Bayangan di Balik Neon
Lampu neon di distrik komersial berkedip liar, memantul di genangan air hujan seperti tumpahan oli beracun. Aris menarik tudung jaketnya lebih rendah, menyembunyikan wajah di balik bayang-bayang papan reklame elektronik yang masih memajang wajah Dian—pewaris yang hilang—dengan senyum yang kini terasa seperti ejekan. Sembilan puluh enam jam tersisa. Waktu bukan lagi sekadar angka; itu adalah detak bom yang menghitung mundur kehancuran hidupnya.
Di saku jaketnya, ponsel yang ia gunakan untuk mengakses data fasilitas medis te
Preview ends here. Subscribe to continue.