Novel

Chapter 4: Hukum Lantai Dua

Aris tiba di lantai dua dan menghadapi hukum gravitasi ekstrem. Dengan menggunakan Inti Memori lantai satu, ia berhasil memanipulasi hukum lantai untuk melewati jebakan yang dipasang Kiran di Jembatan Gravitasi, membuktikan kemampuannya di depan publik sekaligus menarik perhatian penuh sang rival.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Hukum Lantai Dua

Gravitasi lantai dua bukan sekadar angka di layar sistem; itu adalah tangan raksasa tak terlihat yang menghantam bahu Aris hingga ia tersungkur. Lantai logam bergetar di bawah tekanan, mengeluarkan suara derit logam yang dipaksa melengkung. Aris merasakan tulang rusuknya beradu, napasnya tersengal, dan setiap detak jantung terasa seperti hantaman palu di pelipis.

"Sinkronisasi saraf: 92 persen," suara Glitch berdesis di dalam tengkorak Aris, dingin dan tanpa empati. "Hukum lantai ini dirancang untuk mematikan pendaki yang tidak memiliki stabilitas inti. Jika kau tidak segera memanipulasi fragmen memori, struktur tulangmu akan hancur dalam hitungan menit."

Di atas, layar publik yang melayang di udara menyiarkan siaran langsung pendakiannya. Grafik beban saraf Aris berkedip merah terang, sebuah peringatan bagi ribuan mata yang menonton dari Sektor Bawah. Aris tahu, para elit sedang menunggu. Mereka ingin melihat 'Anomali' ini hancur di lantai dua, membuktikan bahwa keberhasilannya di lantai satu hanyalah keberuntungan semata.

Aris merogoh kantong taktisnya, jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan dingin Inti Memori lantai satu. Inti itu berdenyut, menyerap energi di sekitarnya. Dengan sisa tenaga, Aris menekan inti tersebut ke lantai. Cahaya biru redup merambat dari titik sentuhnya, menciptakan gelembung distorsi gravitasi yang melunak di radius satu meter. Beban di pundaknya berkurang drastis, memungkinkannya berdiri meski otot kakinya bergetar hebat.

Dia berhasil, namun harga yang dibayar adalah panas yang menjalar di sepanjang tulang belakangnya. Beban sarafnya tidak turun; ia justru terdistribusi ke area lain.

Saat Aris melangkah menyusuri koridor industri yang penuh uap, ia menemukan tanda kehadiran Kiran: simbol keluarga yang terukir tajam di dinding baja dengan bilah energi. Itu bukan sekadar grafiti, melainkan pernyataan dominasi. Kiran tidak sekadar lewat; dia telah meretas node gravitasi di jalur utama.

"Dia menunggumu, Aris," bisik Glitch. "Kiran telah memasang jebakan di Jembatan Gravitasi. Dia ingin memastikan kau hancur di hadapan publik agar status 'Pendaki Progresif'-mu dicabut oleh sistem."

Aris menatap ke depan. Jembatan sempit membentang di atas jurang gelap. Pendaran biru di sepanjang jembatan menandakan hukum lantai telah dimodifikasi secara paksa. Aris tidak punya pilihan. Dia memicu fragmen memori yang baru saja ia sinkronisasikan, memaksakan sistem sarafnya bekerja melampaui batas.

Saat ia menginjak jembatan, gravitasi melonjak dua kali lipat. Aris tidak melawan arus; ia melepaskan energi dari Inti Memori untuk 'mematikan' gravitasi di titik jebakan yang dipasang Kiran. Ledakan energi terjadi, menghancurkan mekanisme jebakan tersebut. Jembatan bergetar hebat, retak, dan runtuh tepat di belakang tumitnya saat ia melompat ke sisi seberang.

Di kejauhan, siluet Kiran berdiri dengan angkuh, menatapnya dengan kebencian murni. Aris mendarat dengan napas tersengal, tubuhnya terasa seperti kaca yang siap retak.

"Kiran kini menyadari potensi penuhmu," suara Glitch kembali bergema, kali ini dengan nada peringatan yang lebih tajam. "Dia tidak akan membiarkanmu mencapai lantai tiga. Dan ingat, Aris, perangkap di jembatan hanyalah permulaan dari apa yang telah dia siapkan di jalur utama."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced