The First Test
Layar holografik di depan Aris berkedip merah—warna yang menandakan kematian bagi siapa pun di Sektor 4. Angka digital itu menyusut tanpa ampun: 00:59:58. Sisa waktu hidupnya sebelum Sistem Menara menghapus eksistensinya secara permanen karena gagal memenuhi kuota pembayaran hutang warisan keluarga. Aris menekan panel kontrol di dinding beton yang lembap, namun yang muncul hanyalah pesan eror: [Akses Ditolak: Peringkat Rendah. Kebutuhan Minimum: Level 10.]
Ia hanyalah debu di bawah kaki para elit, pion yang akan dihapus dari papan permainan saat jam itu menyentuh angka nol. Aris memaksakan pikirannya untuk menembus lapisan kode yang biasanya tersembunyi, sebuah teknik peretasan kasar yang ia pelajari dari Kael. Saat ia menekan antarmuka tersebut, sistem tidak menolak. Layar itu bergetar hebat, memancarkan cahaya biru pucat yang tidak seharusnya muncul pada akun penyintas peringkat bawah.
Bau logam berkarat dan ozon yang terbakar menyengat hidung Aris saat ia melangkah masuk ke sudut terdalam Pasar Gelap Sektor 4. Di atas sana, papan skor raksasa berkedip, menampilkan daftar penyintas yang masih memiliki sisa waktu. Nama Aris berada di urutan paling bawah, dengan hitungan mundur yang terus memangkas sisa napasnya. Kael duduk di balik meja kayu yang penuh dengan sisa artefak. Matanya yang cekung menatap Aris tanpa minat, sampai ia melihat sisa kristal energi yang Aris letakkan dengan gemetar.
"Ini semua yang aku punya, Kael. Semua jatah makan mingguanku," suara Aris serak. "Aku butuh fragmen memori untuk jalur akses lantai pertama. Yang tidak ada di peta standar."
Kael tertawa sinis, suara yang lebih mirip gesekan amplas di logam. "Lantai pertama sudah dipetakan sejak sepuluh tahun lalu, anak muda. Apa yang kau cari? Jalan pintas menuju kematian?"
Aris tidak menjawab. Ia membiarkan Kael melihat sekilas pantulan cahaya merah yang tidak wajar di pupil matanya—sebuah anomali sistem. "Sistemku rusak, Kael. Dan aku satu-satunya yang bisa melihat retakan pada gerbang itu."
Kael terdiam, lalu menyodorkan sebuah kristal retak. "Gunakan ini. Tapi ingat, jika kau melangkah ke rute itu, para elit seperti Vanya akan segera menyadari keanehan pada papan skor. Kau akan menjadi target, bukan lagi sekadar debu."
Aris tidak membuang waktu. Ia berlari menuju Gerbang Lantai 1, napasnya memburu di koridor yang dingin. Lampu neon di langit-langit berkedip sekarat. Di depan gerbang, angka merah menyala dengan ritme yang memuakkan: 00:04:59.
"Kau benar-benar akan melakukannya, Aris?" Suara dingin itu memecah keheningan. Vanya berdiri di belakangnya, tangan bersedekap, menatap Aris dengan tatapan yang lebih tajam dari pisau belati. "Itu bukan rute pendakian. Itu lubang pembuangan. Jika kau masuk, sistem akan mencatat kegagalanmu sebagai anomali. Dan kau tahu apa yang dilakukan elit kepada anomali? Mereka menghapusnya sebelum sistem sempat memberikan peringatan kedua."
Aris tidak menoleh. Ia menempelkan fragmen memori ke permukaan gerbang yang dingin. Kristal itu menyerap data, membuat mekanisme di balik gerbang mengerang keras. Aris melangkah masuk tepat saat detik terakhir berdetak, meninggalkan Vanya yang tertegun di luar. Di balik gerbang, papan skor publik berkedip keras, menampilkan nama Aris di urutan terbawah dengan statistik anomali yang tak terbaca, memicu alarm sistem yang menggema ke seluruh menara.