu adalah foto mereka di sebuah kafe kecil di Bandung, jauh sebelum Adrian menjadi sosok dingin yang kini berdiri di depannya. Elara membeku. Adrian telah mengawasi setiap langkahnya bahkan sebelum skandal ini pecah.
"Kau sudah merencanakannya sejak lama," bisik Elara, menyadari bahwa dia bukan lagi orang asing bagi Adrian, melainkan pion dalam permainan reputasi yang jauh lebih besar.