Novel

Chapter 3: Tangga Publik yang Menghakimi

Aris berhasil membuktikan legitimasi kekuatannya di depan publik setelah mengalahkan antek Kiran, memaksa sistem untuk mengakui statusnya sebagai Pendaki Progresif. Ia menggunakan Inti Memori untuk membuka akses ke lantai 2, namun langsung dihadapkan pada hukum gravitasi lantai yang ekstrem.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Tangga Publik yang Menghakimi

Lobi Menara Utama bergetar oleh dengung frekuensi tinggi. Aris terkapar di lantai marmer yang dingin, napasnya tersengal seirama dengan detak jantung yang terasa seperti dihantam palu godam. Beban sarafnya terkunci di angka 92 persen—ambang batas yang seharusnya membakar otaknya menjadi abu, namun Sistem 'Glitch' menahannya di sana, mengunci kesadarannya di tepi kehancuran.

"Identifikasi diri, Anomali," perintah seorang Penjaga, ujung tombak energinya berderak tepat beberapa senti dari leher Aris. Di sekeliling mereka, ratusan mata dari layar publik menatap tajam. Aris adalah noda hitam di papan peringkat yang biasanya berisi daftar elit yang bersih dan teratur. Aris mencoba menggerakkan jari. Sarafnya berteriak menolak, namun ia memaksakan akses ke fragmen memori Menara kuno yang tersimpan di sistemnya.

"Aku... pendaki," bisik Aris, suaranya parau. Ia memicu fragmen memori 001. Cahaya biru elektrik berpendar di balik kulit lengannya, memancar keluar membentuk pola otorisasi yang tidak dikenal oleh database standar Menara. Sistem pengawasan publik berkedip merah, lalu berubah menjadi emas pucat. Label 'Anomali Terdeteksi' melebur dan berubah menjadi 'Pendaki Progresif'.

Kiran turun dari balkon VIP dengan langkah santai yang menghina. Di belakangnya, seorang antek bertubuh gempal dengan lencana peringkat perak maju selangkah. "Inti Memori itu bukan barang yang pantas dipegang oleh sampah sepertimu, Aris," ujar Kiran, suaranya jernih dan meremehkan. "Serahkan, dan aku akan memastikan utang keluargamu dihapus oleh sistem. Melawan, dan kau akan mati sebagai anomali yang gagal di lantai rendah ini."

Antek Kiran menerjang. Gerakannya cepat, khas petarung yang terbiasa dengan suplai energi stabil. Aris tidak menjawab. Ia memicu 'Glitch-Dash', sebuah lonjakan kecepatan instan yang melanggar hukum fisika lantai. Tubuhnya berkedip, muncul di belakang antek tersebut, dan dengan satu hentakan tumit yang presisi, ia mengirim lawan itu tersungkur keras ke lantai marmer. Publik terdiam. Kiran menyipitkan mata, senyum angkuhnya memudar menjadi tatapan penuh kewaspadaan.

Aris segera menyeret tubuhnya ke Terminal Peringkat Sektor Bawah. Ia menempelkan Inti Memori Lantai 1 ke sensor utama. "Otorisasi akses tertunda," suara mekanis sistem bergema, memicu cemoohan dari kerumunan.

"Berhenti membuang waktu, Tikus," ejek Kiran. "Kamu tidak punya hak akses untuk lantai dua."

Aris tidak menoleh. Ia meretas celah protokol yang ditinggalkan arsitek Menara kuno. Bzzzt! Layar terminal berkedip merah terang. Otorisasi paksa memicu alarm keamanan di seluruh lantai. Nama Aris tiba-tiba meroket dari daftar buncit ke posisi tiga digit teratas. Papan peringkat publik berkedip, memicu tawa tertahan dari para elit di lantai atas yang menganggap lonjakan ini hanyalah anomali sistem yang akan segera dikoreksi.

Aris melangkah ke ambang pintu cahaya menuju lantai dua. Begitu kakinya menyentuh lantai tersebut, gravitasi menghantamnya dua kali lipat lebih berat. Tulang-tulangnya berderak, memprotes beban yang tidak wajar. Di hadapannya, peta lantai dua yang tersembunyi berkedip—sebuah labirin gravitasi yang hanya bisa ditaklukkan oleh mereka yang mampu bertahan dari tekanan hukum lantai. Aris berdiri tegak, menatap kamera publik, siap untuk pendakian yang lebih mematikan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced