The Cost of Protection
Dina melangkah masuk ke ruang tunggu kantor hukum dengan langkah berat, napasnya terasa sesak meski udara AC berhembus dingin. Gosip yang berputar terus di sekelilingnya terasa seperti badai yang tak kunjung reda—mengancam hak asuh anaknya yang kini menggantung di ujung benang tipis. Di tangannya, ponsel bergetar halus. Sebuah pesan baru masuk dari Mira, dingin dan tanpa ampun, mengingatkan tentang file lama yang bisa menghancurkan segala yang telah Dina perjuangkan.
"Kamu tahu ini bukan sekadar ancaman biasa, Dina," suara Raka tiba-tiba memecah keheningan, masuk ke ruangan dengan langkah mantap. Wajahnya yang biasanya tenang kini menegang, menggambarkan beratnya situasi. "Kita harus bertindak cepat. Aku sudah hubungi pengacaraku. Langkah hukum akan aku mulai hari ini juga."
Dina mengangkat pandangan, bertemu dengan mata tajam Raka yang penuh tekad. Ada sesuatu lebih dari sekadar perlindungan di sana—sebuah risiko yang harus mereka hadapi bersama. "Apa kau yakin? Ini bisa membuka pintu masalah yang lebih besar," suaranya bergetar, menahan kekhawatiran yang menggerogoti.
Raka mengangguk pelan, nada suaranya berat dengan kesungguhan. "Aku tahu. Tapi membiarkan Mira bermain-main dengan file itu sama saja bunuh diri untuk reputasi dan warisan keluarga. Aku tidak akan biarkan dia menginjakmu, apalagi aku."
Ruang konferensi itu terasa semakin sempit, bayang-bayang perceraian dan kontrak pertunangan palsu yang baru mereka jalani membayangi lebih nyata. Dina merasakan beban yang tak hanya berasal dari luar, tapi juga dari perjanjian yang mengikatnya erat pada Raka.
Beberapa jam kemudian, Dina dan Raka duduk berhadapan dalam ruang rapat pribadi kantor hukum. Di atas meja kaca terbentang sebuah map berisi dokumen dan rekaman digital yang Raka buka perlahan.
"Lihat ini," Raka berkata, matanya tak lepas dari layar yang menampilkan potongan rekaman dan surat-surat bertanda tangan tangan keluarganya serta nama mantan suami Dina. "Mira tidak main-main. File ini bukan hanya senjata politik. Ini menyangkut warisan keluarga aku."
Dina mengernyit, beban semakin berat terasa. "Jadi ini bukan hanya tentang aku?"
Raka mengangguk pelan, suaranya rendah namun tegas. "Betul. Jika file ini bocor, reputasi keluarga aku hancur. Dan itu berarti perlindungan yang aku berikan padamu juga akan runtuh."
Kontrak pertunangan palsu yang baru saja mereka tandatangani terasa semakin berat, bukan hanya soal penampilan publik atau gosip yang menghantui, tapi jebakan hukum dan sosial yang semakin rapat menjerat mereka.
Dina menatap Raka, ada campuran rasa takut dan pemberontakan dalam matanya. "Aku tidak mau jadi alat permainan, Raka. Tapi aku juga tidak punya pilihan lain."
Raka menyentuh dokumen di depannya, menunjuk pada bagian-bagian yang tampak seperti bukti lama pengkhianatan. "Mira tahu ini bisa memaksa kita menyerah atau hancur. Tapi aku memilih untuk bertarung. Bersama kamu."
Hari-hari berikutnya membawa tekanan yang kian memuncak. Di sela-sela kesibukan mengatur ulang dokumen kontrak dan mempersiapkan diri untuk acara amal keluarga Raka besok sore, Dina terus menerima pesan yang menyingkap bisik-bisik dan gosip lama yang mulai menyeruak kembali. Media sosial dan grup pesan menjadi medan perang baru yang mengancam reputasi dan hak asuhnya.
Mira dengan dingin dan terencana menyebarkan rumor yang mengaitkan Dina dengan skandal masa lalu yang hampir terkubur. Setiap pesan yang masuk menambah beban di pundak Dina, namun ia menolak tunduk.
Di ruang pribadi Raka, ketegangan juga terasa. Wajahnya yang biasanya dingin kini menampilkan retakan kerentanan. Ia membuka pesan baru dari Mira yang mengancam akan membuka rahasia yang tak hanya bisa meruntuhkan reputasi Dina, tapi juga meledakkan warisan keluarganya.
"Aku tahu ini berisiko," ucap Raka dalam suara rendah dan berat, "tapi aku tak akan biarkan dia menghancurkan semuanya. Perlindungan ini bukan cuma soal kamu, tapi juga menjaga nama keluargaku."
Dina mendengar itu, merasakan beban baru yang harus mereka pikul bersama. Perlindungan yang Raka tawarkan datang dengan harga yang tak murah, dan kini kedekatan mereka mulai berbalut ketegangan yang tak bisa diabaikan.
Ketegangan itu mencapai puncaknya saat Mira tiba-tiba muncul di kantor hukum dengan sebuah map cokelat lusuh yang diacungkannya seperti senjata.
"Ini bukan hanya gosip atau ancaman kosong," suaranya dingin, tajam seperti pisau. "File lama ini—salinan asli—menyimpan bukti pengkhianatan yang melibatkan Dina dan mantan suaminya."
Dina menekan ujung jarinya di atas meja kayu gelap, napasnya tersengal. Seluruh kontrak pertunangan palsu yang selama ini dianggap perisai kini berubah menjadi pedang bermata dua.
Raka mengambil map itu dengan tangan sedikit bergetar. Matanya menyapu cepat isi dokumen. "Ini bukan hanya masalah reputasi Dina. Jika file ini bocor, warisan keluargaku terancam," ucapnya dengan suara yang penuh tekanan.
Dina menatap Mira, suara tegasnya menggema di ruangan itu. "Apa maksudmu membawa ini ke sini?"
Mira tersenyum dingin tanpa ragu. "Aku di sini bukan untuk bermain-main. Aku ingin kalian tahu, pertunangan palsu ini bukan hanya soal perlindungan atau gosip. Ini perang yang sebenarnya. Dan aku sudah menyiapkan langkah berikutnya."
Dina merasakan beban yang jauh lebih berat daripada sekadar gosip atau fitnah. Pertunangan palsu yang ia jalani ternyata terjerat dalam konflik lama yang mengancam masa depan, reputasi, dan warisan yang selama ini ia perjuangkan.
Langkah Raka yang berani dan tegas memberi perlindungan, tapi juga membuka pintu risiko baru yang tak bisa Dina abaikan. Mereka harus bersatu lebih erat, namun dengan konsekuensi yang belum sepenuhnya mereka pahami.
Di ujung bab ini, sebuah pertanyaan besar menggantung: seberapa jauh Dina siap melangkah menghadapi pengkhianatan lama yang mulai terkuak, dan apa harga sebenarnya dari perlindungan yang ia dapatkan?
Sementara itu, acara amal keluarga Raka besok sore menjadi panggung pertama mereka sebagai pasangan pertunangan palsu, di mana segala bisik-bisik dan tekanan publik akan diuji lebih nyata lagi.
Konflik semakin mengeras, dan Dina tahu: pertarungan ini baru saja dimulai.