Novel

Chapter 1: Ballroom yang Terbakar

Elena menemukan sepupunya, Arini, telah kabur membawa aset keluarga, meninggalkan Elena dalam ancaman kebangkrutan. Di tengah ballroom yang mulai kacau, Adrian, sang pewaris, memojokkan Elena dengan pilihan: menandatangani kontrak pernikahan atau membiarkan keluarganya hancur. Elena terpaksa menerima tawaran tersebut demi martabat keluarga.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Ballroom yang Terbakar

Bau parfum mawar yang menyengat di ruang ganti eksklusif itu kini terasa seperti aroma pengkhianatan. Elena menatap cermin besar di depannya, namun bayangan yang ia lihat bukan dirinya, melainkan gaun pengantin sutra putih yang tergeletak berantakan di atas sofa beludru. Seharusnya, gaun itu dikenakan oleh sepupunya, Arini, sepuluh menit lagi di depan altar. Namun, ruangan itu kosong. Sebuah amplop berwarna krem terselip di balik tumpukan kain.

Elena membukanya dengan jemari yang tenang, meski di dalam dadanya, ia merasakan keruntuhan. Tidak ada pesan perpisahan yang panjang, hanya deretan angka rekening luar negeri dan sebuah kalimat singkat: “Aku tidak akan membiarkan hidupku berakhir di tangan pria seperti Adrian.”

Elena merasakan dingin yang merambat dari ujung kakinya. Arini bukan sekadar kabur. Ia telah menguras aset likuid perusahaan keluarga tepat sebelum pernikahan yang dirancang sebagai merger penyelamat ini dimulai. Jika pernikahan ini batal, keluarga Elena tidak hanya akan menanggung malu, tetapi juga kebangkrutan total akibat tuntutan hukum yang akan dilayangkan pihak Adrian dalam hitungan menit. Suara musik orkestra di ballroom utama terdengar meredup, digantikan oleh gumaman gelisah para tamu. Elena tahu ia memiliki waktu kurang dari lima menit sebelum manajer hotel masuk untuk menanyakan keberadaan pengantin.

Ia memungut gaun itu. Keputusan itu diambil bukan karena rasa takut, melainkan karena ia adalah satu-satunya yang tersisa untuk menahan kehancuran. Ia tidak akan membiarkan nama ayahnya diinjak-injak oleh skandal yang diciptakan oleh pengecut.

Musik orkestra di Grand Ballroom Hotel Adiwangsa mendadak sumbang, lalu mati sepenuhnya. Keheningan yang menyusul terasa lebih mematikan daripada dentuman musik sebelumnya. Elena berdiri di balik pilar pualam, jemarinya mencengkeram kain gaun pengiring pengantin yang ia kenakan. Di depannya, ratusan pasang mata elit Jakarta mulai beralih dari pelaminan kosong menuju area pintu masuk, mencari sosok pengantin wanita yang tak kunjung muncul.

Di saku gaunnya, sebuah surat ancaman dari penagih utang yang diselipkan Arini di meja rias masih terasa seperti bara api. Jika pernikahan ini batal, aset perusahaan keluarga mereka akan disita dalam waktu kurang dari dua belas jam. Dan Adrian—pria yang berdiri di tengah panggung dengan setelan jas hitam yang membalut tubuhnya dengan presisi tajam—bukanlah tipe orang yang akan membiarkan kerugian bisnis terjadi karena alasan remeh seperti pengantin yang melarikan diri.

Adrian tidak berteriak. Ia hanya berdiri, menyesuaikan jam tangan emas di pergelangan tangannya dengan gerakan lambat yang penuh perhitungan. Matanya yang sedingin es menyapu ruangan, lalu terkunci pada Elena yang bersembunyi di balik bayang-bayang pilar. Tanpa sepatah kata pun, Adrian turun dari panggung. Setiap langkahnya membelah kerumunan tamu yang mulai berbisik, menciptakan jalur hening di tengah kekacauan.

Adrian menutup pintu ruang tunggu privat di belakang mereka, mengunci suara riuh di luar. Tidak ada jejak kepanikan di wajah pria itu, hanya ketenangan kalkulatif yang justru membuat Elena merasa lebih terancam.

"Sepupumu sudah berada di perbatasan negara saat ini, membawa serta dana cair perusahaan yang seharusnya menjadi mahar pernikahan ini," ujar Adrian dingin. Suaranya datar, tanpa emosi, namun setiap kata menghantam Elena seperti pukulan fisik. "Dan keluargamu? Mereka sudah berada di ambang kebangkrutan yang memalukan. Satu berita tentang pembatalan pernikahan ini akan menutup semua akses kredit kalian besok pagi."

Elena merapatkan jemarinya hingga buku-bukunya memutih. Ia menatap Adrian, mencari celah keraguan, namun hanya menemukan tembok dingin. "Aku tidak tahu rencana pelariannya, Adrian. Aku hanya bidak dalam permainan ini, sama seperti dirimu."

Adrian melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga Elena bisa merasakan aura dominasi yang mematikan. Ia menyodorkan sebuah dokumen tebal di atas meja marmer. "Bidak tidak punya suara, Elena. Tapi kau... kau punya nama belakang yang bisa menyelamatkan reputasi keluarga ini. Tanda tangani ini, dan aku akan menutup kerugian itu sebelum orang-orang di luar sana menyadari apa yang sebenarnya terjadi."

Elena menatap kontrak itu. Ia tahu ini adalah awal dari kehancuran pribadinya, namun pilihannya hanya dua: menjadi tumbal atau membiarkan keluarganya hancur berkeping-keping. Sebelum ia sempat berucap, Adrian mencengkeram pergelangan tangannya dengan cengkeraman yang kuat namun terkendali, menariknya mendekat hingga napas pria itu terasa di pelipisnya.

"Jangan lari, atau aku akan menghancurkan apa yang tersisa dari keluargamu malam ini juga," bisik Adrian.

Di luar pintu, suara kilatan lampu kamera wartawan mulai terdengar samar, menandakan bahwa waktu mereka telah habis. Adrian melepaskan tangan Elena, merapikan jasnya, dan menatap Elena dengan tatapan yang menuntut kepatuhan mutlak sebelum mereka melangkah keluar menuju sorotan lampu yang menyilaukan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced