Pilihan Terakhir
Pagi di penthouse itu datang seperti putusan yang belum dibacakan: rapi, dingin, dan tak memberi ruang untuk banding. Arini berdiri di ujung meja sarapan yang belum disentuh siapa pun. Di samping piring porselen, ponselnya menyala lagi dengan notifikasi dari asisten: portal bisnis memajang judul baru—nama Arini kembali ditautkan ke “jangkar suksesi.”
Berita itu bukan sekadar gosip. Itu paku terakhir yang menahan reputasinya di papan nama orang lain.
Di seberang meja, Bramantya menutup map krem yang tadi terbuka. Ia tidak minum kopinya; cangkirnya masih penuh, permukaannya utuh seperti belum ada satu pun hal baik yang layak disentuh pagi ini.
“Kontrak habis minggu depan,” katanya. Suaranya datar, tetapi ibu jarinya menekan tepi map seolah kertas di dalamnya punya tajam sendiri. “Aku tawarkan dua jalan. Kita perpanjang enam bulan, atau kita ubah pertunangan ini jadi nyata di depan publik dan dewan.”
Arini menatapnya tanpa berkedip. “Kamu menyebut itu pilihan karena kamu pikir aku masih bisa dibujuk oleh kata yang dibungkus rapi?”
“Tidak.”
Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu jujur. Dan justru karena itu, Arini merasa lebih waspada.
Ia menarik ponselnya, mematikan layar yang terus memuntahkan judul-judul yang sama: foto hotel bocor, pengacara yang dikeluarkan dari akses internal, spekulasi tentang siapa yang menjual cerita itu ke media. Nama Bramantya dan namanya sendiri sudah menjadi b
Preview ends here. Subscribe to continue.