Novel

Chapter 2: Kesepakatan di Balik Layar

Elena menandatangani kontrak pernikahan yang mengikatnya secara finansial dan sosial kepada Adrian. Di tengah tekanan publik yang memuncak di ballroom, Adrian melakukan tindakan protektif yang posesif untuk menepis rumor, mengukuhkan posisi Elena sebagai pengantin pengganti di depan media.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Kesepakatan di Balik Layar

Ruang kerja eksekutif di lantai dua puluh Hotel Adiwangsa terasa seperti peti mati berlapis beludru. Di atas meja mahoni yang mengilap, dokumen perjanjian pernikahan—sebuah perisai hukum yang sekaligus menjadi jerat—terbuka lebar. Elena menatap deretan pasal yang dingin dan kalkulatif itu. Arini, sepupunya, telah terbang ke luar negeri dengan aset likuid keluarga, meninggalkan Elena untuk memungut puing-puing martabat yang tersisa.

Adrian berdiri di dekat jendela, bayangannya memanjang di lantai marmer, menatap kerumunan tamu di ballroom melalui pantulan kaca. Ia tidak membelakangi Elena karena sopan santun, melainkan karena ia tidak merasa perlu mengawasi mangsanya.

"Arini sudah pergi sejak dua jam lalu," suara Adrian memecah keheningan, datar dan tajam seperti silet. "Aku sudah tahu saat aku memintamu menggantikannya di altar. Jangan berpura-pura terkejut."

Elena merasakan darahnya membeku. "Kau membiarkan skandal ini berkembang agar kau punya alasan untuk menekanku?"

Adrian berbalik. Matanya yang dingin menelusuri Elena, bukan sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang baru saja ia akuisisi. "Aku membiarkan skandal ini berkembang agar kau tidak punya pilihan lain selain menandatangani kontrak itu tanpa banyak menuntut. Kursi dewan direksi membutuhkan citra suami yang stabil, Elena. Arini terlalu tidak terduga, tapi kau? Kau memiliki harga diri yang terlalu tinggi untuk membiarkan keluargamu bangkrut karena ulah sepupumu."

Adrian menyodorkan pena berlapis emas. Di bawahnya, sebuah klausul denda finansial yang masif tertulis dengan huruf tebal: jika Elena membocorkan rahasia pernikahan ini atau menarik diri sebelum masa kontrak selesai, ia akan menanggung utang yang cukup untuk memenjarakan seluruh keluarganya. Tanpa sepatah kata pun, Elena membubuhkan tanda tangannya. Tinta itu terasa seperti rantai yang melilit pergelangan tangannya.

"Bagus," Adrian mengambil dokumen itu. "Sekarang, kenakan gaunmu. Kita punya waktu sepuluh menit sebelum dunia menuntut jawaban."

Di ruang ganti, situasinya jauh dari kata elegan. Ritsleting gaun sutra milik Arini macet di bagian punggung, tersangkut pada kain yang terlalu longgar. Elena menariknya dengan panik, napasnya memburu. Pintu terbuka tanpa ketukan. Adrian masuk, kehadirannya yang dominan memenuhi ruangan hingga udara terasa sesak.

"Berhenti bergerak," perintahnya. Tanpa permisi, Adrian mendekat. Jari-jarinya yang dingin namun presisi menyentuh kulit bahu Elena saat ia menarik ritsleting itu ke atas. Keintiman itu terasa seperti ancaman. "Setiap napasmu mulai detik ini adalah milik publik. Berhenti gemetar, Elena. Jika kau menunjukkan retakan, seluruh rencana ini akan runtuh."

Elena menatap pantulan mereka di cermin. Adrian berdiri tepat di belakangnya, wajahnya adalah topeng ketenangan yang dingin. "Ini bukan tentang perasaan," bisik Adrian di dekat telinganya. "Ini tentang menyelamatkan aset dewan direksi. Jangan buat aku menyesal memilihmu."

Elena menarik napas panjang, menukar sisa rasa takutnya dengan topeng ketenangan yang sedingin es. Ia membalikkan tubuh, siap menghadapi sorot lampu.

Saat pintu ganda ballroom terbuka, riuh rendah tamu elit menyambut mereka seperti ruang eksekusi. Adrian melangkah dengan ketenangan predator, tangannya melingkar tegas di pinggang Elena. Setiap inci kain gaun yang sedikit longgar di bagian dada kini menjadi pengingat fisik atas rahasia yang ia pikul.

"Ingat, Elena. Senyummu adalah aset perusahaan malam ini," bisik Adrian. "Jangan biarkan satu kerutan pun mengkhianati keraguanmu."

Di depan sana, kerabat Elena berdiri dengan wajah pucat, terpaksa bungkam di bawah tatapan tajam Adrian. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Seorang wartawan media bisnis yang agresif menyelinap melalui barisan keamanan, mengarahkan lensa kamera tepat ke wajah mereka.

"Tuan Adrian! Rumor mengatakan ada perubahan mendadak di menit terakhir. Apakah ini pengantin yang sama dengan yang direncanakan dalam merger kemarin?"

Suasana ballroom mendadak hening. Elena merasakan dinding pertahanannya menipis. Namun, sebelum ia sempat merangkai jawaban, Adrian bertindak. Pria itu menarik pinggang Elena dengan gerakan yang sangat posesif dan disengaja, mendekatkan Elena hingga napas mereka beradu di bawah sorot lampu yang menyilaukan.

"Istri saya mengalami sedikit kendala teknis dengan gaunnya, bukan krisis keluarga," ujar Adrian dengan nada dingin yang menekan. Tangannya yang kokoh di pinggang Elena terasa seperti besi panas, sebuah tanda kepemilikan yang tidak bisa dibantah. Lampu kamera wartawan menyilaukan mata mereka saat Adrian merangkul pinggang Elena dengan posesif di depan publik, menyegel nasib mereka di mata dunia.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced