Retakan pada Topeng
Deru sedan hitam Bramantya membelah keheningan malam Jakarta, namun kabin mobil itu terasa seperti ruang kedap suara yang menekan dada Aruna. Di luar, kerlip lampu kota tampak seperti bintang-bintang yang dingin, jauh dari jangkauan. Aruna menatap bayangannya sendiri di kaca jendela; sisa riasan di wajahnya kini terasa seperti topeng yang retak. Dokumen yang dilambaikan Wijaya di ballroom tadi bukan sekadar ancaman—itu adalah belati yang diarahkan tepat ke jantung kontrak mereka.
"Wijaya tidak mungkin mendapatkan dokumen itu tanpa akses ke brankas keluarga," suara Aruna memecah kesunyian, tajam dan lugas. Ia menoleh, menatap profil samping Bramantya yang diterangi lampu jalan yang melintas cepat. &
Preview ends here. Subscribe to continue.