The Contract Clause
Dina mendorong pintu kaca kantor hukum dengan telapak tangan yang lembap. Udara AC langsung menyengat, bercampur aroma kayu jati dan kopi hitam yang sudah dingin. Di luar, hujan deras Jakarta sore itu membuat jalanan macet total, tapi di dalam ruangan ini, setiap detik terasa lebih berat daripada banjir yang menggenangi trotoar.
"Bu Dina, silakan duduk," kata pengacara muda itu tanpa senyum. Suaranya datar, seperti sedang membacakan dakwaan. "Kami tahu perceraian Anda baru selesai dua minggu lalu. Gosip sudah menyebar di grup WA ibu-ibu sekolah dan lingkaran kantor mantan suami. Hak asuh anak Anda terancam jika reputasi terus turun seperti ini."
Dina menarik kursi pelan. Lututnya nyaris gemetar, tapi ia paksa punggungnya tetap tegak. Ia bukan tipe yang memohon. Tapi hari ini ia datang karena tidak punya pilihan. Mantan suaminya, dengan keluarga besarnya yang berpengaruh, sudah mulai menebar cerita bahwa Dina-lah yang ceroboh dan tidak bertanggung jawab. Uang ganti rugi yang dijanjikan masih macet, sementara tagihan sekolah anaknya menumpuk di meja.
Di sudut ruangan, seorang pria berdiri diam. Jas hitamnya rapi, tapi bahu tegang. Raka. Dina hanya pernah bertemu dengannya dua kali—sekali di acara keluarga jauh, sekali lagi saat negosiasi aset perceraian. Kini pria itu menatapnya dengan mata yang sulit dibaca: bukan iba, melainkan sedang menimbang risiko.
Pengacara mendorong map kontrak ke tengah meja kaca. "Solusinya adalah pertunangan sementara dengan Pak Raka. Bukan pernikahan sungguhan, hanya pertunangan yang cukup meyakinkan di mata publik dan pengadilan keluarga. Enam bulan. Setelah itu bisa diputus diam-diam. Ini akan menutup mulut gosip, melindungi hak asuh anak Anda, dan memberi posisi tawar lebih kuat terhadap keluarga mantan suami."
Dina menatap kertas itu. Kata "pertunangan palsu" tercetak tegas di klausul pertama. "Kenapa harus saya?" tanyanya, suara tetap tenang meski dada sesak. "Pak Raka punya banyak pilihan perempuan yang lebih... sesuai."
Raka menarik kursi di seberangnya dan duduk. Suaranya rendah, terkendali. "Karena saya juga butuh ini. Keluarga saya sedang menghadapi sengketa warisan yang rumit. Pertunangan dengan Anda—wanita yang baru bercerai tapi dikenal mandiri—akan membungkam tuduhan bahwa saya terlalu sibuk bisnis sehingga tak pernah serius menikah. Tapi ini bukan gratis, Bu Dina. Setiap kata di ruangan ini bisa menjadi bukti di pengadilan nanti."
Dina merasakan dingin menjalar di tulang punggung. Ia tahu Raka bukan pahlawan. Pria ini punya kepentingan sendiri. Tapi tatapannya tidak bohong—ada beban yang lebih berat di balik tawaran itu.
Ia membaca klausul demi klausul. Pasal tentang penampilan publik minimal tiga kali sebulan, larangan hubungan intim yang jelas, dan kewajiban menjaga rahasia bersama. Jika salah satu pihak melanggar, denda hukum dan kerugian reputasi langsung berlaku. Di halaman terakhir ada klausul kecil: "Semua rekaman dan dokumen lama yang saling diketahui harus disimpan bersama sebagai jaminan."
Dina menggenggam pulpen. Garis putih samar masih terlihat di jari manisnya—bekas cincin kawin yang sudah ia lepas. "Kalau saya tolak?"
"Besok pagi berita tentang perceraian Anda yang 'bermasalah' akan semakin kencang," jawab pengacara. "Hak asuh anak bisa digugat lagi."
Raka mencondongkan tubuh sedikit. "Saya tidak memaksa. Tapi saya tahu Anda bukan tipe yang suka kalah. Ini transaksi. Anda dapat perlindungan nama saya. Saya dapat penutup untuk urusan keluarga."
Dina menatap mata Raka lama. Di balik ketenangan itu, ia melihat ketegangan—seperti pria yang juga sedang bertaruh segalanya. Bukan kasih sayang. Bukan romansa. Hanya dua orang yang terpojok oleh luka masing-masing.
Ia menandatangani.
Tinta hitam mengering cepat di kertas. Pengacara mengangguk singkat, mengumpulkan dokumen, lalu keluar ruangan untuk memberi mereka privasi sesaat.
Dina bangkit. Lututnya masih lemas. "Sekarang apa?"
Raka berdiri juga. "Besok sore kita harus muncul bersama di acara amal keluarga saya. Foto pertama. Senyum. Pegangan tangan kalau perlu. Gosip akan mulai menyebar malam ini juga—seseorang di gedung ini pasti sudah bocor."
Dina mengangguk kaku. Ia berjalan ke pintu, tapi suara Raka menghentikannya.
"Satu lagi," katanya pelan. "Mira menghubungi saya tadi pagi. Dia bilang punya salinan file lama yang melibatkan Anda dan mantan suami. Kalau file itu keluar, bukan hanya reputasi Anda yang hancur. Warisan keluarga saya juga bisa ikut terbakar."
Dina berhenti. Nama Mira saja sudah membuat perutnya mual. Pengkhianatan lama yang ia kubur dalam-dalam kini bangkit kembali karena ia berani bangkit dari perceraian.
Raka melangkah mendekat—tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk Dina merasakan kehangatan tubuh pria itu di udara dingin. "Karena itu, pertunangan ini bukan lagi pilihan. Ini garis pertahanan pertama. Saya akan lindungi Anda dari Mira. Tapi Anda harus ingat, saya juga sedang melindungi diri sendiri."
Dina menoleh. Untuk pertama kalinya sore itu, ia melihat di mata Raka bukan hanya perhitungan bisnis, melainkan tekad yang tajam dan sedikit kerapuhan yang cepat disembunyikan.
Ia tidak menjawab. Hanya keluar dari ruangan dengan langkah lebih tegar daripada saat masuk tadi.
Di dalam tasnya, kontrak itu terasa berat seperti batu. Ia sudah menandatangani jebakan yang sempurna: satu langkah untuk menyelamatkan anaknya, tapi sekarang ia terikat pada pria yang rahasianya sama berbahayanya dengan rahasianya sendiri.
Malam ini, gosip pertama pasti sudah beredar di ponsel-ponsel ibu-ibu kota. Besok, ia harus berdiri di samping Raka di depan kamera, sementara Mira mengasah pisau dari bayangan.
Dan Dina tahu, ia tidak bisa mundur lagi. Bukan karena cinta. Bukan karena takut. Tapi karena untuk pertama kalinya setelah perceraian, ia punya senjata—meski senjata itu bernama Raka, dan harganya masih belum terhitung sepenuhnya.