Gerbang Menuju Kebenaran
Dentuman logam yang menutup gerbang Lantai 4 menggetarkan tulang rusuk Aris. Akses ke dunia bawah telah terputus permanen. Aris terjerembap di atas lantai marmer steril, napasnya memburu, sementara beban saraf di antarmuka retinanya berkedip merah: 94%.
"Stabilisasi saraf gagal, Aris. Tekanan data di sini melampaui kapasitas biologismu," suara Glitch terdengar dingin, tanpa empati.
Aris tidak menjawab. Ia memaksakan diri berdiri, meski setiap saraf di tubuhnya terasa seperti disayat silet. Lantai 4 bukan sekadar zona transisi; ini adalah Arsip Pusat. Di depannya, rak-rak data raksasa menjulang, menyimpan sejarah yang selama ini disembunyikan dari publik. Ia menempelkan tangan kanannya ke terminal kuno yang berdebu. Fragmen memori dari Lantai 1 ia alirkan sebagai kunci paksa. Overclocking sistem saraf dimulai. Arus listrik statis menyambar lengannya, namun beban saraf turun ke 88%. Ia berhasil memindahkan beban pemrosesan ke hardware menara.
"Akses terdeteksi: Entitas Anomali," suara sistem bergema, dingin dan mekanis.
Di belakangnya, Avatar Eradikasi—sosok bayangan setinggi tiga meter dengan bilah cahaya—muncul dari celah dimensi. Ia melangkah dengan presisi yang tidak mengenal lelah. Aris tidak menoleh. Ia membiarkan data mentah mengalir masuk, membakar otaknya dengan kebenaran: Utang Keluarga 00-Aris: Kode Akses Arsitek.
Jantungnya berhenti sejenak. Utang itu bukan sekadar angka di buku besar; itu adalah belenggu administratif yang dipasang pada garis keturunannya untuk memastikan tidak ada yang bisa menyentuh 'Root' Menara. Keluarganya bukanlah pecundang. Mereka adalah penjaga kunci yang dipenjara oleh sistem yang mereka ciptakan sendiri.
Jembatan data bergetar saat Kiran muncul dari retakan dimensi. Armor emasnya hancur, wajahnya pucat pasi, namun matanya masih menyala oleh kebencian. "Kau hanyalah virus, Aris!" teriaknya, suaranya parau.
Aris berbalik, ketenangan yang dingin menyelimutinya. Dengan integrasi 100%, ia melihat Kiran bukan sebagai rival, melainkan sebagai gangguan yang harus disingkirkan. Aris mengangkat tangan, memicu Hukum Lantai 4. Gravitasi berbalik arah. Kiran terpelanting ke langit-langit metalik dengan dentuman keras, belati plasmanya hancur berkeping-keping.
"Kau sudah kehilangan segalanya, Kiran," ujar Aris datar. "Bukan karena aku, tapi karena kau terlalu bodoh untuk menyadari bahwa kau hanyalah alat bagi sistem yang kau puja."
Aris melangkah menuju pusat ruangan. Proyeksi holografik di hadapannya mengungkap sejarah yang sebenarnya: Menara bukanlah tempat perlindungan, melainkan mesin penyerap energi yang dipicu oleh utang para pendaki.
"Pilihan telah tersedia, Anomali," suara Glitch bergema. "Ambil alih inti ini, jadilah arsitek baru, dan lunasi utang keluargamu dengan mengorbankan penduduk kota. Atau, hancurkan sistem ini, bebaskan mereka, namun biarkan dirimu terhapus dari memori Menara."
Aris menatap inti Menara yang berdenyut dengan cahaya neon. Tangannya menembus proyeksi kode tersebut. Ia tidak akan menjadi penguasa, dan ia menolak menjadi martir. Ia mulai meretas. Rahasia sebenarnya tentang utang keluarganya baru saja terungkap, dan itu mengubah segalanya. Aris siap memulai pendakian yang sesungguhnya.