Novel

Chapter 12: Terobosan Terakhir: Era Baru

Aris menghancurkan inti menara, memutus kendali sistem, dan menjebak Liora serta Kael di dalam keruntuhan. Ia berhasil melangkah keluar menuju dunia luar yang tak terpetakan, di mana sistemnya mulai berevolusi secara mandiri.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Terobosan Terakhir: Era Baru

Inti menara bergetar, mengeluarkan suara dentuman logam yang sekarat. Aris berdiri di tengah ruangan yang remang-remang, napasnya memburu saat ia melihat antarmuka sistem di depannya retak seperti kaca yang dihantam palu. Peringatan merah berkedip liar—SISTEM PEMANENAN ENERGI: NONAKTIF. Angka 200 kredit yang selama bertahun-tahun mencekik lehernya, yang terus menghitung mundur di sudut penglihatannya, kini menghilang menjadi deretan nol yang mati. Beban yang selama ini menekan pundaknya lenyap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.

Langkah kaki terburu-buru bergema di ambang pintu. Liora muncul, napasnya tersengal, gaun perak yang biasanya tampak megah kini robek di bagian bahu. Ia menatap Aris dengan mata yang berkilat penuh kebencian, tangannya terangkat untuk memanggil otoritas menara. "Berhenti, Aris! Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan!" teriak Liora. Ia menekan simbol elit di pergelangan tangannya, namun yang keluar hanyalah percikan api biru yang menyakitkan. "Sistem, aktifkan Protokol Keamanan Tingkat 9! Eksekusi target!"

Keheningan mencekam menyambut perintahnya. Bukan perintah eksekusi yang muncul, melainkan notifikasi sistem yang dingin dan tanpa emosi: Peringatan: Otoritas pengguna 'Liora' tidak terdeteksi. Status: Warga Biasa. Akses ke Protokol Keamanan ditolak. Liora tertegun, wajahnya pucat pasi. Para pengawal yang berdiri di belakangnya kini saling pandang dengan kebingungan, senjata mereka terkulai lemas saat sistem yang selama ini memberi mereka perintah tidak lagi mengakui otoritas sang majikan.

Di sela-sela kekacauan itu, Kael melangkah keluar dari bayang-bayang, senyum licin masih menempel di wajahnya meski tangannya memegang perangkat pencuri data yang berkilau. "Aris, kau berhasil. Sistem rusak itu... luar biasa. Beri aku fragmen terakhirnya. Aku tahu jalan ke dunia luar. Koordinat aman, rute yang bahkan Liora tak pernah sentuh."

Aris tidak bergerak. Matanya tertuju pada layar kecil di pergelangan tangan Kael—layar yang menampilkan koordinat yang sama persis dengan yang dijualnya ke Liora dua hari lalu. "Kau yang bocorkan posisiku," kata Aris datar. Suaranya tidak naik, tapi setiap kata terasa seperti paku. "Kau arsitek di balik utang keluargaku. Kau yang jual data ayahku dulu. Kau yang buat sistem ini menganggap kami sampah."

Kael tertawa pendek, langkahnya mendekat. "Bisnis, saudara. Tapi sekarang kita bisa menang besar. Fragmen itu akan buka pintu penuh. Kau dapat kekuatan, aku dapat... kebebasan."

Ruang inti bergetar hebat. Dinding transparan menunjukkan menara di bawah mulai retak, cahaya biru gerbang memudar cepat. Timer di antarmuka Aris berdetak: 00:47 sebelum total kolaps. Aris mengangkat tangan. Fragmen memori penjara di telapaknya berdenyut lemah. Ia tidak membuang waktu untuk berdebat. Aris mengorbankan fragmen data terakhirnya untuk mengunci pintu ruang inti dari dalam, membiarkan Kael terjebak bersama Liora di dalam sistem yang sedang runtuh. Kael berteriak histeris saat aksesnya ke menara terputus total, wajahnya berubah dari keserakahan menjadi ketakutan murni.

Aris berbalik, menemukan rute rahasia yang terbuka tepat di belakang inti yang hancur. Ini bukan lagi tangga menara biasa, melainkan celah cahaya emas yang berdenyut selaras dengan detak jantungnya. Getaran hebat merobek lantai marmer, memperlihatkan kerangka besi tua yang berderit nyaring. Aris melangkah masuk, meninggalkan beban utang dan status pecundangnya yang telah hancur lebur bersama menara.

Ia tiba di dataran luas di luar menara. Udara di sini terasa berbeda—segar, liar, dan tidak terikat. Aris menatap cakrawala yang tidak terbatas, jauh dari dinding-dinding menara yang mengekang. Sistemnya memberikan notifikasi baru: [Kesalahan Fatal: Otoritas Inti Hilang. Menghubungkan ke Jaringan Eksternal... Gagal. Memulai Protokol Evolusi Mandiri.]

Aris melihat antarmukanya berubah dari warna biru kaku menjadi emas yang tidak dikenal. Ia menyadari bahwa menara hanyalah tutorial, dan tantangan yang sebenarnya baru saja dimulai. Ia bukan lagi sekadar pendaki; ia adalah anomali yang bebas. Aris menatap cakrawala, siap menghadapi bahaya yang lebih besar di dunia yang tak lagi dikendalikan oleh sistem. Petualangan sesungguhnya baru saja dimulai.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced