Harga Kelemahan di Pasar Sekte
“Nama: Raka. Status: Warga kelas bawah. Utang jatuh tempo: tiga koin giok. Skor kelemahan: 19.”
Suara Sari Jala membelah kebisingan Pasar Sekte yang berbau garam laut dan logam berkarat. Di hadapannya, Raka berdiri dengan tangan kosong, sementara dua penjaga pasar dengan zirah kulit kaku telah mengunci sisi kiri dan kanannya. Kerumunan pedagang dan pengumpul rongsokan menepi, menciptakan lingkaran kosong di sekitar meja kayu hitam Sari Jala.
“Dengan skor itu,” lanjut Sari, jari-jarinya yang ramping mengetuk lembar kontrak di atas meja, “kau tidak lagi memiliki nilai ekonomi sebagai warga. Kau adalah aset cacat. Utangmu akan dilunasi dengan menjual sisa masa kerjamu kepada sekte.”
Bisik-bisik mencemooh segera memenuhi udara. Raka menatap papan cahaya di belakang Sari. Angka 19 di sana tampak terlalu rapi, terlalu manipulatif. Di dalam benaknya, fragmen sistem yang rusak—sebuah anomali yang ia temukan di sisa-sisa reruntuhan lantai bawah—berdenyut panas. Ia melihat data yang tak terlihat oleh orang lain: skor kelemahan itu palsu, hasil manipulasi audit yang dipercepat.
“Kau salah membaca protokol, Sari,” ujar Raka tenang. Suaranya tidak bergetar, meski jantungnya berdegup kencang.
Sari Jala mengangkat alis, tatapannya dingin. “Berani membantah prosedur pasar sekte?”
“Bukan membantah. Menguji,” Raka menunjuk angka di papan. “Tiga sampel kondisi terakhirku belum dimasukkan ke sistem pusat. Jika kau mengeksekusi lelang sekarang, itu pelanggaran verifikasi tingkat tinggi.”
Keheningan mendadak menyergap pasar. Sari Jala terdiam, matanya menyipit. Ia tidak takut pada Raka, tapi ia takut pada audit sekte yang bisa membekukan seluruh kiosnya jika terjadi kesalahan administrasi. Dengan satu ketukan kasar di meja, ia memerintahkan, “Tunda lelang tiga puluh menit. Periksa kembali datanya.”
Penjaga menggerutu, namun Raka tidak membuang waktu. Ia tahu ini hanyalah penundaan sementara. Begitu ia melangkah menjauh, ia merasakan tekanan udara di sekitarnya berubah. Lonceng rotasi menara berdentang—tanda rute lama akan ditutup selamanya dalam hitungan menit.
Raka berlari menuju zona transisi, melewati celah sempit di antara kios-kios yang kabel doanya tergantung seperti usus logam. Ia tidak mengikuti jalur resmi yang sudah dijaga ketat. Ia mengikuti tarikan aneh di otaknya, bisikan dari Suara Menara Pecah yang menuntunnya ke celah hukum yang tidak diketahui siapa pun.
Di depan pintu batu yang setengah terbuka, segel kuno bertuliskan RUTE DIHAPUS berpendar redup. Saat ia melangkah masuk, dunia seolah terbalik. Suara bising pasar lenyap, digantikan oleh dengung statis yang menyakitkan. Di depan matanya, antarmuka sistem yang retak muncul:
[MISI DITERIMA: Capai koordinat lantai 7B-Δ sebelum rotasi selesai.] [WAKTU: 00:09:58] [HADIAH: Pemulihan Tier & Penghapusan Utang Pasar.]
Raka memacu langkahnya di koridor yang dindingnya terus bergeser. Setiap detiknya adalah taruhan nyawa. Ketika ia mencapai titik koordinat, ia menabrak dinding cahaya yang terasa seperti pisau es. Tubuhnya bergetar hebat, tulang-tulangnya seolah dipaksa menyatu kembali dengan struktur baru. Tier-nya naik. Rasa sakitnya nyata, tapi kekuatannya terasa di setiap urat nadi.
Saat ia berhasil keluar kembali ke alun-alun pasar, suasana sudah berubah. Papan peringkat publik di pusat pasar sedang diperbarui. Nama Raka yang tadinya terdaftar sebagai Aset Gagal kini bersinar terang: RAKA — PENANTANG TIER 1.
Bima Wisesa, murid elit yang selama ini menguasai pasar, berdiri di dekat tiang utama. Ia menatap Raka dengan kebencian yang tertahan. “Itu bug sistem,” teriak Bima, suaranya sengaja dikeraskan agar didengar semua orang. “Penyintas sampah tidak mungkin naik tier secara sah.”
Sari Jala menatap Raka dengan kalkulasi baru, namun sebelum ia sempat bertindak, papan pasar kembali berkedip liar. Sebuah notifikasi merah besar memenuhi alun-alun:
[PERINGATAN SISTEM: Gerbang rotasi akan mengunci seluruh akses lantai bagi non-anggota sekte dalam 00:05:00.]
Kerumunan panik. Raka menyadari bahwa kenaikan tier-nya hanyalah permulaan. Menara baru saja menutup rute lama, dan jika ia tidak segera masuk kembali ke lantai yang lebih tinggi sebelum lima menit berakhir, ia akan terkunci di pasar ini selamanya sebagai budak tanpa akses. Bima Wisesa mulai berjalan mendekat, pedangnya sedikit terangkat, siap menghentikan Raka di depan gerbang.