Lelang Amal yang Berdarah
Lobi Gedung Lelang Amal Nusantara adalah ruang hampa yang diisi aroma parfum mahal dan kebohongan yang terukur. Empat puluh delapan jam menuju penutupan tender properti kota, Arjuna berdiri di depan pintu masuk. Setelan jas abu-abu yang ia kenakan—diambil dari koleksi cadangan di brankas pribadinya—memiliki potongan tajam tanpa label, jenis struktur yang hanya dikenali oleh penjahit yang melayani kelas penguasa.
Dua penjaga bertubuh tegap menghalangi jalannya. Mereka adalah anjing penjaga bayaran kartel, disewa khusus untuk memastikan tidak ada pihak yang tidak diinginkan mengganggu lelang data transaksi rahasia malam ini.
"Nama Anda tidak ada dalam daftar VIP, Tuan," ujar penjaga yang lebih tua, matanya memindai Arjuna dengan tatapan merendahkan. "Undangan hanya untuk sponsor utama. Silakan pergi sebelum kami memanggil pengamanan gedung."
Arjuna tidak membuang napas untuk berdebat. Ia mengeluarkan kartu akses hitam tipis—bukan undangan, melainkan kunci akses audit properti yang ia sita dari berkas manipulasi tender beberapa hari lalu. Ia menempelkannya ke pemindai. Lampu indikator berubah hijau dengan bunyi bip yang tajam. Penjaga itu tertegun, kerut di dahinya menunjukkan kebingungan saat sistem keamanan gedung mengakui otoritas kartu tersebut sebagai akses tingkat tinggi. Arjuna melangkah masuk tanpa menoleh, meninggalkan para penjaga yang masih terpaku pada terminal mereka.
Di dalam, suasana lelang adalah panggung kemunafikan yang teratur. Para elit kota duduk melingkar, memamerkan kekayaan mereka di atas meja berlapis kain hijau. Di baris depan, Bramantyo duduk dengan angkuh. Ia adalah predator yang terbiasa memangsa aset-aset lemah seperti Restoran Kencana. Saat Arjuna melangkah masuk ke baris VIP, suasana ruangan seketika berubah. Bramantyo menoleh, bibirnya melengkung menjadi senyuman sinis.
"Lihat siapa yang datang," seru Bramantyo cukup keras untuk menarik perhatian seisi ruangan. "Seorang menantu yang hanya bisa mencuci piring kini mencoba bermain di meja orang dewasa? Apa kau tersesat, atau kau pikir jam tangan murah itu cukup untuk membeli kursi di sini?"
Arjuna tetap tenang, tatapannya dingin. Ia duduk tepat di samping Bramantyo, mengabaikan ejekan tersebut seolah-olah itu hanyalah suara latar yang tak berarti. "Aku di sini untuk memastikan bahwa apa yang seharusnya menjadi milik publik, tidak berakhir di tangan pencuri," jawab Arjuna datar.
Lelang dimulai dengan barang-barang mewah, namun Arjuna tidak tertarik. Fokusnya adalah pada item terakhir: 'Data Transaksi Sektor Properti'. Ketika juru lelang membuka tawaran, Bramantyo langsung mematok harga yang tidak masuk akal, berharap bisa mematikan langkah siapa pun yang berniat membongkar skema kartelnya.
"Sepuluh miliar," teriak Bramantyo. Ruangan mendadak sunyi.
Arjuna mengangkat papan angkanya. "Dua puluh miliar."
Bramantyo menoleh dengan mata menyipit, wajahnya memerah. "Tiga puluh miliar!"
"Lima puluh miliar," sahut Arjuna tanpa ragu. Ia menggunakan dana cadangan dari aset properti yang baru saja ia audit secara legal. Bramantyo terdiam, napasnya memburu. Ia tidak bisa lagi menawar tanpa menguras likuiditas perusahaannya yang sedang dalam pengawasan hukum. Palu lelang diketuk. Kemenangan Arjuna mutlak.
Bramantyo menatap Arjuna dengan kebencian yang mendalam, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan akses ke bukti kejahatannya sendiri. Namun, kemenangan itu tidak berakhir di sana. Saat Arjuna bergerak ke area belakang untuk mengambil data tersebut dari server, ia berpapasan dengan seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan militer yang sangat rapi.
"Arjuna? Prajurit kelas satu dari Divisi Intelijen Taktis?" suara itu berat dan berwibawa. Itu adalah Letnan Kolonel (Purn) Wiryawan, mantan komandannya.
Arjuna membeku. Ia tidak berbalik, mengatur detak jantungnya agar tetap stabil. Ia mematikan terminal portabelnya, menyimpan bukti data kartel yang baru saja ia unduh ke dalam saku jasnya. Ia berbalik, wajahnya datar dan kosong.
"Anda salah orang, Pak," jawab Arjuna dengan nada dingin yang terukur. "Nama saya Adrian. Saya di sini untuk urusan akuisisi properti, bukan untuk bernostalgia tentang masa lalu militer yang tidak relevan."
Wiryawan menyipitkan mata, aromanya yang khas—tembakau dan besi—menusuk indra penciuman Arjuna. "Tidak mungkin. Bekas luka di pergelangan tangan kirimu... aku masih ingat saat kau terluka di medan operasi perbatasan. Kau Arjuna. Pahlawan yang dianggap gugur lima tahun lalu."
Arjuna menatap mata mantan komandannya dengan tatapan yang mampu membekukan nyali siapa pun. Ia menggunakan teknik disorientasi psikologis yang dingin, menekan otoritas militernya tanpa sepatah kata pun. Wiryawan tampak ragu, ingatannya mulai goyah di bawah tekanan tatapan Arjuna. Menggunakan kesempatan itu, Arjuna melangkah pergi dengan tenang, keluar dari gedung sebelum keamanan kartel menyadari ada penyusup yang baru saja mencuri masa depan mereka. Di luar, ia segera menelepon Maya. "Data sudah di tangan. Siapkan restoran, perlawanan kita dimulai hari ini."