Ballroom Penghinaan
Ponsel di genggaman Elara bergetar, sebuah ritme konstan yang terasa seperti detak jantung yang sekarat. Di layar, nama 'Kepala Sekolah Aris' berkedip—sebuah ancaman yang tak lagi bisa ia hindari.
Elara berdiri di lobi Hotel Grand Astoria. Gaun sutra yang ia sewa tampak terlalu tipis untuk menahan dinginnya AC ballroom yang menusuk tulang.
"Elara, audit yayasan menemukan ketidakkonsistenan dalam data wali muridmu," suara Aris di seberang telepon datar, tanpa sisa empati. "Jika status hukum anakmu tidak segera diklarifikasi malam ini, pihak sekolah akan mengeluarkan surat pemberhentian besok pagi. Reputasi sekolah tidak bisa menanggung skandal ini."
"Tolong, Pak. Saya hanya butuh waktu dua hari," Elara memohon, suaranya tertahan di tenggorokan. "Jangan libatkan anak saya dalam politik internal yayasan."
"Waktu Anda habis. Malam ini adalah penentuannya." Sambungan terputus.
Elara mematung. Ballroom di hadapannya bukan lagi sekadar tempat acara amal; itu adalah arena eksekusi. Ia melangkah masuk, setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Di tengah ruangan, kerumunan sosialita Jakarta—para predator yang selalu lapar akan kehancuran orang lain—mulai berbisik.
Siska, wanita yang selalu menganggap eksistensi Elara sebagai noda di lingkaran mereka, mendekat dengan senyum yang tidak mencapai mata. "Elara, kau masih berani menunjukkan wajah di sini?" suaranya cukup keras untuk memancing perhatian orang di sekitar. "Bukankah seharusnya kau sibuk menjelaskan kepada pihak sekolah siapa sebenarnya ayah dari anakmu yang misterius itu? Atau jangan-jangan, kau sendiri tidak tahu karena pria itu sudah lama melarikan diri?"
Tawa tertahan menyebar. Elara mencengkeram tas kecilnya hingga buku jarinya memutih. Ia tidak punya modal untuk melawan. Jika ia membalas, skandal ini akan meledak lebih cepat. Jika ia diam, ia kalah.
"Aku tidak perlu membuktikan apa pun padamu, Siska," jawab Elara dingin.
"Oh, benarkah?" Siska melangkah lebih dekat, suaranya kini berbisik tajam. "Kudengar, yayasan sudah menyiapkan surat pengusiran bagi anakmu besok pagi. Siapa yang akan menampung anak tanpa ayah di sekolah elit ini?"
Sebelum Elara sempat menjawab, suhu di sekitar mereka seolah anjlok. Kerumunan di ballroom tiba-tiba terbelah. Adrian berdiri di sana, sosoknya menjulang dengan aura dingin yang membuat seisi ruangan membisu. Ia tidak menatap Siska; matanya terkunci pada Elara, tajam dan penuh perhitungan.
Tanpa sepatah kata, Adrian melangkah maju dan menarik pinggang Elara dengan posesif, menariknya ke dalam dekapan yang terasa seperti sangkar.
"Ada masalah, Siska?" suara Adrian rendah, namun otoritasnya mutlak.
Siska memucat. "Adrian... aku hanya... kami hanya..."
"Dia tunanganku," potong Adrian dingin. "Dan aku tidak suka mendengar spekulasi murahan tentang keluarga kami di acara amal yang seharusnya berkelas ini."
Kamera media mulai berkedip liar. Elara terpaku. Ia bisa merasakan tatapan Adrian menuntut sesuatu yang lebih dari sekadar sandiwara. Pria itu membimbingnya menjauh dari kerumunan, menuju ruang pribadi di balik tirai beludru.
Pintu kayu jati berukir itu tertutup rapat, memutus riuh rendah suara di luar. Elara terengah, punggungnya menempel pada permukaan pintu yang dingin.
"Kau sudah menghancurkan segalanya," desis Elara. "Rumor itu... orang-orang mulai membicarakan tentang hak asuh anakku."
Adrian melangkah maju, memangkas jarak hingga Elara bisa mencium aroma kayu cendana yang tajam. Ia mengeluarkan ponselnya, menunjukkan dokumen digital—surat peringatan hukum dari yayasan sekolah.
"Aku tidak menghancurkanmu, Elara. Aku baru saja menyelamatkanmu dari kehancuran yang kau ciptakan sendiri dengan berbohong selama lima tahun," suara Adrian dingin. "Sekolah itu tidak peduli pada kebenaran. Mereka peduli pada citra. Dan saat ini, citra anakmu adalah milikku."
Elara menatap pria yang dulu pernah ia kenal, kini menjadi sosok asing yang memegang kunci kehidupannya. Adrian menatap kamera yang masih merekam melalui celah pintu, lalu berbisik tepat di telinga Elara, cukup keras untuk didengar siapa pun yang mungkin menguping: "Dia milikku."